The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Nasehat



"Sebagai istri, jangan sampai menolak ajakan suami ya Zi," kata ibu.


Vanya yang masih belum mengerti maksud ibu hanya menatap ibunya sambil mengernyitkan dahi. "Ajak kemana Bu?" Tanya Vanya dengan polosnya.


"Ke surga," jawab ibu sekenanya.


"Hhhaaahhh, mau bunuh diri?!" Tanya Vanya seketika. Tuk. Ibu mengetuk dahi Vanya dengan ujung jarinya.


"Ndak usah aneh-aneh deh Zi," jawab ibu sambil memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. Sementara Vanya masih diam sambil memanyunkan bibirnya. "Jika suami minta untuk dilayani, kamu sebisa mungkin jangan menolaknya, dosa. Jangan suka membantah perkataan suami, jika itu baik." Lanjut ibu.


Vanya yang sudah mulai paham arah pembicaraan ibu menganggukkan kepalanya. Ibu melanjutkan makannya, sementara Vanya menemani di dekat ibu. Setelah selesai, Vanya membantu ibu membereskan makanannya. 


Saat itu, jam dinding sudah menunjukkan pukul 19.56. Vanya segera melangkahkan kakinya ke ruang tamu untuk menemui Kenzo. Namun, ketika sampai di ruang tamu, Vanya tak mendapati Kenzo di sana. Vanya melihat pintu terbuka dan melangkahkan kaki ke teras depan. Vanya menoleh ke samping kanan. Terlihat Kenzo duduk dipan kecil yang ada di ujung teras dekat tanaman bunga mawar ibu sambil mengotak atik ponselnya.


"Sedang apa Mas, di luar dingin. Cepet masuk gih," kata Vanya sambil berjalan mendekat.


Kenzo menoleh sebentar untuk memandang Vanya yang tengah berjalan ke arahnya. 


"Ngecheck email dari Reyhan," jawab Kenzo.


"Dilanjutkan di dalam gih, ibu sudah buatkan wedang jahe," kata Vanya yang segera di angguki oleh Kenzo. 


Kenzo beranjak dari duduknya dan berjalan menuju meja makan mengikuti Vanya. Di sana sudah ada ibu yang menyiapkan wedang jahe untuk Kenzo, dan juga kopi untuk Vanya dan ibu. Mereka duduk mengitari meja ruang makan berbentuk lingkaran itu.


"Maaf Nak, jika tempat kami terasa kurang nyaman bagimu," kata ibu memulai percakapan. "Maklum, rumah di desa seperti ini," lanjut ibu.


"Ah tidak Bu, saya sangat nyaman di sini. Udaranya benar-benar bersih. Jarang sekali kendaraan lewat sini. Ayem rasanya," jawab Kenzo sambil mengulas senyumnya.


"Alhamdulillah jika Nak Ken merasa nyaman disini. Nanti jika sudah menikah, sering-sering kesini ya," pinta ibu.


"Iya Bu, insyaAllah," jawab Kenzo.


"Iya Bu, silahkan," kata Kenzo.


"Sebelumnya ibu mau bertanya kepada kalian, benarkah kalian sudah yakin dengan keputusan untuk menikah?" Tanya ibu.


Kenzo dan Vanya saling berpandangan. Mereka seolah saling bertanya hanya melalui tatapan mata. Vanya dan Kenzo beralih menatap ibu bersamaan dan mengangguk yakin.


"Iya Bu, insyaAllah kami yakin," jawab mereka bersamaan.


Entah mengapa setelah menjawab itu ada perasaan menghangat yang menjalar di hati Kenzo dan Vanya.


"Syukulah, ibu bahagia mendengarnya," kata ibu. "Nak, pernikahan itu bukan hanya menyatukan antara seorang laki-laki dan perempuan. Namun, pernikahan itu juga merupakan penyatuan antar dua keluarga besar. Semakin banyak orang, semakin banyak juga pendapat, semakin banyak juga problem yang akan kalian hadapi. Ibu minta kalian harus saling mendukung, saling menguatkan, saling bahu membahu menjalani rumah tangga ini. Jika ada masalah, jangan sampai diumbar, jangan sampai dibawa keluar. Sebisa mungkin dibicarakan baik-baik," kata ibu.


Vanya dan Kenzo yang mendengarnya mengangguk bersamaan. 


"Iya Bu, kami akan berusaha sebaik mungkin menjalani pernikahan ini. Kami hanya meminta restu ayah dan ibu untuk pernikahan kami ini," kata Kenzo.


Vanya yang mendengar perkataan Kenzo segera menoleh menatap Kenzo. Bagaimana mungkin orang ini bisa mengatakan hal itu dengan yakin, seolah-olah dia beneran akan menjalankan pernikahan ini dengan baik, batin Vanya.


.


.


.


.


.