
Sejak aktivitas saat itu, hampir setiap malam Cello selalu mengganggu Shanum. Dia benar-benar berusaha membuat Shanum melupakan masa lalunya dan menggantinya dengan kenikmatan yang Cello berikan. Gayung pun bersambut. Shanum sudah mulai terbiasa untuk melakukan skinship yang mulai lebih intim dengan sang suami.
Shanum juga sudah mulai bisa ikut terbawa arus permainan yang dilakukan oleh Cello. Mulai dari sentuhan yang dilakukan oleh tangan hingga bibir Cello, Shanum sudah mulai terbiasa. Hanya saja, mereka belum melakukan hal iya-iya seperti yang dinanti-nantikan oleh para reader. Kapan thor? Sabar. 😪
Tak terasa, hari-hari pun terus berlalu. Kini, Shanum dan juga Cello sudah mulai masuk kuliah. Untuk rencana pekerjaan, Cello membatalkan untuk bekerja di tempat temannya. Apalagi jika bukan karena sang mommy dan juga daddy. Mereka benar-benar tidak mau jika sampai Cello bekerja.
Daddy El menawarkan untuk melanjutkan pembangunan cafe yang terletak tak jauh dari kantornya. Cafe tersebut sudah direncanakan sejak satu tahun yang lalu. Namun, pembangunannya terhenti karena Yudha, orang yang bertanggung jawab untuk menghandle pembangunan tersebut, harus berangkat ke Bali untuk mengurus renovasi hotel di sana.
Dengan segala bujuk rayu dari sang mommy, Cello akhirnya menyetujui untuk melanjutkan pembangunan cafe tersebut. Namun, konsepnya langsung di ubah total oleh Cello. Dia akan membuat cafe yang kekinian dan tidak membosankan. Cello juga banyak mencari referensi dan belajar dari beberapa orang yang berpengalaman tentang hal itu.
Pagi itu, Shanum sudah bersiap untuk pergi ke kampus setelah sarapan. Dia ada jadwal kuliah pagi. Sedangkan Cello, dia ada jadwal kuliah jam ketiga.
"Mas, aku berangkat," kata Shanum sambil mengecup punggung tangan Cello.
"Hati-hati. Pulang jam berapa?"
"Aku sampai jam ketiga, sih. Tapi nanti mampir ke perpustakaan dulu sebelum pulang."
"Awas, jangan dekat-dekat dengan Dio. Nggak usah diladeni jika dia mendekat." Kata Cello sambil mengerucutkan bibirnya.
Ya, Cello benar-benar merasa cemburu saat melihat salah satu anggota BEM tersebut gencar mendekati Shanum sejak ospek. Dia terlihat sering berada di sekitar Shanum saat berada di kampus.
"Aiisshh, siapa juga yang dekat-dekat dengannya. Aku saja juga nggak kenal, Mas."
"Dia sering berada di sekitar kamu saat di kampus," bantah Cello.
"Ya namanya juga satu fakultas, Mas. Ya pasti dia ada di sana." Jawab Shanum sambil tersenyum. Dia sering merasa lucu jika melihat Cello merajuk seperti itu.
"Tapi aku nggak suka."
"Lalu, aku harus bagaimana? Masa iya harus pindah kampus?"
Cello hanya mendengus kesal. Dia sendiri kadang merasa heran mengapa sikapnya berubah seperti itu. Cello yang memang berbeda fakultas dengan Shanum, jadi dia tidak bisa memantau terus menerus aktivitas sang istri saat berada di kampus.
Shanum yang melihat Cello masih merajuk, langsung mendekat sambil memeluk tubuh Cello dari depan. Kedua tangannya melingkar pada pinggang sang suami. Wajahnya menengadah menatap wajah Cello yang masih cemberut.
"Kenapa sih, Mas? Kamu jae laos ya?" Tanya Shanum sambil tersenyum menatap wajah Cello.
Kening Cello terkejut saat mendengar pertanyaan Shanum.
"Bukan, Mas. Jealous, cemburu. Kamu cemburu?"
"Nggak, lah. Mana mungkin aku cemburu sama si Dio-Dio itu. Orang pendek gitu."
Shanum terkekeh geli mendengar jawaban Cello yang tidak sesuai dengan ekspresi wajahnya yang terlihat sangat kesal.
"Nggak usah cemberut gitu, ih. Bikin gemes." Kata Shanum sambil sedikit berjinjit untuk mengecup bibir Cello singkat.
Cello langsung menunduk sambil membuka sedikit bibirnya. Dia menatap wajah sang istri yang kini tengah menengadah untuk menatapnya.
"Nggak usah mancing-mancing deh, Yang. Atau kamu mau hari ini kita bolos kuliah dan buka segel sekarang?" Tantang Cello sambil tersenyum smirk.
"Aiisshh, kamu selalu saja seperti itu, Mas." Jawab Shanum sambil melepaskan pelukannya dan memukul bahu Cello dengan manja.
Cello hanya tertawa-tawa melihat tingkah sang istri. Setelahnya, mereka segera keluar dari kamar untuk berangkat beraktivitas. Namun, langkah kaki mereka terhenti saat melihat dua orang yang berada di ruang tengah tersebut.
"Yang, kamu kok tega sih biarin ini nggak dikasih sarapan. Ngilu, Yang. Seharian nanti aku sibuk banget. Jika begini, aku pasti nggak bisa konsentrasi bekerja, Yang." Kata daddy El sambil mengikuti mommy Fara.
"Kamu itu aneh-aneh deh, Mas. Tadi sebelum subuh juga sudah sarapan, kan. Lagian, salah sendiri ngapain lihat video aneh-aneh." Gerutu mommy Fara.
"Aku kan penasaran, Yang. Aku hanya ingin melihat video kiriman di group. Nggak taunya video gituan, aku kan jadi mau, Yang."
"Hhhh, makanya nggak usah lihat-lihat video gituan lagi, Mas. Jika sudah begini, siapa yang akan repot."
"Iya, iya. Hari ini aku janji nggak akan lihat video itu lagi. Sekarang bantu aku." Kata daddy El sambil menarik lengan mommy Fara.
Saat mereka melewati Cello dan Shanum, langkah kaki mereka terhenti karena perkataan Cello.
"Janjinya hanya hari ini saja, Dad? Besok diulangi lagi?"
"Ho oh,"
•••
Masih sempat ngetik satu bab