
Malam itu, Cello dan Shanum baru saja melakukan makan malam bersama. Mommy Fara dan daddy El masih berada di Semarang. Mereka masih belum tahu kapan akan kembali ke Jakarta.
"Mas, weekend besok lusa, jadi menginap ke tempat nenek, kan?" Tanya Shanum sambil meletakkan remote TV di atas meja.
"Iya. Mumpung dapat tambahan libur tanggal merah, kan."
"Ah, iya. Senin kan tanggal merah ya. Eehmm, aku jadi mau liburan jika begitu." Kata Shanum sambil terlihat memikirkan sesuatu.
Cello yang melihat hal itu langsung meletakkan ponselnya yang sejak tadi dimainkannya.
"Mau liburan kemana?" Tanya Cello sambil masih mengamati wajah Shanum.
"Ehm, kita kan belum liburan Mas setelah menikah. Masa iya di rumah terus, ih." Jawab Shanum sambil mengerucutkan bibirnya.
"Maksudnya seperti honeymoon begitu?" Tanya Cello penasaran. Pasalnya, dia sebenarnya juga menginginkan hal itu. Sudah lama Cello ingin mengajak Shanum berlibur. Namun, mereka selalu saja kesulitan untuk mendapatkan waktu yang benar-benar longgar.
Mendengar perkataan Cello, mendadak Shanum menjadi malu. Wajahnya langsung memerah dan terasa panas. Entah mengapa jika mendengar kata honeymoon, otaknya langsung travelling ke arah 'sana'. Eh, reader jangan ngikutin Shanum lho ya.
Belum sempat Shanum menjawab pertanyaan Cello, terdengar suara ponselnya berdering. Shanum buru-buru mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya malam itu. Keningnya langsung berkerut saat melihat nama yang tertera pada layar ponselnya.
"Siapa?" Tanya Cello yang juga penasaran.
"Rean, Mas. Sebentar." Kata Shanum sesaat sebelum menggeser ikon berwarna hijau tersebut untuk menyambungkan panggilan telepon.
"Hallo Re," sapa Shanum begitu panggilan telepon tersebut terhubung.
"Hallo, Kak. Dimana sekarang?"
"Eh, aku di rumah ini. Ada apa, Re?"
"Nggak ada apa-apa, sih. Malas nggak ada temannya. Besok nginap di rumah nenek dong kak, bosan nggak ada yang nemenin."
"Aku, mama dan papa di Jakarta ini. Baru saja nyampek rumah nenek."
Shanum cukup terkejut setelah mendengar perkataan Rean. Pasalnya, dia sama sekali tidak diberitahu jika kedua orang tuanya akan ke Jakarta hari ini.
"Eh, kok nggak ngomong jika mau ke Jakarta?"
"Dadakan, Kak. Tadi siang, papa buru-buru pulang dari kantor. Ternyata mengajak kita segera ke Jakarta sore ini. Ya sudah, aku sih ikut saja. Itung-itung nambah libur satu hari di awal. Hehehe."
"Ccckkk, ada-ada saja. Lalu sekarang, mama dan papa dimana? Coba kasih ponselnya aku mau ngomong dulu." Pinta Shanum.
"Eh, nggak bisa, Kak. Mama dan papa langsung ke rumah sakit tadi dari bandara. Aku saja pulang sendiri tadi ke rumah nenek.
"Ke rumah sakit? Ada apa? Siapa yang sakit?" Tanya Shanum panik. Pikirannya sudah mulai tidak enak.
"Cucunya pak Kaero, Kak. Baru saja kecelakaan. Hal itu yang membuat papa harus segera ke Jakarta hari ini juga. Besok ada pertemuan dengan kolega dari luar negeri katanya. Papa harus gantiin pak Kaero." Jelas Rean.
Shanum hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelahnya, dia segera menyanggupi untuk menginap di rumah neneknya eaok hari.
"Ada apa?" Tanya Cello saat Shanum sudah menutup panggilan telepon tersebut.
"Rean di Jakarta, Mas. Bareng papa dan mama juga. Besok kita menginap di rumah nenek ya, Mas. Jarang-jarang mereka ke sini kan," pinta Shanum.
Mau tidak mau, Cello mengiyakan permintaan Shanum. Untuk masalah liburan, mereka sepakat untuk menundanya terlebih dahulu.
•••
Tinggalkan jejak vote, like dan komen ya. Terima kasih.