
Siang itu, daddy El dan juga Zee mengobrol tentang banyak hal. Terkadang, mereka terlihat sangat serius. Namun, tak jarang juga mereka terlihat tertawa-tawa hingga terpingkal-pingkal. Ya, seabsurd itulah persahabatan mereka berdua.
"Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Om Vanno?"
"Alhamdulillah baik. Papa sudah pulang sejak dua hari yang lalu."
"Alhamdulillah. Aku harap, om Vanno bisa segera pulih."
"Aamiin. Sekarang sih, papa masih di rumah aunty."
"Aunty Za?"
"Iya."
"Lho, sudah pindah ke Jakarta?"
"Sudah. Sejak papa sakit, aunty dan keluarganya pindah ke Jakarta. Uncle Al juga memilih pegang rumah sakit di Jakarta."
Daddy El hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah itu, obrolan mereka berlanjut hingga menjelang petang. Zee segera berpamitan setelah beberapa kali mendapatkan pesan dari sang istri.
Daddy El tidak menceritakan pertemuannya dengan Cassandra. Menurutnya, Cassandra tidak akan berani untuk berbuat nekat.
Malam itu, seluruh keluarga daddy El berkumpul setelah makan malam. Mereka berkumpul sambil menceritakan banyak aktivitas harian mereka. Mommy Fara yang saat itu tengah memangku Dryn menoleh ke arah sang suami yang terlihat sedang memainkan ponselnya.
"Kamu ngapain sih, Mas? Dari tadi main ponsel terus. Lagi chat sama siapa? Sepenting itu sampai nggak konsen ditanya Cello," gerutu mommy Fara.
Seketika daddy El mendongakkan kepalanya. Dia menatap wajah istri dan putranya. Tampak wajah sendu menghiasi wajahnya.
"Aku berkirim pesan dengan Zee, Yang."
"Zee? Bukannya dia tadi baru dari sini?"
"Iya. Dia mengajak kerjasama untuk membuka usaha baru, Yang. Tadi dia sudah membicarakannya."
"Lalu, kamu menyetujuinya Mas?" tanya mommy Fara.
"Aku sih menyetujuinya, Yang. Tapi, nanti aku akan memasrahkan semuanya kepada Cello."
Daddy El menghembuskan napas beratnya setelah mendengar perkataan Cello.
"Dengarkan Daddy, Cell. Usaha baru yang ditawarkan Om Zee ini memang masih baru di Indonesia. Tapi, Om Zee yakin jika usaha ini bisa berkembang. Gen, putra Om Zee akan membuat program untuk game edukasi ini, sedangkan kamu, akan memegang manajemennya."
Cello masih belum mempunyai gambaran dengan apa yang dikatakan oleh daddynya tersebut.
"Tapi Dad, aku sama sekali belum pernah melakukannya. Daddy kan tahu apa yang selama ini aku kerjakan. Bidang itu, sama sekali baru bagiku. IT?"
"Semua hal itu perlu dicoba, Cell. Jangan pernah berhenti untuk belajar. Meskipun bidang ini masih baru bagimu, tapi tidak ada salahnya belajar. Kemampuan itu tidak akan datang dengan sendirinya tanpa belajar dan diasah, Cell."
Cello menoleh menatap wajah mommy dan sang istri. Dia masih terlihat ragu karena belum mempunyai gambaran apapun tentang proyek yang dibicarakan oleh sang daddy.
"Tapi, aku masih belum mempunyai gambaran apapun tentang hal itu, Dad."
"Nanti kamu bisa bertemu dengan Gen. Dia akan menjelaskan hal itu kepadamu nanti."
"Kak Gen sudah kembali ke Indonesia?" tanya Cello. Pasalnya, dia tahu jika Gen tinggal di Jerman untuk melanjutkan kuliahnya bersama dengan istri dan putranya.
"Sudah, kok. Gen sudah hampir setengah tahun ini pulang ke Indonesia."
"Benarkah? Waahh, bisa minta resep baru lagi, nih" kata Cello dengan wajah berbinar bahagia.
Ya, Cello memang sudah mengenal Gen yang berbeda sekitar dua tahun di atasnya tersebut. Mereka memang sudah kenal sejak kecil karena kedua orang tuanya memang bersahabat.
Kening Shanum berkerut saat mendengar jawaban sang suami.
"Apa maksudnya itu meminta resep?" tanya Shanum penasaran.
"Resep mengatur gaya untuk mengasah tombak, hehehe."
Cerita baru othor, Mendadak Istri 2 sudah up ya. Cerita ini sebentar lagi end ya. Untuk itu, othor e upnya gantian.