The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 67



Entah mengapa setelah mematikan panggilan telepon dengan Kinan, Adrian masih senyum-senyum sendiri. Selama ini, dia memang jarang berinteraksi secara dekat dengan lawan jenis. Bisa dikatakan Adrian memang tidak pernah berinteraksi dengan wanita secara intens.


Meskipun Adrian sudah pernah menikah, namun, dia tidak sedekat itu dengan Barbara, mantan istrinya. Mantan istri Adrian yang merupakan publik figur, membuatnya lebih banyak berada di lokasi syuting daripada di rumah.


Hal itu juga yang membuat Adrian dan Bara memutuskan untuk mengakhiri hubungan pernikahan mereka. Adrian dan Bara sudah merasa tidak ada lagi yang harus dipertahankan oleh keduanya dari pernikahan tersebut.


Perpisahan yang terjadi di antara mereka memang sudah sejak satu tahun yang lalu. Mereka memang sengaja merahasiakan hal itu dari keluarga dan publik. Baik Adrian dan Bara sama-sama tidak mau menghadapi tarik ulur yang akan dilakukan oleh keluarga mereka masing-masing.


Setelah cukup dengan proses persidangan, ternyata pihak media sudah mencium berita tentang perpisahan Bara dan Adrian. Sontak saja hal itu membuat ramai pemberitaan di berbagai media. Mau tidak mau, keluarga Adrian dan Bara pun akhirnya mengetahui perpisahan mereka.


Setelah mematikan panggilan telepon, Adrian langsung bersiap untuk beristirahat. Esok hari, dia masih harus menyelesaikan pekerjaannya agar bisa segera menyusul Kinan. Eh,


Hal yang sama juga dilakukan oleh Kinan. Dia segera membereskan makanan yang dikirimkan oleh Adrian dan bergegas untuk beristirahat. Esok hari, Kinan harus bersiap lebih pagi untuk memulai acara seminar yang sudah dijadwalkan.


Keesokan pagi, acara seminar sudah dimulai. Hampir seluruh peserta mengikuti dengan antusias. Hal yang sama juga dirasakan oleh Kinan. Selain itu, dia merasa beruntung mendapatkan teman baru dari berbagai daerah.


Istirahat siang dilakukan selama dua jam sebelum agenda sore hari di lanjutkan. Untuk acara malam hari, hanya dijadwalkan untuk melakukan evaluasi singkat sebelum dilaksanakannya makan malam bersama.


Selama dua hari penuh, jadwal Kinan benar-benar padat. Dia bahkan tidak sempat membuka ponsel sama sekali jika tidak sedang beristirahat. Untuk malam harinya, Kinan akan langsung terlelap karena tubuhnya sudah merasa capek.


Hari terakhir, akan dijadwalkan untuk penutupan pukul satu siang. Para peserta diklat diberi waktu untuk menikmati wisata di daerah sekitar siang hingga malam hari. Untuk check out hotel, baru akan dilakukan esok hari pada pukul sepuluh pagi.


Saat memasuki lobi, Bu Ayunda sempat berhenti sebentar sambil mengusap-usap perut buncitnya. Ya, Bu Ayunda kini memang tengah berbadan dua. Beliau mengandung anak ketiga. Saat ini, usia kandungan Bu Ayunda sudah memasuki bulan ke tujuh.


"Kenapa, Bu?" tanya Kinan sedikit panik.


"Nggak ada apa-apa, Miss. Ini Si Dedek geraknya cepet banget. Hehehe." Bu Ayunda berusaha mengulas senyumannya.


"Oh, saya kira kram perut. Saya khawatir. Teman saya suka begitu soalnya."


"Oh ya? Sudah diperiksakan?" tanya Bu Ayunda penasaran.


"Sudah, Bu. Hampir setiap dua minggu sekali dia harus periksa kandungan. Bahkan, jika ada yang tidak nyaman di perutnya, dia pasti akan segera pergi ke dokter kandungan."


"Eh, sering begitu ya periksanya? Apa itu anak pertama?" tanya Bu Ayunda penasaran.


"Iya, Bu. Maklum, dia hamil tiga orang bayi kembar. Triplet."


"Eh, ti-tiga?"


Scroll ya