
Part pelajaran dari Kinan 2
Lagi-lagi wajah Dena memerah. Bisa-bisanya Dena menunjukkan maksud ucapannya dengan Video yang entah dari mana diperolehnya. Drna benar-benar merasa sangat malu saat melihatnya.
Kinan yang melihat tingkah Dena pun langsung tergelak. Ibu hamil tersebut benar-benar malu tapi mau.
"Kamu malu-malu begitu tapi mau juga Den. Hahahaha." Tawa Kinan bahkan tak bisa ditahan lagi.
"Apaan, sih? Sudah, sudah. Aku sudah tidak mau lagi melihatnya. Kamu ini salah kaprah." Dena masih menggerutu tidak jelas meski matanya sesekali melirik layar ponsel sang sahabat.
Kinan mengerucutkan bibir sambil menarik ponselnya kembali.
"Ini bukan salah kaprah, Den. Kebanyakan, laki-laki itu, suka dengan wanita lebih agresif jika di atas ranjang," ucap Kinan.
Kening Dena berkerut saat mendengar ucapan Kinan. "Maksudnya agresif itu bagaimana? Apa yang seperti menari-nari dan melet-melet begitu?" tanya Dena.
Kinan menoleh dan menatap wajah Dena dengan tatapan tajamnya. "Apa itu melet-melet? Memang kamu pikir mau gantung dri melet-melet begitu? Jangan aneh-aneh, deh." Kinan mendengus kesal.
"Lalu, maksudnya agresif itu bagaimana?"
Kinan menghela napas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Dena.
"Hhhhh. Dengar, Den, aku akan kasih tahu pengalamanku. Kamu tau sendiri bagaimana cerita awal pernikahanku, kan? Aku juga sama sekali tidak ada niatan untuk menikah. Jangankan menikah, pacar saja kabur-kaburan."
"Awalnya, kami memang dua orang yang tidak saling mengenal. Namun, semakin lama, kami belajar untuk saling menerima kehadiran masing-masing. Kamu tahu suamiku seorang duda, kan? Sudah pasti, dia memiliki pengalaman yang lebih banyak daripada aku untuk urusan ranjang."
"Setelah acara pernikahan, dia benar-benar menjaga jarak denganku meski kita masih terus berinteraksi seperti biasa. Namun, semakin lama, dia sepertinya semakin nggak tahan dan semakin tergoda saat melihat tubuhku yang seksoy gemoy ini. Hahaha," Kinan melenggokkan tubuhnya dan menunjukkan keseksoyannya dengan gerakan tangan.
Dena masih mengerjap-ngerjapkan kedua matanya tidak percaya. Mulutnya juga masih terbuka saat mendengar perkataan Kinan. "Cckkk, apanya yang gemoy, ishh."
"Begini, Den. Aku memang tidak se seksoy dan se gemoy para model-model di luar sana. Tapi, aku bisa membuat pasangan halalku hanya melirik ke arahku saja. Jika biasanya laki-laki yang meminta haknya terlebih dahulu, tapi aku bertekad dia akan selalu mengingatku dalam pikirannya."
"Dan, itu benar-benar terbukti. Terserah jika kamu berpikir aku terlalu agresif, tapi aku memang selalu memakai pakaian yang 'horor' ketika berada di dalam kamar. Aku juga tidak segan-segan meminta lebih dulu kepada suamiku. Bahkan, ketika dia sedang sibuk di depan laptopnya, aku bisa membuatnya langsung menggeram tertahan hanya dengan permainan jariku ini. Hehehe."
Dena benar-benar tidak menyangka jika Kinan melakukan hal itu. Selama menikah dengan Rean, dia hanya beberapa kali pernah melakukannya. Selain karena malu, Dena juga benar-benar bingung harus melakukan apa lebih dulu saat meminta hal 'itu' lebih dulu kepada Rean.
Namun, setelah kompor-kompor Kinan, Dena mulai memikirkan apa yang bisa dilakukannya untuk membuat senang sang suami saat kondisinya sedang hamil besar seperti itu. Dan, setelah mengobrol sepanjang siang dengan Kinan hari itu, Dena memutuskan untuk mencobanya nanti malam.
Menjelang sore, Rean sudah pulang. Kinan juga sudah pulang sejak setelah makan siang tadi. Dena membantu sang suami menyiapkan pakaian gantinya seperti biasa.
Setelah membersihkan diri, seperti kebiasaannya selama ini, Rean selalu menyapa ketiga calon anaknya yang masih berada di dalam perut Dena. Saat ini, Dena sudah duduk di tepi tempat tidur dengan Rean yang berjongkok di depan perutnya.
"Sayang, baik-baik di dalam perut Mama, ya. Beberapa bulan lagi kita ketemu. Papa sudah nggak sabar bertemu dengan kalian." Rean masih menggesek-gesekkan pipi kirinya pada perut sang istri. Kecupan-kecupan kecil juga sudah mendarat pada perut buncit tersebut.
Dena mengusap surai hitam sang suami dengan lembut. Setiap Rean menyapa calon buah hati mereka, Dena merasa sangat bahagia.
Setelah dirasa cukup, Rean segera berdiri. Dia bermaksud untuk mengajak sang istri ke luar kamar. Namun, Rean tiba-tiba terkejut saat Dena melakukan sesuatu yang membuat darahnya berdesir hebat. Dengan penuh keberanian, Dena menggerakkan tangannya untuk meraih resleting celana sang suami dan menariknya turun.
Gerakan tangan Dena mulai membuai dan menggoda sesuatu di bagian bawah tubuh Rean. Apa yang di rasakan Rean saat itu? Tentu saja darah Rean langsung berdesir hebat. Jantung Rean juga mulai berdetak tak karuan. Apalagi, saat tataoan matanya melihat wajah sang istri semakin mendekat di bawah sana.
"Ya-Yang? A-apa ini hasil kuliah singkat dengan Miss Kinan tadi siang?"
\=\=\=
Kira-kira, dijawab apa sama Dena ya? 🤔