The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 80



Cello benar-benar bingung menghadapi tingkah sang istri. Dia langsung memeluk tubuh Shanum dan mengusap-usapnya dengan penuh kelembutan. Shanum, masih terisak di dalam dekapan sang suami.


"Sssttt, Yang. Jangan menangis. Aku nggak bermaksud begitu tadi."


"Lalu, hiks kenapa tadi mas Cello bertanya seperti itu? Hiks."


"Ehm, sebenarnya, aku hanya menuruti permintaan oma, Yang."


Seketika Shanum melepaskan pelukannya dan mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah sang suami.


"Oma? Memangnya oma kenapa, Mas?"


"Ehm, tadi oma hanya bertanya, apa kamu hamil? Tapi karena aku nggak tahu, jadi aku belum menjawabnya."


Shanum masih mencerna perkataan sang suami. Seketika, isak tangisnya langsung berhenti. Dia menegakkan tubuhnya dan mulai mengingat-ingat sesuatu. Cello yang melihat tingkah sang istri menjadi semakin bingung. Dia merasa tidak enak telah mengatakan hal itu kepada sang istri.


"Yang, ada apa? Ma…," belum sempat Cello menyelesaikan perkataannya, Shanum sudah menutup mulut Cello dengan tangannya.


"Tunggu, Mas. Aku belum bisa memastikan hal itu. Tapi, aku baru menyadari satu hal." Kata Shanum.


"Apa, Yang?"


"Aku belum datang bulan untuk bulan ini. Seharusnya, awal bulan Mas. Dan ini, sudah tanggal dua puluh."


"Apa? Kenapa bisa tidak menyadarinya, Yang?"


"Ya mana aku ingat, Mas. Kalah sama enaknya celap celup setiap hari." Jawab Shanum sambil mendengus kesal.


Cello tidak menghiraukan perkataan sang istri. Setelahnya, dia segera beranjak berdiri. Shanum cukup terkejut melihat hal itu.


"Mau kemana, Mas?"


"Aku ke apotik dulu. Kata mommy, kita harus mencoba memeriksanya menggunakan test pack. Aku akan membelinya dulu."


"Eh, aku ikut Mas."


Shanum hanya bisa mengangguk mengiyakan. Setelahnya, Cello segera menyambar kunci motornya. Dia lebih memilih menggunakan sepeda motor untuk pergi ke apotik yang berada tak jauh dari rumahnya.


Tak sampai satu jam kemudian, Cello sudah terlihat pulang. Dia segera memarkirkan sepeda motornya dan berjalan menuju kamar dengan membawa barang belanjaannya.


Ceklek.


Setelah membuka pintu kamar, Cello melihat sang istri sudah terlelap di atas tempat tidurnya. Dia tidak tega membangunkan Shanum. Cello segera bergegas untuk membersihkan diri. Tak berapa lama kemudian, dia sudah bersiap untuk menyusul Shanum.


Shanum menggeliatkan tubuhnya saat menyadari gerakan di sampingnya. Dia berbalik untuk menatap wajah sang suami.


"Mas, sudah pulang? Maaf aku tertidur." Kata Shanum sambil membalik tubuhnya hingga kini menghadap ke arah Cello.


"Nggak apa-apa. Sudah, tidur lagi."


"Sudah dapat alatnya tadi?"


"Iya. Itu, ada di atas nakas. Kata mommy tadi, besok pagi diperiksa."


"Iya." Kata Shanum sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Cello. Setelahnya, Shanum dan Cello segera terlelap.


Keesokan paginya, seperti biasa Shanum terbangun lebih dahulu. Dia bergegas ke kamar mandi sambil membawa alat tes kehamilan yang sudah dibelikan oleh sang suami. Keningnya langsung berkerut saat melihat banyaknya alat tes tersebut.


"Astaga! Sebanyak ini?" Gumam Shanum. Dia menghitung ada sepuluh alat tes kehamilan dengan lima jenis yang berbeda. Masing-masing jenis ada dua buah. Shanum hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat hal itu. Namun, dia segera mengambil beberapa dan mulai memeriksanya setelah melihat petunjuk penggunaan.


Shanum mencoba tiga jenis alat tes tersebut. Dia masih berada di dalam kamar mandi untuk menunggu hasilnya. Shanum berdoa semoga harapannya dan semua keluarga benar-benar terjadi.


Beberapa saat kemudian, sudah nampak hasil yang ditunjukkan oleh alat tes tersebut. Kedua bola mata Shanum langsung membesar saat melihatnya. Seketika Shanum langsung berteriak memanggil sang suami.


"Masss!"


Jangan lupa tinggalkan jejak buat othor ya. Terima kasih.