
Shanum begitu terkejut saat mendengar penjelasan Rean. Dia benar-benar tidak habis pikir jika ternyata Rean dan Dena belum melakukan kewajiban sebagai suami istri.
"Kok bisa, Re? Memangnya kamu bisa tahan?"
Rean hanya bisa mendengus kesal setelah mendengar perkataan sang kakak.
"Kak Shanum tahu sendiri bagaimana cerita pernikahanku dengan Dena. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa melakukannya?"
Shanum tampak mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Dia memang mengetahui cerita pernikahan Rean dan juga Dena. Shanum bersyukur kehidupan pernikahan mereka sudah semakin membaik.
"Tapi, pernikahan kalian sekarang kan sudah membaik. Kakak hanya bisa mendoakan semoga kalian tetap bisa saling menjaga perasaan masing-masing."
"Kalau untuk itu, aku sudah melakukannya dari dulu, Kak."
"Hehehe, iya. Kakak juga tahu. Ehm, tapi, sepertinya luka Dena sudah lumayan. Apa kamu tidak mau mencobanya?"
Seketika Rean langsung menolehkan kepalanya menatap wajah sang kakak dengan ekspresi kesalnya.
"Tentu saja mau, Kak. Kakak pikir aku tidak tertarik apa?! Sudah sejak dulu aku membayangkan adegan iyes no iyes no itu, tapi memang belum kesampaian sampai sekarang," gerutu Rean.
"Lalu, tunggu apa lagi? Aku yakin Dena pasti juga tidak keberatan."
"Justru itu, Kak. Sebenarnya, ehm, Dia sudah menawarkan hal itu kemarin."
"Bagus, dong. Kamu mau tunggu apa lagi?" kata Shanum dengan antusiasnya. Dia bahkan melupakan putranya yang sedang berada di pangkuan.
Rean mencebikkan bibirnya sambil menatap wajah Shanum.
"Aku takut jika dia masih kesakitan, Kak. Makanya aku tanya kepada kakak tadi. Biar bagaimanapun juga, Dena kan juga baru mengalami kecelakaan, Kak."
Lagi-lagi Rean hanya bisa mencebikkan bibirnya. Dia melirik ke arah sang kakak sambil mengangkat keponakannya dan memangku bayi yang sudah mulai aktif tersebut.
"Kakak sembarangan saja kalau ngomong! Bukannya aku nggak tahu hal itu, tapi aku hanya tidak ingin membuat Dena kesakitan nanti. Dia baru saja mengalami kecelakaan."
"Hhhhh, sudah aku bilang kan, Re. awalnya, melakukan itu pertama kali pasti sakit. Tapi percayalah, meskipun sakit, aku yakin Dena pasti akan minta nambah terus. Coba kamu bicarakan lagi dengan istri kamu. Kamu tanyakan apa dia benar-benar serius dengan ucapannya itu."
Rean terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang benar apa yang dikatakan sang kakak. Toh kemarin, Dena juga sudah menawarkan hal itu kepadanya, batin Rean.
Dengan semangat empat limanya, Rean segera menurunkan keponakannya dan langsung menciumi Dryn. Hal yang sama juga dilakukan Rean kepada Drew yang sejak tadi bermain di depan Shanum.
"Aku pulang dulu, Kak. Aku akan mencoba membicarakan hal ini dengan Dena. Semoga saja dia setuju melakukannya. Hehehehe."
Shanum hanya bisa mencebikkan bibirnya. Meskipun begitu, dia segera mengangguk mengiyakan perkataan Rean. Shanum mendoakan semoga rencananya berhasil.
Saat Rean hendak berbalik, terlihat Cello baru saja pulang dari kantor. Dia berjalan memasuki rumah dan langsung menuju ke tempat Shanum dan juga Rean.
"Eh, ada kamu Re? Mau kemana?" tanya Cello saat melihat Rean merapikan tas nya.
"Mau pulang, Kak."
"Lhah, kenapa buru-buru?"
"Biarkan saja, Mas. Dia sudah nggak sabar mau menjelajah gua yang berada di tengah lembah ber belukar." Kata Shanum sambil tergelak.
"Eh, mau hiking, Re? Memang sudah boleh? Sudah nggak ada larangan PPKM?"
Astaga, ini pada ngomongin apa sih? 🤦♀️