The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 50



Di dalam kamar, Rean terlihat menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Hal itu di ulanginya beberapa kali hingga tubuhnya menjadi sedikit rileks. 


Sementara di luar kamar, Dena masih terlihat gelisah sambil *******-***** amplop yang digenggamnya. Selama ini, dia memang tidak terlalu banyak berinteraksi dengan laki-laki. Kalaupun sempat berinteraksi, dia juga tidak pernah harus berdebat dengan mereka.


Dena masih mondar mandir di depan pintu. Dia benar-benar merasa sangat bersalah. Sebenarnya, Dena ingin meminta maaf kepada Rean saat itu. Namun, dia mengurungkannya. Dena berpikir jika Rean pasti masih merasa kesal. Jadi, dia mengurungkannya hingga esok pagi.


Setelah itu, Dena segera beranjak menuju kamarnya setelah memeriksa pintu apartemen. Dia langsung membersihkan diri dan segera beristirahat.


Pagi hari, Dena terlihat mengulat di tempat tidur. Meskipun dia masih mempunyai jatah cuti tahunan empat hari lagi, Dena sudah bertekad untuk memulai kehidupan barunya dengan Rean. Hal pertama yang ingin dilakukannya adalah meminta maaf.


Dena melihat jam dinding, dan cukup terkejut. Saat itu, sudah jam lima lewat. Dena buru-buru ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan sikat gigi. Setelah itu, dia segera bergegas ke dapur. 


Dena merutuki kecerobohannya karena telat bangun. Niat hati ingin meminta maaf kepada Rean dengan membuatkannya sarapan, namun justru dia bangun terlambat. 


Dena bergegas menuju dapur. Dia melirik sekilas kamar Rean yang masih tertutup rapat. Dena pikir, mungkin Rean masih tidur. Dia merasa sungkan untuk membangunkannya. 


Karena pagi itu dia bangun terlambat, Dena memutuskan untuk membuat nasi goreng. Dengan cekatan, Dena menyiapkan semua bumbu dan bahan yang diperlukan. Setelah semua siap, Dena segera mulai memasak nasi goreng.


Tak berapa lama kemudian, Dena sudah selesai membuat nasi goreng. Dia segera menyiapkannya pada dua buah piring. Dengan senyuman lebarnya, Dena bergegas menuju meja makan. Namun, langkah kakinya terhenti saat melihat secarik kertas tergeletak di atas meja makan tersebut.


Kertas yang ditindih gelas tersebut berisi sebuah pesan. Dena buru-buru meletakkan piring yang dibawanya di atas meja makan, dan segera mengambil kertas tersebut.


Dia membaca pesan yang terdapat di kertas tersebut dengan hati campur aduk. Entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak.


Aku mendadak harus ke Surabaya. Aku mengambil penerbangan pertama pagi ini. Maaf tidak membangunkanmu untuk berpamitan. Jaga diri baik-baik.


Rean.


Tubuh Dena terasa lemas. Dia langsung berpegangan pada ujung meja agar tidak jatuh. Jantungnya berdegup kencang. Pikiran buruk langsung menghantamnya.


"Ada apa? Kenapa ke Surabaya sepagi ini? Kenapa tidak membangunkanku? Apa semarah itu kamu padaku sampai tidak berpamitan, Re?" Gumam Dena. Tak terasa air matanya langsung luruh begitu saja. Rasa sesak langsung menyerangnya.


Dena juga mengurungkan niatnya untuk menghubungi mertuanya. Dia merasa malu jika harus bertanya kepada mama Revina. Cukup lama Dena termenung di atas kursi makan tersebut. Hingga sebuah bel menyadarkannya. 


Dena segera beranjak dan buru-buru membuka pintu setelah memeriksa siapa yang datang ke apartemennya pagi itu.


Ceklek.


Dena membuka pintu apartemen lebar-lebar. Dia cukup terkejut saat melihat banyaknya barang belanjaan ada di depan pintu apartemennya.


"Mami?"


***


Sementara di bandara Juanda, pesawat Rean baru saja mendarat. Begitu keluar dari bandara, Rean langsung mencari taksi. 


Ddrrrtt drrttt drrttt.


Ponsel Rean yang sudah menyala, berbunyi beberapa kali. Dia segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut untuk menyambungkan panggilan.


"Hallo, Fan. Bagaimana?"


"Kebakaran sudah bisa di atasi, Re. Kamu tenang saja. Api tidak menjalar hingga depan."


"Syukur alhamdulillah. Aku sudah di jalan ini, Fan. Sebentar lagi sampai."


"Oke. Hati-hati."


\=\=\=


Jangan lupa tinggalkan jejak buat othor ya 🤧