The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 82



Menjelang makan siang, mobil yang dikemudikan Rean sudah memasuki halaman rumah papi Hendra. Mulai hari ini hingga kondisi Dena sudah membaik, Rean dan Dena akan tinggal sementara di rumah papi Hendra.


Mami Rida segera membantu membawakan barang-barang Dena. Sementara Rean, segera membopong sang istri menuju kamarnya. Meskipun sudah beberapa kali Rean melakukannya, namun entah mengapa Dena masih saja merasa malu. Wajahnya selalu bersemu merah.


Rean membawa Dena menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Awalnya, mami Rida meminta mereka pindah ke kamar tamu yang berada di lantai bawah. Namun, Dena tetap memaksa untuk menempati kamarnya karena dia tidak mau memindahkan barang-barangnya. Akhirnya, mau tidak mau Rean dan Dena tetap menempati kamar yang berada di lantai dua.


Mami Rida mengekori Rean yang sedang membopong Dena menuju kamarnya. Mami juga langsung membantu merapikan tempat tidur, begitu Dena sudah disana.


"Papi kapan kembali dari Semarang, Mi?" tanya Dena begitu sudah duduk nyaman di atas tempat tidurnya.


"Kemungkinan lusa. Menurut jadwal, acaranya selama empat hari."


Dena mengangguk-anggukkan kepala. Belum sempat Dena menanggapi perkataan sang mami, tiba-tiba asisten rumah tangga mereka memberitahukan jika ada tetangga yang meninggal dunia tadi pagi. Mami Rida buru-buru bersiap untuk melayat kesana.


Rean yang siang itu baru saja selesai mandi, langsung bergegas menghampiri sang istri. Rean yang menggunakan celana pendek dan kaos rumahan, langsung menaiki tempat tidur di samping Dena.


Seperti biasa, dia tak bosan-bosannya menatap wajah sang istri. Bahkan, dengan tidak tahu malunya Rean langsung menciumi pipi kiri sang istri. Dena yang sudah sejak beberapa hari yang lalu diperlakukan seperti itu oleh Rean, hanya bisa menundukkan kepala. Dia masih merasa malu.


"A-apaan sih, Mas? Nggak bosan apa melakukan hal itu setiap hari?" Dena masih menunduk dengan wajah bersemu merah.


"Mana ada bosan untuk hal ini, Yang? Aku nggak akan pernah bosan. Sini, cium dulu." 


Dengan pedenya Rean menyodorkan pipi kanannya di depan Dena. Sontak saja mendorong bahu sang suami. Bisa-bisanya Rean melakukan hal itu siang-siang. Eh.


"Apaan sih, malu tau." Wajah Dena semakin memerah.


Bukan Rean namanya jika mudah menyerah. Dia kembali mendekatkan wajahnya di depan wajah Dena.


Dena menggelengkan kepala sambil masih menunduk. Selama beberapa hari ini, dia baru tahu jika sang suami ternyata adalah laki-laki yang sangat musem alias mesum. Rean tidak ada capek-capeknya menempel kepada Dena. Bahkan, hampir setiap saat dia selalu memberikan kecupan pada wajahnya. Hanya saat ada mama Rida atau orang lain saja Rean berhenti melakukannya. Setelah mereka tidak ada, bisa dipastikan dia akan mulai melancarkan agresinya kepada sang istri.


"Bu-bukan begitu, Mas." Dena masih tidak berani mengangkat wajahnya. Entah mengapa jantungnya selalu berdebar-debar saat berdekatan dengan Rean seperti itu.


Rean menggeser tubuhnya semakin dekat kepada Dena. Dengan tidak tahu malunya, dia mencium pipi Dena dengan lembut.


"Kita sudah berjanji untuk memulai pernikahan kita dengan baik, kan? Jadi, mulai sekarang jangan malu-malu lagi."


Dena menoleh sedikit ke arah Rean. Keningnya berkerut. Mereka memang bersepakat untuk mulai menjalani pernikahan ini dengan baik. Namun, bukan yang seperti ini juga, batin Dena.


"Ta-tapi bukan seperti ini juga. Memangnya kamu nggak bosan melakukannya setiap saat, Mas?"


"Sudah ku bilang aku tidak akan pernah bosan. Seenak ini mana mungkin bosan. Sekarang, cium aku." Lagi-lagi Rean mendekatkan pipi kanannya di depan wajah Dena.


Meskipun masih merasa malu, Dena akhirnya memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya. Namun, bukan Rean namanya jika tidak memanfaatkan kesempatan. 


Saat wajah Dena sudah semakin dekat dengan pipinya, tiba-tiba Rean menoleh. Sontak saja hal itu membuat kedua bibir mereka bertemu. Dena cukup terkejut dengan kejadian tiba-tiba tersebut. Dia langsung memundurkan wajahnya karena malu.


"Astaga, Yang. Ternyata kamu maunya cium bibir, ya?"


\=\=\=


Dena be like ….