
Shanum langsung mendengus kesal setelah mendengar perkataan sang suami. Dia mencubit perut Cello hingga membuat si empunya langsung mengaduh.
"Aduuhh, Yang. Sakit ih, ngapain cubit-cubit perut," kata Cello sambil mencebikkan bibirnya.
Shanum masih mendelik ke arah sang suami.
"Apa itu maksudnya PPKM?
"Percobaan Pertama Kegiatan Merem-melek. Rean kan belum pernah mencobanya. Hehehe,"
Seketika Shanum dan Rean yang masih berada di sana pun langsung melongo setelah mendengar perkataan Cello. Mereka sama-sama mencebikkan bibirnya setelah itu.
"Apaan sih, Kak?!" Gerutu Rean. Pasalnya, dia cukup malu setelah mendengar perkataan sang kakak ipar.
Rean memang sudah menceritakan hal itu kepada Cello. Dia juga sempat meminta saran kepada kakak iparnya tersebut.
"Hehehe, nggak usah malu begitu, Re. Yang pasti, kamu bicarakan dulu dengan istri kamu. Aktivitas itu bukan hanya untuk kepuasan diri sendiri, tapi juga untuk menjalin ikatan batin agar lebih kuat. Jangan hanya satu orang yang menikmati, tapi juga harus keduanya."
Rean langsung mengangguk mengiyakan. Setelah itu, dia langsung pamit pulang. Shanum yang masih tertegun dengan perkataan Cello hanya bisa menatap sang suami dengan dengan kening berkerut. Cello yang menyadari hal itu, langsung menoleh.
"Ada apa, Yang?"
"Kok tumben kamu bener ngomongnya, Mas?"
"Eh, memang tadi aku ngomong apa?"
"Ya itu tadi, yang jangan hanya satu orang yang menikmati, tapi harus dua-duanya."
"Oh, kalau itu mah jelas, Yang. Nggak adil kan jika hanya aku yang menikmati. Makanya, aku selalu minta nambah agar kamu juga bisa menikmati, bukan hanya aku saja yang menikmati, Yang." Jawab Cello dengan senyuman lebarnya.
Puk.
"Itu sih maunya kamu saja, Mas." Gerutu Shanum. Dia benar-benar tidak habis pikir kenapa sang suami bisa seabsurd itu. Shanun hanya bisa berharap Cello tidak mewariskan sifat ajaibnya itu ke kedua buah hati mereka.
Beberapa hari berlalu, Cello dan Shanum sedang mempersiapkan ujian semester mereka. Beruntung mommy Fara selalu siap menjaga Drew dan Dryn sementara kedua orang tuanya tengah mempersiapkan ujian semester.
Siang itu, daddy El terlihat sudah rapi. Dia memang tidak ke kantor hari itu, karena akan langsung menemui kolega bisnis barunya dari Rusia. Mereka berencana untuk mengadakan pertemuan di sebuah restoran saat makan siang.
"Jadi berangkat sekarang, Mas?" tanya mommy Fara saat melihat daddy El sudah siap dengan outfitnya.
"Iya, Yang. Ini langsung berangkat."
Kening mommy Fara langsung berkerut saat melihat pakaian yang dipakai oleh sang suami.
"Kenapa pakai baju casual begitu, Mas?" Tanya mommy Fara sambil mengerutkan keningnya.
"Ini kan masih belum resmi, Yang. Kami juga sepakat untuk melakukan pertemuan di luar kantor agar suasananya sedikit berbeda. Mr. Collin kan baru pertama kali ini bekerja sama dengan perusahaan dari Indonesia."
Mommy Fara hanya bisa menganggukkan kepalanya. Tapi, entah mengapa dia merasakan sesuatu yang tidak nyaman saat sang suami hendak berangkat. Meskipun begitu, dia tetap mempercayai sang suami.
Tak berapa lama kemudian, daddy El langsung berangkat menuju restoran yang sudah dijanjikan dengan Mr. Collin. Mereka akan membahas beberapa rencana kerja sama sebelum secara resmi menandatangani kontrak kerjasama tersebut.
Daddy El langsung menuju sebuah meja yang memang sudah dipesannya kemarin. Ternyata, Mr. Collin belum datang. Daddy El langsung menempati kursi di meja tersebut. Daddy El mengotak atik ponselnya sambil menunggu kedatangan Mr. Collin.
Tak berapa lama kemudian, terdengar sebuah panggilan menyapa daddy El. Dia langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Elleon?!"
Nah lho, siapa lagi itu? 🤔