The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 60



"Tahu apa?"


"Jari jempol kakinya kecil dan pendek." Bisik Shanum.


"Hhaaah?"


Seketika Cello membulatkan kedua bola mata dan mulutnya. Bisa-bisanya istrinya memperhatikan hal itu. 


"Hhhhh, apa-apaan itu. Bisa-bisanya kamu memikirkan hal itu!" Gerutu Cello.


Shanum yang masih mengalungkan kedua tangannya pada leher sang suami pun semakin gemas saat melihat ekspresi Cello.


"Ya mau bagaimana lagi, Mas. Aku kan juga nggak sengaja lihatnya. Waktu itu, aku dan Nanda yang sedang ada di sana. Ya, kami langsung kaget, dong."


Kening Cello berkerut masih belum memahami maksud sang istri.


"Kaget kenapa?"


"Katanya, jika jempol kakinya kecil, berarti roketnya juga kecil, hehehe."


Sontak saja Cello semakin terkejut. Dia benar-benar tidak menyangka jika sang istri berpikir ke arah sana.


"Apa-apaan itu?! Bisa-bisanya kalian memikirkan hal itu. Awas saja jika kamu ikut-ikutan melakukannya. Aku pastikan kamu akan mendekam di atas tempat tidur seharian besok." 


Shanum langsung mengerucutkan bibirnya.


"Kamu itu, Mas. Mentang-mentang sudah merasakan lapis legit, sebentar-sebentar ngomongin itu mulu, ishh " kata Shanum sambil melepas rangkulan tangannya. Dia juga sedikit mendorong tubuh sang suami sambil memukul kecil bahunya.


"Hehehe habis rasanya nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata, Yang. Bawaannya, hanya bisa merem melek dan mende*sah saja."


Shanum semakin mengerucutkan bibirnya. Dia melepaskan pelukan sang suami  pinggangnya.


"Sudah, ih. Aku mau bantu mommy. Kamu bersih-bersih dulu, setelah itu makan malam. Jangan lama-lama."


"Iya."


Setelahnya, Shanum segera menuju dapur untuk membantu mommy dan juga bi Yam untuk menyiapkan makan malam. Tak berapa lama kemudian, makan malam lun sudah siap. Seluruh keluarga Cello makan malam bersama sambil diselingi obrolan-obrolan ringan.


Keesokan harinya, Cello dan Shanum mendapat jadwal kuliah pagi. Namun sebelum berangkat ke kampus, daddy El meminta Cello untuk ke kantor setelah selesai kuliah. Mau tidak mau, Cello mengiyakan permintaan sang daddy.


"Ya sudah. Hati-hati, jangan ngebut."


Pagi itu, Cello dan Shanum berangkat ke kampus dengan menggunakan kendaraan sendiri-sendiri. Meskipun begitu, mereka tetap berjalan beriringan.


Menjelang siang, Cello sudah keluar dari kelasnya. Dia segera beranjak menuju tempat parkir dan harus pergi ke kantor sang daddy. Namun, langkah kakinya terhenti saat mendengar panggilan dari Aldi, sang sahabat.


"Cell, tunggu!"


Cello menghentikan langkah kakinya. Dia berhenti dan menoleh ke samping dimana Aldi terlihat berjalan cepat ke arahnya.


"Ada apa, Di?" Tanya Cello.


"Mau kemana, lo?"


"Kantor bokap. Dia minta gue datang ke kantor hari ini."


"Ada apa? Lo mau kerja di kantor bokap lo?"


"Cckkk, belum kali, Di. Gue juga masih kuliah ini. Waktunya nggak bakal bisa ." Jawab cello sambil menghembuskan napas beratnya.


Aldi mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


"Lalu, ada apa lo diminta bokap lo datang ke kantor?" Tanya Aldi penasaran.


Cello mengedikkan bahunya sebagai jawaban jika dia juga tidak tahu menahu tentang hal itu.


"Entahlah. Gue juga nggak tahu ada apa. Tapi, sepertinya mau membahas masalah tempat futsal lo, deh. Kemarin gue sempat cerita ke daddy." Jawab Cello mengira-ngira. Pasalnya, kemarin dia memang memberitahu sang daddy tentang masalah itu. Hanya saja, mereka belum sempat membicarakan hal itu semalam.


"Benarkah?" Aldi terlihat bahagia setelah mendengar perkataan Cello.


"Mungkin, sih. Doain saja. Gue cabut dulu." Pamit Cello.


"Oke. Thanks, Cell."


••


Mohon maaf, hanya sanggup up 1