The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.72



Bian benar-benar tidak membiarkan Revina lolos begitu saja. Insting lelakinya langsung on saat dia menindih tubuh polos Revina. Tangannya juga tidak dibiarkan menganggur. Kini, tangan kanannya sudah mulai menjelajah ke seluruh bagian tubuh Revina yang mampu dijamahnya.


Bibir Bian juga tidak tinggal diam. Dia langsung membungkam bibir Revina. Meskipun mereka berdua sama-sama pemula, namun untuk urusan seperti itu, mereka mendadak langsung jadi mahir tanpa belajar terlebih dahulu. Entah mereka belajar dari mana, othor juga bingung saat mereka langsung hap hep hap hep.


Bibir Revina langsung otomatis terbuka menyambut bibir sang suami yang sudah mendesaknya. Lidah Bian mulai menyusuri bibir Revina yang sudah terbuka. Dia mengitari bibir tersebut dengan lidahnya. Tindakan Bian tersebut benar-benar menggoda Revina. 


Tangan kiri Revina menyusuri lengan kanan Bian yang saat ini menopang tubuhnya, sementara tangan kanannya sudah menyusup pada rambut Bian dan meremasnya dengan gemas. Tanpa menunggu lebih lama lagi, kedua tangan Revina langsung mencari kancing kemeja Bian dan berusaha membukanya.


Bian yang masih memanjakan bibir Revina pun langsung mengangkat wajahnya agar dapat menatap wajah sang istri.


"Kamu yakin, Dek?" Tanya Bian.


Revina yang masih ngos-ngosan mengatur napas hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat.


"Tentu saja aku sudah yakin, Mas. Jika tidak yakin, mana mungkin aku berani seperti ini." Jawab Revina sambil berusaha mengulas senyumannya.


Jika ada yang tanya Revina gugup atau tidak? Jawabannya adalah gugup, bahkan sangat gugup. Meskipun Revina terlihat bar-bar dan agresif, namun sebenarnya dia masih malu saat melakukannya. Revina melakukannya dengan dorongan sang nenek. Nenek Nur meminta Revina agar bisa membuat Bian terbuka dan terbiasa dengan pernikahan ini. Karena jika Revina tidak berusaha, nenek yakin Revina pasti akan diperlakukan secara biasa oleh Bian. Bahkan, akan terasa seperti orang lain nanti jika di rumah.


Meskipun merasa malu, Revina sudah bertekad akan memulainya. Dia ingin membuat pernikahannya dengan Bian seperti pernikahan pada umumnya.


Revina kembali mendekatkan bibirnya pada bibir Bian dan mulai memagutnya. Entah karena merasa sudah mulai terbiasa atau memang Bian sudah benar-benar terpengaruh oleh tindakan Revina, dia langsung membalas perbuatan Revina. 


Kali ini, Bian mengambil alih aktivitas tangan Revina untuk membuka kancing kemejanya. Dia mulai menggunakan tangan kanannya untuk membuka kancing kemejanya, sementara tangan kirinya digunakan untuk menopang tubuhnya agar tidak menindih tubuh Revina.


Saat sudah selesai melepas semua kancing kemejanya, tangan kanan Bian sedikit bergeser ke samping. Namun ternyata tangan tersebut justru mengenai tombol nutrisi alami milik Revina yang sudah mengeras. Bian lumayan terkejut karena baru pertama kalinya bersentuhan dengan wanita dan melihat langsung pada benda yang sering membuat para laki-laki oleng tersebut karena ukurannya.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Revina langsung meraih kepala Bian dan membawanya ke d*danya. Dia langsung menekan kepala tersebut agar segera bekerja. Dan benar saja. Bian langsung menyambut tindakan Revina.


"Hap. Eemmpphhhhhhh. Eeemmmhhhh." Racau Bian disela-sela aktivitasnya. Dia langsung kalap saat pertama kali merasakan benda kenyal tersebut. 


Bian langsung m*nghis*p benda kenyal tersebut dengan rakusnya. Dia bahkan tidak membiarkan kembarannya menganggur. Tangan kirinya juga sudah bekerja di sebelah. Tidak hanya bibir Bian yang bekerja, namun lidahnya juga sudah mulai aktif. 


"Aauuwwhhh, kenceng banget sedotnya, Mas. Asinya nggak bakal keluar, tapi yang bawah yang keluar."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Bantu othor buat vote ya. Jika banyak yang tinggalkan jejak vote, like dan komen, bakal up banyak untuk part 'horor' ini. Terima kasih.