
Bian langsung m*nghis*p benda kenyal tersebut dengan rakusnya. Dia bahkan tidak membiarkan kembarannya menganggur. Tangan kirinya juga sudah bekerja di sebelah. Tidak hanya bibir Bian yang bekerja, namun lidahnya juga sudah mulai aktif.
"Aauuwwhhh, kenceng banget sedotnya, Mas. Asinya nggak bakal keluar, tapi yang bawah yang keluar." Kata Revina sambil tangan kanannya meremas rambut Bian dan sedikit menekannya. Sedangkan tangan kiri Revina meremas sprei kuat-kuat.
Bian mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah sang istri. Dia mengerutkan keningnya saat memandangi wajah Revina yang terlihat mupeng tersebut.
"Apanya yang keluar, Dek?" Tanya Bian. Entah maksudnya apa dia berbicara seperti itu. Bohong pastinya jika nggak paham, iye kan Thor? 🤭
"I-itu, Mas. Yang bawah sudah kedutan dan banjir." Jawab Revina sambil menggigiti bibir bawahnya.
"Eh, benarkah?" Tanya Bian sambil mengangkat tubuhnya. Kini dia sudah sedikit duduk dan membuktikan apa yang baru saja istrinya katakan.
Kedua bola matanya membulat dengan sempurna saat melihat lahan yang sudah gundul dan licin bak perosotan yang berada di taman kanak-kanak. Bian benar-benar masih diam terpaku tak bergerak. Baginya, ini pertama kalinya melihat hal seperti itu secara langsung. Biasanya hanya lewat video ya mas Bian? Hust, jangan buka kartu Thor.
Melihat sang suami masih diam tak bergerak, Revina menjadi semakin gelisah. Entah mengapa dia sudah merasa tidak sabar menunggu scene selanjutnya. Eh kata othor, bukan hanya kamu saja, Rev yang sudah tidak sabar. Yang lainnya juga sama. 🤭
Grep.
Revina benar-benar sudah tidak sabar menunggu Bian. Dia langsung memeluk Bian dan menggulingkannya diatas tempat tidur lalu menindihnya. Bian benar-benar terkejut melihat tindakan Revina. Belum lagi pemandangan yang kini sudah mengisi seluruh matanya. Dua buah pabrik nutrisi yang menggantung tepat di atas wajahnya.
"Diluar dingin, Mas. Kita bakar-bakaran di dalam kamar ya?" Kata Revina sambil menggerakkan tangannya untuk membuka ikat pinggang sang suami.
"Eh, ma-maksudnya? Buat api unggun?" Bian mendadak gagap bicara dengan mata tak berpindah dari benda yang menggoda matanya. Otaknya juga mendadak lumpuh saat terkena pabrik nutrisi. Entah apalagi yang terjadi dengannya jika sudah terpeleset kawah.
"Sembarangan. Memangnya kamu mau membakar villa pak Kaero?" Kata Revina sambil menarik reslesting celana Bian sedikit lebih kencang.
"Aaaahhhh, jangan kencang-kencang. Aku nggak mau disunat lagi." Kata Bian dengan wajah memelasnya.
"Sembarangan disunat lagi. Aku saja belum merasakan, enak saja mau maen potong." Jawab Revina sambil sedikit berdiri dan menarik celana sang suami. Alhasil, terpampang sudah apa yang dipikirkan para reader semuanya.
"Aiissshhhhh sssshhhh. Dekkk." Bian sedikit terkejut saat Revina menarik celana nya. "Tu-tutupin gih." Kata Bian sambil memalingkan wajahnya. Wajahnya sudah mulai memerah.
Revina yang sudah gemas dengan tingkah sang suami, langsung saja menindihnya.
"De-Deeekkk, i-itu…" Belum sempat Bian menyelesaikan perkataannya, mulutnya langsung dibungkam oleh pabrik nutrisi Revina.
"Hap. Eemmppphhh nyemmmmmpphhh eemmppphhh."
Bian langsung bersemangat mendapati asupan nutrisi mampir di mulutnya. Diatambah lagi bagian bawahnya mulai terasa n*km*t karena gerakan-gerakan yang dilakukan oleh sang istri.
"Ssshhhhh, Maasssshhh. Aku sudah nggak tahan. Langsung ke TPS yuk." Kata Revina sambil memejamkan matanya dengan kepala mendongak ke atas.
Seketika Bian melepaskan mulutnya dan menatap wajah sang istri.
"Kamu daftar caleg, Dek?" Tanya Bian bingung.
"Enggak, Mas. Ke TPS untuk coblosan ini nih." Kata Revina memulai aksinya.
Bian benar-benar terkejut saat mendapati tindakan Revina.
"Deeekkkk?!"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Satu part lagi masih suasana coblosan di TPS 🤭