The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 119



"Sebenarnya ada apa sih, Mom?" Lagi-lagi Cello bertanya kepada sang mommy. Dia benar-benar penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh daddynya.


"Nanti saja biar daddy kamu yang jelaskan. Sekarang, kamu bersih-bersih dulu sana," jawab mommy Fara.


Cello yang mendengar jawaban sang mommy hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Meskipun begitu, mau tidak mau Cello segera beranjak membersihkan diri.


Malam itu, setelah makan malam Cello kembali membantu Shanun untuk menidurkan sang putra. Beruntung produksi asi Shanum benar-benar berlimpah. Dia bahkan bisa menyimpan beberapa botol asi di freezer. Jadi, jika salah satu putranya ada yang menangis dan belum kebagian asi, Shanum bisa meminta tolong yang lainnya untuk memberikan asi dari botol susu.


"Mas, kakak sudah tidur?" tanya Shanum sambil menoleh ke arah Cello yang tengah memangku sang putra di sofa dekat box bayinya. Sementara Shanum sedang berada di atas tempat tidur bersama dengan baby Dryn.


"Belum nih. Sepertinya masih belum kenyang dia."


"Habis ini gantian sini. Adik sudah bobok kok ini."


"Iya." Jawab Cello sambil menolehkan kepalanya ke arah Shanum. Kedua bola matanya sesekali melirik ke arah pabrik nutrisi yang kini sudah disabotase oleh kedua jagoannya.


Shanum yang menyadari hal itu langsung menatap ke arah Cello.


"Ada apa, Mas?"


Cello segera menghembuskan napas beratnya sambil mengalihkan pandangan matanya. Bisa-bisa dia akan ikut menyabotase pabrik nutrisi tersebut dan tidak akan membanginta dengan pra jagoannya.


"Hhhh, itu pabrik kenapa semakin hari semakin menggoda iman sih, Yang?" jawab Cello sambil memperhatikan sang putra yang tengah dipangkunya.


Shanum yang sudah paham dengan apa yang dimaksudkan oleh sang suami hanya bisa tersenyum tipis. Dia bisa memahami apa yang dirasakan oleh Cello. Mengingat dulu, sang suami benar-benar tidak bisa lepas dari pabrik idolanya tersebut.


"Menggoda iman bagaimana? Aku kan nggak menggoda siapa-siapa, Mas. Kamu tahu sendiri aku nggak ngapa-ngapain. Ini juga hanya nyusuin adik,"


"Ya itu, kamu setiap saat selalu memamerkan pabrik nutrisi. Aku kan jadi ikut mupeng, Yang." Gerutu Cello sambil menatap ke arah Shanum dengan tatapan memelasnya.


"Mupeng bagaimana? Aku kan nggak melakukan hal aneh-aneh, Mas."


"Buka-bukaan di sembarang tempat bisa mengakibatkan sesak semuanya, Yang. Sesak napas, dan yang pasti sesak celana."


"Mana ada itu sesak celana, ada-ada saja kamu itu, Mas." Jawab Shanum sambil beranjak untuk memindahkan baby Dryn ke dalam box bayinya. Setelah itu, dia mengambil alih baby Drew dari gendongan Cello dan mulai menyusuinya.


"Aku kapan dapat bagiannya, Yang?" tanya Cello sambil beranjak berdiri mengikuti Shanum.


"Beneran?!" tanya Cello antusias.


"Iya. Tapi pegang-pegang saja ya. Sambil bantu pompa asinya."


Lagi-lagi Cello hanya bisa mencebikkan bibirnya.


"Ccckkk, kalau itu sih hanya pemanasannya, Yang. Finishingnya nggak ada."


"Ya finishingnya nanti manual saja, Mas."


Mau tidak mau, Cello hanya bisa pasrah setelah mendengar jawaban Shanum.


Beberapa saat kemudian, daddy El meminta bantuan Cello untuk memeriksa beberapa file. Sebenarnya, itu hanya akal-akalan daddy El untuk berbicara empat mata dengan sang putra.


"Ada apa, Dad?" tanya Cello begitu dia memasuki ruang kerja sang daddy.


"Duduk dulu, Cell. Ada yang ingin daddy bicarakan."


Cello menuruti perintah sang daddy. Kini, mereka berdua sudah duduk berhadapan dengan ruang kerja tersebut.


"Daddy ingin meminta bantuan kamu kali ini. Ini tentang perusahaan. Kamu tahu perusahaan kita sudah mulai merambah wilayah Asia. Lambat laun, perusahaan ini akan ikut bersaing dengan perusahaan dari Eropa, bahkan Amerika."


"Kamu tahu benar bagaimana yang cara kerja mereka. Bisa dikatakan teknik dan strategi mereka berbeda dengan apa yang selama ini kita pakai di perusahaan ini. Oleh karena itu, daddy meminta bantuan kamu kali ini. Kamu adalah satu-satunya penerus daddy dan kakek kamu."


Kening Cello berkerut setelah mendengar perkataan sang daddy. Dia masih belum bisa menebak ke arah mana pembicaraan tersebut.


"Maksudnya, aku harus membantu bagaimana, Dad?"


"Kamu harus ikut pelatihan di Kanada selama enam sampai dua belas bulan. Dari pelatihan tersebut, kamu bisa memiliki wawasan yang lumayan bagus tentang strategi yang banyak dipakai oleh perusahaan-perusahaan besar di mancanegara. Kamu juga akan terjun langsung ke beberapa perusahaan internasional nanti."


Seketika kedua bola mata Cello membesar setelah mendengar penuturan sang daddy.


"Selama itu, Dad?! Bagaimana dengan Shanum dan twins?"


Hhmm, kira-kira bagaimana ya 🤔