
Keesokan harinya, Fara sudah mempersiapkan segala keperluan sang suami. Setelan kemeja yang akan dipakai El lengkap dengan jasnya. El keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya yang masih basah.
"Mas, semua keperluan kamu sudah aku siapkan disini. Aku bantu mommy di dapur dulu, ya." Kata Fara sambil menoleh menatap wajah sang suami.
"Nggak bantu aku, Yang?"
"Eh, bantu apa lagi? Ini semua sudah aku siapkan semuanya, Mas. Sudah lengkap kok."
"Ya, bantu pakaikan dong."
"Ccckkk. Memangnya kamu anak kecil apa. Malu sama umur, Mas." Jawab Fara sambil beranjak pergi keluar kamar. Sementara El yang melihat hal itu hanya bisa mendengus kesal.
Fara berjalan menuju dapur untuk membantu mommy Vanya menyiapkan sarapan. Hari itu, asisten rumah tangga sudah kembali setelah libur lebaran beberapa hari yang lalu.
"Pagi, Mom. Maaf aku terlambat." Sapa Fara yang sudah berada di dapur.
Mommy Vanya menoleh menatap Fara yang berjalan ke arahnya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu bantu El bersiap-siap ke kantor saja dulu. Dia suka ribut jika memulai aktivitas barunya." Kata mommy Vanya sambil melanjutkan aktivitasnya menata sarapan.
"Sudah kok, Mom. Tadi sudah aku siapkan setelan kerja untuk mas El."
"Eh, El mau pakai setelan formal?" Tanya mommy Vanya. Pasalnya mommy sudah hafal dengan sifat putranya yang tidak mau memakai pakaian formal tersebut.
"Mau kok, Mom. Semalam aku sudah membujuknya dan mas El bersedia memakainya."
"Hhhmmm, pasti ada imbalannya kan?" Goda mommy Vanya.
Seketika Fara terkejut mendengarnya. Dia merasa malu saat mendengar godaan sang mommy mertua. Fara juga masih bingung dari mana mommy Vanya bisa mengetahui hal tersebut.
Wajah Fara langsung merona sambil menunduk. Mommy Vanya yang melihat hal itu langsung tertawa. Ternyata tebakannya benar, batin mommy.
"Hahahaha, benarkan tebakan Mommy. El itu persia seperti daddy nya. Dia pasti akan meminta imbalan jika harus melakukan sesuatu yang tidak disukainya. Dan setelah menikah, mommy bisa tahu imbalan apa yang mereka minta." Kata mommy sambil masih tertawa heboh.
Fara semakin malu saat mommy bisa menebak dengan benar apa yang diinginkan putranya. Melihat Fara masih malu, mommy segera mendekat dan mengusap lengan Fara.
"Nggak usah malu. Justru Mommy sangat senang jika kalian sering-sering melakukannya. Biar Mommy dan Daddy segera punya cucu. Kkkkkkk." Kata mommy Vanya.
Fara hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya setelah mendengar perkataan mommy Vanya.
"Aamiin. Doakan kami segera diberi momongan, Mom." Kata Fara.
Belum sempat Fara menyahuti perkataan mommy Vanya, terdengar suara daddy Kenzo dari ujung tangga.
"Fara hamil, Sayang? Aku akan punya cucu?" Tanya daddy Kenzo penuh semangat.
Dibelakang daddy Kenzo, menyusul El yang juga sudah siap dengan pakaian kerjanya. Hanya saja, dia masih menenteng jasnya di lengan kirinya. El juga sedikit terkejut dengan perkataan mommy Vanya. Pasalnya, kemarin dan tadi malam, dia tidak mengendorkan serangan terhadap sang istri. Mendadak El langsung panik membayangkannya.
Fara dan mommy Vanya langsung menoleh menatap wajah para suami. Kening mereka berkerut saat mendapati dua orang laki-laki yang berjalan ke arah mereka.
"Eh, siapa hamil? Aku belum hamil kok." Jawab Fara sambil menggelengkan kepalanya.
Seketika El bernapas lega. Bukan berarti dia tidak menginginkan Fara hamil, tapi mengingat aktivitas terakhir mereka, benar-benar membuat El khawatir.
"Buka puasanya juga baru kemarin, Dad. Habis gini deh kami akan lembur, doakan saja biar cepat jadi. Aku nggak mau kalah saingan sama Mommy dan Daddy yang setiap malam selalu bergulat. Memangnya Mommy mau memberikan aku adik lagi?" Kata El.
"Sembarangan kalau ngomong. Jika daddy kamu mengijinkan, mungkin sudah sejak dulu kamu punya adik sebelas." Kata mommy Vanya sambil mendengus kesal.
"Eh, mau buat kesebelasan?" El langsung menoleh menatap wajah mommy Vanya.
"Maunya mommy begitu. Berhubung daddy kamu melarang, mommy serahkan kepada kalian."
"Eh, gawangnya bagaimana?"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Scroll ya, semoga cepet lolos review.
Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote buat othor. Terima kasih.