
Cello masih menatap wajah Shanum yang terlihat cemas. Bibir bawahnya juga masih digigit-gigit kecil. Cello tahu jika Shanum benar-benar berusaha untuk menguatkan hatinya. Menyadari jika sang istri terlihat kesulitan untuk memulai, Cello mengambil inisiatif untuk bertanya lebih dahulu.
"Apa kamu masih teringat kejadian masa lalu itu?" Tanya Cello.
Shanum mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Cello. Ya, dia memang masih mengingatnya dengan jelas. Dia benar-benar Belum bisa melupakan peristiwa itu. Ketakutannya sering muncul saat malam. Bahkan, dia sering menangis dan kesulitan tidur saat malam hari.
Shanum mengangguk mengiyakan pertanyaan Cello. Shanum harus jujur kepada Cello tentang apa yang dirasakannya.
"Aku memang masih mengingat jelas peristiwa itu. Bahkan, ketakutan itu tidak pernah hilang sama sekali. Ingatan tentang masa lalu itu masih bercokol kuat di otakku, Mas." Kata Shanum dengan mata berkaca-kaca.
Cello sebenarnya sudah mengetahui hal itu dari mama Revina dan juga nenek Shanum. Mereka sering memergoki Shanum menangis dan mengubur tubuhnya di bawah tumpukan bantal dan juga selimut saat malam hari. Namun, Shanum selalu berusaha terlihat ceria saat siang hari atau berinteraksi dengan orang lain. Shanum seolah-olah ingin menunjukkan jika dirinya sudah melupakan peristiwa itu dan dia sudah baik-baik saja.
Cello berusaha mendengar perkataan Shanum. Dia memang melihat jika Shanum masih mengingat peristiwa tersebut dengan jelas.
"Sssttt, jangan diingat-ingat lagi. Jangan biarkan dirimu terjebak dimasa lalu yang pasti akan membuatmu tidak tenang." Kata Sean sambil berusaha menghapus air mata Shanum yang mulai menganak sungai.
"Bagaimana aku bisa melupakannya. Aku bahkan masih bisa merasakan tangan-tangan itu mulai menjamah tubuhku, Mas. Aku bahkan sempat merasa jijik dengan tubuhku. A-aku…, hiks hiks hiks." Shanum bahkan tidak kuasa melanjutkan perkataannya. Dia sudah langsung tergugu dengan keras.
Cello yang melihat kesedihan sang istri langsung memeluk tubuh Shanum. Dia bisa melihat betapa sang istri masih terpukul dengan peristiwa masa lalu itu.
"Bagaimana hiks hiks, kamu bisa mengatakannya, hiks sedangkan aku yang merasakan tangan-tangan itu hiks hiks, menjamah tubuhku, hiks hiks."
Cello mengerti dan bisa memahami apa yang sedang dirasakan oleh Shanum. Saat dia datang waktu itu, dia melihat tubuh Shanum sudah berada di antara kedua orang tersebut. Baju seragamnya sudah terbuka kancingnya hingga memperlihatkan b*a miliknya.
Namun, Cello yakin jika saat itu Shanum memang belum mendapatkan perlakuan yang lebih parah. Saat itu, Shanum masih memakai rok seragamnya dengan sepatu yang juga masih melekat di kedua kakinya. Bahkan, ikat pinggang Shanum pun masih terpasang dengan sempurna.
"Sssttt. Sudah kubilang jangan mengingatnya lagi. Aku tidak akan mengizinkan kamu untuk melakukannya. Aku akan menghilangkan jejak-jejak ingatan itu. Mulai sekarang, hanya ingat aku yang melakukannya. Jangan mengingat orang lain." Kata Cello sambil sedikit mengendurkan pelukannya pada tubuh Shanum.
Tanpa diduga, Cello berani menelusupkan tangan kirinya ke dalam baju tidur Shanum. Tangan Cello sudah membelai perut Shanum dan mulai naik ke atas. Cello bahkan tidak membiarkan Shanum melepaskan diri dari dekapan tangan kiri Cello.
"Jangan bergerak. Izinkan aku melakukannya. Aku ingin kamu hanya mengingatku sebagai satu-satunya orang yang melakukan ini,"
Shanum sedikit tersentak saat tangan kanan Cello menelusup masuk pada kacamatanya. Dia bahkan sedikit membuka mulutnya saat jari Cello menyentuh biji coklat miliknya.
"Hhhhmmm, kenyal,"
Maaf kemarin ada kerjaan yang benar-benar tidak bisa di tinggal. Scroll lagi ya 👇