
"Ibu Dena?" Seorang perawat memanggil nama Dena dari arah pintu.
Dena langsung menoleh, dan sedikit mengangkat tangan. "Iya, saya, Sus."
Perawat tersebut tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Mari, Bu. Silahkan masuk. Sekarang giliran Anda."
Dena dan Rean sama-sama berdiri. Mereka berjalan mengikuti perawat tersebut untuk memasuki ruang dokter. Setelah itu, Rean dan Dena segera dipersilahkan untuk duduk sambil menunggu dokter yang sedang berada di kamar kecil.
Tak berapa lama kemudian, muncullah seorang dokter wanita paruh baya dengan senyum ramah menghiasi wajahnya. Rean dan Dena membalas senyuman tersebut tak kalah ramahnya.
"Selamat siang, Ibu, Bapak," sapa dokter bernama Dokter Jamila tersebut.
"Selamat siang, Dok." Rean dan Dena kompak menjawab dengan serentak.
Setelah itu, Dokter Jamila mulai melakukan sesi tanya jawab. Beliau bertanya ini itu untuk mengetahui keluhan yang dirasakan oleh Dena.
"Jadi, Ibu tidak merasakan perubahan apapun pada tubuh, Anda?" tanya Dokter Jamila kepada Dena.
"Ehm, saya tidak merasakan apa-apa, Dok. Tapi, memang perut saya sedikit lebih besar dari biasanya, dan juga, sedikit lebih keras. Saya mengira jika hal itu biasa saja karena memang akhir-akhir ini saya sering ngemil saat malam."
Dokter Jamila tampak tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, beliau meminta Dena untuk segera berbaring guna melakukan pemeriksaan. Rean tampak mengikuti sang istri. Dia benar-benar sudah tidak sabar untuk mengetahui hasil pemeriksaan Dena. Rean benar-benar berharap sang istri benar-benar hamil.
Dengan bantuan seorang perawat yang mengoleskan gel pada perut Dena, dokter Jamila segera mulai melakukan pemeriksaan. Kali ini, Rean benar-benar memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh dokter tersebut.
Beberapa saat kemudian, dokter Jamila menolehkan kepala ke arah layar. Hal yang sama juga dilakukan oleh Rean. Dia mengikuti gerakan kepala dokter Jamila ke arah layar monitor.
Wajah dokter Jamila tampak berbinar bahagia. Sebuah senyuman juga langsung terbit pada bibirnya. Dokter Jamila menoleh ke arah Rean dan juga Dena bergantian.
"Selamat Bapak, Ibu. Ibu Dena positif hamil," ucap dokter Jamila.
Kedua bola mata Rean dan Dena sama-sama membulat.
"Ha-hamil, Dok? Sa-saya beneran hamil?" Dena masih tidak menyangka jika dia benar-benar hamil.
"Iy, Bu. Anda benar-benar hamil."
Belum sempat Dena menjawab perkataan dokter Jamila, Rean sudah langsung berteriak-teriak histeris.
Rean langsung memeluk Dena. Dia juga langsung menciumi wajah Dena bertubi-tubi. Kening, pipi, hidung, mata, bahkan bibir Dena tak luput dari serbuan bibir Rean. Dia sudah tidak peduli dengan adanya dokter Jamila dan juga perawat di sana.
Sontak saja hal itu membuat Dena malu. Dia buru-buru mendorong wajah Rean dan segera mengusap bibirnya yang sudah belepotan dengan saliva Rean. Wajah Dena sudah benar-benar merah padam.
Dokter Jamila dan perawat tersebut hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah pasangan muda tersebut. Untung saja usia dokter Jamila dan perawat tersebut sudah termasuk senior, jadi tidak terlalu baper dengan tingkah Rean.
"Apa-paan sih, Mas? Nggak lihat tempat deh." Dena membenarkan rambut dan bajunya. Dia segera beranjak turun dengan bantuan Rean.
"Hehehe, maaf, Yang. Aku bahagia sekali. Rasanya, nggak sabar nunggu Rean dan Dena junior." Rean hanya bisa tersenyum nyengir sambil mengekori Dena kembali ke kursi mereka.
Mereka tidak sabar menunggu hasil foto usg yang masih dipersiapkan. Dokter Jamila tersenyum melihat reaksi bahagia Rean dan juga Dena. Beliau dapat melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah keduanya.
Beberapa saat kemudian, perawat memberikan hasil foto usg kepada dokter Jamila. Selanjutnya, beliau menjelaskan tentang apa yang harus diperhatikan oleh Dena dan juga Rean. Namun, sebelum itu, dokter Jamila bertanya kepada Rean dan juga Dena.
"Sebelum saya menjelaskan apa yang harus Ibu Dena perhatikan, saya ingin menanyakan sesuatu. Apakah ada riwayat kelahiran kembar diantara Anda berdua?"
Kening Rean dan Dena sama-sama berkerut. Mereka mulai bertanya-tanya dalam hati mengapa dokter Jamila menanyakan hal itu kepada mereka. Apa jangan-jangan?
"Iya, Dok. Saya memang mempunyai riwayat itu. Kakek saya kembar, dan kakak saya juga punya anak kembar. Memangnya ada apa ya, Dok?" Rean benar-benar penasaran.
"Kembar dua?"
"Iya, Dok." Rean menjawab sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Dokter Jamila tampak tersenyum. Setelah itu, beliau menunjukkan hasil foto usg kepada Rean dan juga Dena.
"Selamat Bapak, Ibu. Kalian juga akan mendapatkan bayi kembar. Bukan hanya dua, tapi kembar tiga."
"Apa?!"
\=\=\=
Nah kan, nah kan.
Yeeeyy, cooming soon. Kasih like, komen dan vote yang banyak ya. Hadiah buat calon triplet yang mau launching juga boleh 🤗