The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 85



Kinan memeluk tubuh mamanya dengan erat. Hal yang sama juga dilakukan oleh sang mama.


"Mama minta maaf jika apa yang mama dan Bu Sinta lakukan terkesan memaksa kamu, Nak. Tapi, percayalah. Kami melakukan ini karena kami benar-benar sangat sayang kepada kalian."


"Kamu tahu sendiri, kita hanya tinggal berdua setelah Papa kamu meninggal sejak tiga belas tahun yang lalu. Dan kamu, belum juga menikah. Mama hanya khawatir jika nanti suatu saat tidak ada yang menamani kamu jika Mama sudah tidak ada."


Kinan langsung melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah sang mama dengan tatapan tidak suka.


"Ma, jangan bicara seperti itu. Aku tidak suka. Mama harus terus menemani Kinan sampai nanti. Apa Mama tidak ingin melihat dan bermain dengan anak-anak Kinan nanti?" Kedua mata Kinan langsung berkaca-kaca.


Mama Kinan mengulas senyumannya dan langsung menangkup wajah Kinan dengan kedua tangannya. Dikecupnya kening putri semata wayangnya tersebut dengan penuh kasih sayang.


"Tentu saja Mama mau, Sayang. Sudah lama Mama menantikan hal itu. Mama ingin di masa pensiun Mama nanti, akan ada banyak cucu yang menemani Mama."


Kinan hanya bisa menganggukkan kepala dan menghamburkan pelukan kepada sang mama. Malam itu, Kinan dan Mama saling mengeluarkan unek-uneknya.


Sementara di sebuah hotel, hal yang sama juga dilakukan oleh Mama Adrian. Beliau mendatangi kamar sang putra dan mengajaknya berbicara. Adrian adalah tipe orang yang keras kepala. Namun, sang mama tahu jika Adrian tidak akan pernah bisa menolak keinginan orang tuanya.


Mama Adrian memasuki kamar putranya sambil membawakan kopi. Dia melihat Adrian tengah tidur tengkurap sambil menonton televisi. Di depannya ada sebuah kertas yang berisi lafadz ijab kabul yang akan diucapkannya esok hari. Rupanya, Adrian sedang berusaha menghafalkannya.


"Kopinya, Sayang," ucap mama Adrian sambil meletakkan secangkir kopi di atas nakas. Mama Adrian tahu jika putranya akan membutuhkan kopi agar pikirannya menjadi lebih tenang.


Mama Adrian mendudukkan diri di samping sang putra. Beliau mengusap-usap punggung putranya tersebut dengan penuh kasih sayang.


"Kamu marah sama Mama dan Papa, Yan?" tanya mama.


Adrian menghembuskan napas berat sebelum menggelengkan kepala. 


"Tidak, Ma. Aku tidak mungkin marah kepada mama dan papa. Tapi, aku hanya sedikit kecewa. Kenapa melakukan hal sebesar ini tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Ini hidup Iyan, Ma. Dua kali aku menikah dengan tanpa keinginanku sendiri. Apa memang seperti ini yang mama dan papa inginkan?" Adrian mengatakan hal itu sambil sedikit menoleh ke arah mamanya. Setelah itu, dia kembali fokus pada layar televisi yang ada di depannya.


Mama Adrian bukannya marah mendengar apa yang diucapkan sang putra. Namun, mama berusaha memahami apa yang dirasakan oleh Adrian.


"Yan, mama dan papa minta maaf untuk semuanya. Terutama untuk pernikahan kamu yang pertama. Waktu itu, kamu tahu sendiri kita berada di posisi yang tidak akan mungkin menolak keinginan kakek. Mama dan papa tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu kamu waktu itu."


"Kami sebenarnya juga tahu jika Kamu dan Bara sama sekali tidak ingin menikah. Kami tahu jika kalian tidak saling mempunyai perasaan satu sama lain dan tidak ingin saling mencoba membuka hati."


"Sama seperti yang kamu rasakan, mama dan papa juga berada di posisi yang sulit saat itu. Satu-satunya cara untuk membantu kamu adalah dengan membiarkan kamu dan Bara membuat surat perjanjian tersebut."


Geser jempolnya untuk like dan komen ya, jika masih sepi, othor selingkuh dulu ke sebelah. 🤭