The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Kenapa secepat itu??



Papa Mike tersenyum sebelum menjawab pertanyaan ayah. "Tidak apa-apa pak, kami bisa menjamin untuk hal itu," jawab papa Mike. "Lalu, kenapa buru-buru? Kami ingin segera menjadikan Vanya sebagai menantu kami. Anak kami, Kenzo sudah tidak sabar ingin segera menikah. Saya kira, akan sangat riskan sekali jika tidak segera menikahkan mereka," lanjut papa Mike sambil tersenyum.


Mendengar jawaban papa Mike, kini giliran ibu yang bersuara. "Kamu hamil Zi?" Tanya ibu.


Vanya yang terkejut mendengar pertanyaan sang ibu langsung menggelengkan kepala dan menggoyangkan kedua tangannya dengan cepat. 


"Ti-tidak Bu. Zi nggak hamil," jawabnya dengan cepat.


Hhhhhh. Seketika ayah dan ibunya menghembuskan napas dengan lega. Mereka tadi sudah berpikiran yang tidak-tidak tentang anaknya. Mereka merasa terkejut dengan kedatangan keluarga Abram. Ditambah lagi, mereka berniat ingin menjadikan putri semata wayangnya untuk menjadi menantunya. 


"Bagaimana bapak dan ibu?" Tanya papa Mike mengalihkan perhatian kedua orang tua Vanya.


Seketika kedua orang tua Vanya menoleh menatap papa Mike. Ayah Vanya berdehem sebentar sebelum menjawab pertanyaan papa Mike.


"Sebelumnya saya minta maaf pak Mike. Saya dan istri saya disini sebagai orang tua Vanya tidak bisa memaksakan kehendak kami. Kami hanya bisa mendukung yang terbaik untuk putri kami,"


"Untuk pinangan ini, kami serahkan sepenuhnya kepada putri kami. Kami akan mendukung apapun keputusan yang akan dia ambil," kata pak Wahyu sambil menatap wajah sang putri.


Vanya yang merasa menjadi pusat perhatian mendadak gugup. Keringat dingin merembes keluar dari dahinya. Tangannya juga tidak berhenti saling meremas. Matanya menatap ke arah Kenzo untuk meminta penjelasan. Dengan sedikit anggukan, Kenzo memberikan jawaban.


Setelah mendapat anggukan dari Kenzo, Vanya menarik napas dan menghembuskannya sebelum menjawab pertanyaan ayahnya.


Apa harus begini jadinya, aku menikah dengan orang yang sama sekali tidak ku kenal. Aku tidak ingin menghianati pernikahan. Semoga ini menjadikan pernikahan yang sebenar-benarnya, menjadi pernikahan yang sakinah, mawaddah warrahmah sampai akhir hayat, aamiin. Batin Vanya.


"Bismillah," kata Vanya pelan. "Sa-saya menerima lamaran ini ayah," lanjut Vanya sambil menatap wajah sang ayah.


Mendengar jawaban Vanya semua bernapas lega, tak terkecuali Kenzo. Entah mengapa jantungnya terasa berdenyut tak karuan ketika Vanya belum memberikan jawabannya. Rasanya juga seperti ada bongkahan batu besar yang menghimpit paru-parunya sehingga membuatnya kesulitan bernapas. Namun, setelah Vanya memberikan jawabannya, seketika dadanya terasa menghangat. Napasnya juga tidak lagi terasa berat.


"Terima kasih sayang, kamu sudah mau menerima putra mama yang kolot ini," kata mama Tari sambil melirik ke arah Kenzo. "Mama harap, kamu bisa terus menemani Kenzo, selalu ada untuknya. Dan yang terpenting, segera memberikan mama cucu," lanjut mama Tari sambil terkekeh geli yang di ikuti oleh yang lainnya. Sementara Vanya masih cengo mendengar perkataan sang calon mama mertua.


"Bapak, Ibu, karena nak Vanya sudah setuju untuk menikah dengan Kenzo, putra kami, kami ingin pernikahan ini segera dilaksanakan secepatnya. Kami tidak ingin jika salah satu dari mereka berubah pikiran," kata papa Mike sambil melirik ke arah Kenzo. 


Sementara Kenzo yang sedari tadi hanya diam saja langsung mendengus kesal setelah mendengar perkataan sang papa. Dia merasa tersindir dengan omongan papanya. Namun, hal itu bukan sepenuhnya kesalahan papa Mike. Kenzo sudah berulang kali membohongi kedua orang tuanya dengan memperkenalkan pacar atau calon istri palsunya. Jadi, papa dan mama Kenzo ingin bergerak cepat agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


"Lalu, kapan rencana pernikahannya akan dilaksanakan?" Tanya ayah Vanya.


"Akhir minggu depan,"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Mohon maaf masih slow up ya