
Seluruh keluarga Dena dan Rean masih berada di rumah sakit. Meskipun sudah mendapat penjelasan dari dokter tentang kondisi Dena, mereka semua masih enggan meninggalkan rumah sakit sebelum melihat Dena sadar.
Hingga menjelang sore, Dena juga masih belum sadarkan diri. Rean yang sejak tadi tidak beranjak dari samping sang istri, hanya bisa menggenggam tangan kirinya yang terpasang infus. Sedangkan tangan dan bahu kanannya, harus diperban karena banyak luka dan juga bekas operasi.
Mami Rida, maminya Dena, mendekat ke arah Rean. Dia merasa kasihan saat melihat penampilan sang menantu yang sudah sangat kusut tersebut.
"Re, sebaiknya kamu kembali ke hotel dulu. Bersihkan tubuhmu dan berganti baju. Kalau perlu, kamu istirahat dulu. Kamu kelihatan capek sekali. Biarkan Mami dan Papi yang menjaga Mayang disini." Mami Rida masih menepuk-nepuk bahu Rean.
Rean menggelengkan kepala. Dia tidak suka mendengar permintaan sang mertua.
"Nggak usah, Mi. Biar aku yang jaga Dena. Mami dan Papi istirahat saja dulu. Aku sudah pesankan hotel di dekat sini tadi. Aku nggak mau jika Mami dan Papi sakit nanti."
Papi Dena yang juga masih berada di dalam kamar perawatan Dena, hanya bisa menghembuskan napas berat. Dia tahu jika Rean pasti akan keras kepala.
"Mami kamu benar, Re. Sebaiknya, kamu bersih-bersih dulu. Setidaknya, kamu mandi dan berganti baju agar tubuh kamu merasa segar. Biar kami yang menjaga Mayang dulu. Setelah itu, nanti kamu bisa datang kemari dan menggantikan kami. Bagaimana?"
Rean menolehkan kepala ke arah papi Hendra. Dia terlihat memikirkan saran tersebut. Setelah dipikir-pikir, Rean setuju dengan usul papi Hendra. Dia segera berpamitan dan langsung kembali ke hotel. Dia bergegas untuk membersihkan diri dan harus segera berangkat ke rumah sakit kembali. Beruntung jarak rumah sakit dan hotel Rean hanya memakan waktu sekitar dua puluh menit. Jadi, dia bisa segera kembali.
Mama Revina yang melihat kedatangan Rean, langsung memaksa sang putra untuk makan malam terlebih dahulu. Mama Revina tahu jika Rean pasti akan melewatkan makan malam. Mau tidak mau, Rean menuruti keinginan tersebut.
"Aku sudah kenyang, Ma. Aku harus segera kembali ke rumah sakit." Rean meletakkan gelas minumnya dan mengusap bibirnya dengan tisu.
Mama Revina hanya bisa mendesahkan napas ke udara. Dia melihat makanan Rean masih setengahnya. Meskipun begitu, mama Revina tetap bersyukur Rean sudah mau memakan makan malamnya.
"Kamu menginap di rumah sakit, Re?"
"Iya, Ma. Nanti aku akan bawa baju ganti sekalian. Yang lainnya, tolong Mama minta dilaundry ya."
"Iya. Nanti mama urus. Tapi, besok mama dan papa harus kembali ke Jakarta, Sayang. Papa kamu ada pekerjaan mendadak dari Pak Kaero."
"Iya, Ma. Tidak apa-apa. Papa dan mama langsung kembali saja ke Jakarta."
Tak berapa lam kemudian, Rean sudah tiba di rumah sakit. Dia segera beranjak menuju ruang perawatan sang istri. Begitu mendekati ruang tersebut, Rean melihat papi Hendra sedang duduk di depan kamar.
"Pi, kenapa di luar?" tanya Rean sambil mendudukkan diri di samping sang mertua.
Papi Hendra menoleh ke arah Rean. "Eh, sudah datang, Re. Ini, Papi baru dapat telepon dari rumah sakit. Besok ada jadwal operasi."
Rean tahu jika pekerjaan tersebut tidak akan mungkin ditunda. "Sebaiknya, Papi dan Mami kembali ke Jakarta saja, Pi. Biar aku yang jaga Dena disini."
Belum sempat papi Hendra menjawab perkataan Rean, terdengar suara mama Rida dari arah pintu.
"Benar, Pi. Sebaiknya kamu kembali saja ke Jakarta. Biar aku disini gantian jaga dengan Rean."
Papi Hendra tidak bisa menolak. Dia menyetujui usulan tersebut. Papi Hendra akan kembali ke Jakarta bersama dengan papa Bian dan mama Revina esok dini hari. Malam itu, papi dan mami Dena kembali ke hotel untuk beristirahat.
Setelah mertuanya pergi, Rean langsung beranjak menemani Dena. Dia langsung mendudukkan diri di samping brankar Dena dan menggenggam tangan kirinya. Rean juga tak bosan-bosannya mengecup tangan sang istri sambil menggumamkan permintaan maaf berulang kali.
"Maafkan aku, Yang. Maafkan aku. Aku benar-benar bod*h tidak memeriksa ponselku. Maafkan aku," ucap Rean sambil masih menciumi punggung tangan sang istri.
Hingga beberapa saat kemudian, Dena merasa terusik. Dia membuka kedua matanya perlahan-lahan dan merasakan tubuhnya sangat nyeri sekali. Dena juga merasakan tangannya digenggam erat dan beberapa kecupan juga dirasakannya.
Dena membuka kedua matanya sedikitblebih lebar untuk memastikan siapa yang melakukan hal itu. Setelah menyadari siapa pelakunya, Dena berusaha untuk bersuara.
"Ma-mas Rean?"
\=\=\=
Dijawab apa?