The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 30



Seketika Rean dan Dena memutus tatapan mereka. Keduanya langsung menunduk karena malu tengah kepergok saling bertatapan. Melihat tingkah sang putri dan calon menantunya, papi Dena hanya bisa terkekeh.


"Bagaimana, Sayang? Apa kamu menerima pinangan ini?"


Belum sempat Dena menjawab perkataan sang papi, Rean sudah lebih dulu bersuara.


"Ehem, sebelumnya saya minta maaf, Om. Mungkin miss Dena masih sedikit ragu dengan saya," ucap Rean hingga menarik perhatian semua yang hadir. Tak terkecuali miss Dena. Rean menatap manik mata Dena dengan tatapan penuh keyakinan.


"Ehm, sebelumnya saya minta maaf Miss, jika saya lancang karena terlalu berani melakukan ini. Mungkin, miss Dena masih merasa ragu menerima pinangan saya karena perbedaan usia kita. Selain itu, karena saya juga berstatus sebagai mahasiswa Anda. Tapi, terlepas dari itu semua, saya benar-benar serius dan bersungguh-sungguh untuk menjadikan Anda sebagai istri saya."


"Meskipun saya baru berusia sembilan belas tahun, tapi saya akan tetap berusaha untuk menjaga dan membahagiakan Anda. Saya akan berusaha untuk tetap memprioritaskan kebahagiaan dan kenyamanan Anda, Miss."


"Saya tidak bisa menjanjikan pernikahan yang tanpa ada masalah, Miss. Tapi, saya berjanji akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Anda. Dan, ketika Anda menerima pinangan ini, semua tanggung jawab terhadap Anda, akan mulai berpindah kepada saya. Saya berjanji akan berusaha sebaik mungkin untuk mengemban tanggung jawab tersebut," kata Rean dengan penuh keyakinan.


Dena yang mendengar perkataan Rean langsung terpana. Entah mengapa jangungnya berdebar dengan hebat setelah mendengar perkataan yang dianggapnya seperti bocah tersebut.


Kedua netra Dena dan Rean masih terkunci. Mereka saling bertatapan seolah membaca isi hati masing-masing dari tatapan mata. Hingga sebuah tepukan lembut dari papi Dena menyadarkan Dena.


"Bagaimana, Nak? Apa kamu menerima pinangan ini?" tanya papi Dena sambil menatap lembut putrinya.


Dena menoleh ke arah papi dan maminya. Keduanya sama-sama tersenyum dan mengangguk untuk memberi dukungan. Melihat hal itu, Dena semakin mantab untuk menerima pinangan tersebut


"Dengan mengucap bismillah, saya menerima pinangan ini."


Plong. Itu yang dirasakan oleh Rean dan keluarganya. Seketika terdengar ucapan hamdalah dari semua orang yang hadir malam itu. Tak terkecuali Rean yang berulangkali mengucapkan syukur dalam hati. Rasa yang mengganjal sedari tadi di dalam hatinya, langsung luruh seketika. Rean merasa seolah apa yang menjadi bebannya selama ini terasa terangkat.


"Alhmdulillah. Pak Bia, Bu Revina dan juga Nak Rean, Dena setuju untuk menerima pinangan ini. Mulai saat ini, Dena dan Nak Rean sudah resmi menjadi calon suami istri," ucap papi Dena.


Semua orang pun tampak menganggukkan kepala. Setelah itu, prosesi tukar cincin pun dilakukan. Acara foto-foto untuk kenangan pun juga sudah dilakukan. Baik Dena maupun Rean masih sama-sama canggung untuk berdekatan. Namun, keduanya tetap berusaha untuk terlihat biasa.


Setelah itu, acara dilanjutkan dengan membicarakan pernikahan yang akan digelar beberapa minggu lagi. Kedua keluarga sepakat untuk menggelar acara pernikahan tersebut pada tanggal yang sudah disepakati bersama.


Dena mendusukkan diri di samping Shanum yang sedang menemani twins bermain. "Ehm, hai. Kita belum berkenalan. Aku Dena. Kamu pasti kakak Rean, kan?" Dena menatap Shanum dengan senyuman hangatnya.


Shanum menoleh dan tersenyum membalas Dena. Kepalanya mengangguk, "Iya, aku Shanum." Shanum mengulurkan tangannya.


"Dena. Maaf, aku belum sempat memperkenalkan diri sebelum ini."


"Tidak apa-apa. Kita punya waktu seumur hidup untuk saling mengenal, hehehe."


Dena langsung tersipu malu saat mendengar ucapan Shanum. "Ehm, aku memanggilmu bagaimana?" Dena tampak ragu-ragu menanyakan hal itu kepada Shanum.


Shanum yang mengerti maksud pertanyaan Dena pun langsung tersenyum. "Panggil sister, saja. Atau mommy twins juga boleh. Asal jangan memanggil 'kak' aku merasa risih," bisik Shanum sambil terkekeh geli.


Seketika Dena tergelak mendengar perkataan Shanum. Dia mengangguk-anggukkan kepala menyetujui perkataan sang calon kakak ipar. Setelah itu, dia meminta izin untuk mencoba menggendong Dryn.


Rean yang sudah selesai makan malam berjalan menghampiri kakak dan calon istrinya tersebut. Dia menghampiri Dena yang sedang duduk membelakanginya.


"Kenapa bisa gemoy seperti ini, Sis. Jadi gemes pengen gigit," ucap Dena sambil menciumi pipi Dryn.


Belum sempat Shanum menjawab perkataan Dena, sudah terdengar suara dari balik tubuhnya.


"Aku juga bisa membuatkan yang tak kalah gemoynya dengan Dryn. Aku jamin, goyanganku nanti bisa membuat yang lebih lucu dari putra kak Shanum."


"Eh?"


\=\=\=\=


Siapkan amplop beserta isinya ya. Otewe kondangan nih 🤭