
Kenzo membulatkan matanya ketika melihat pantulan tubuh Vanya yang dibalut dengan kebaya dengan rambut yang digelung acak-acakan ke atas. Kenzo segera berbalik dan menatap Vanya tanpa berkedip.
Kenapa dia terlihat berbeda sekali, batin Kenzo. Dia harus menelan salivanya dengan susah payah ketika melihat leher jenjang Vanya yang terekspos dengan sempurna. Tak seperti biasanya Vanya menggelung rambutnya ke atas. Biasanya dia hanya membiarkan rambutnya tergerai di punggungnya.
Mama Tari dan tante Risma yang melihat Kenzo begitu terpesona langsung tersenyum. Mereka bahkan memperhatikan Kenzo yang tidak mengalihkan pandangannya pada Vanya.
"Eheemmm. Jadi, cantik tidak Ken?" Tanya tante Risma.
"Iya. Cantik sekali, lehernya putih sekali," jawab Kenzo keceplosan tanpa sadar. Matanya masih memandang Vanya tanpa berkedip. Namun, setelah mengucapkannya, Kenzo segera tersadar. "Eh, maksud saya.. it-itu bagus tante," koreksinya sambil memalingkan wajah. Hal itu malah membuat mama Tari dan tante Risma tertawa terbahak-bahak.
"Kamu ini Ken, apa salahnya memuji calon istri sendiri. Tante sendiri sangat suka jika suami tante sering memuji tante. Meskipun memang benar tante memang masih cantik sih," kata tante Risma penuh percaya diri.
Kenzo memutar bola matanya dengan jengah. Dia sudah sangat hafal dengan kenarsisan tante Risma. Sementar sang mama, masih tersenyum bahagia melihat sang putra akan benar-benar menikah.
Setelah selesai fitting baju, mama Tari segera pergi menuju tempat WO yang bertugas untuk menghandle acara pernikahan Kenzo dan Vanya. Sementara Vanya akan kembali ke kosan. Namun, ketika Vanya dan Kenzo hendak berjalan menuju parkiran tiba-tiba mobil Reyhan sudah berhenti di dekat mereka. Kenzo mengernyitkan dahinya.
"Ada apa menyusul kemari?" Tanya Kenzo ketika Reyhan berjalan tergesa-gesa menghampirinya.
"Maaf tuan. Mr. Chan ingin bertemu anda sebelum berangkat ke bandara hari ini. Beliau ingin membicarakan penambahan detail kesepakatan sebelum kembali ke Singapura," kata Reyhan.
Kenzo menepuk dahinya. Dia benar-benar lupa janjinya dengan Mr. Chan hari ini.
"Baiklah, dimana kita akan bertemu?" Tanya Kenzo.
"Di restaurant yang kemarin tuan, pukul lima sore," jawab Reyhan.
Kenzo melihat jam tangannya. Tinggal tiga puluh menit lagi. Dia beralih menatap Vanya yang masih berdiri di sampingnya mendengarkan percakapan dirinya dan Reyhan.
"Saya harus bertemu dengan Mr. Chan sekarang, kamu bisa pulang dengan Reyhan," kata Kenzo.
"Tidak usah repot-repot. Aku bisa pulang sendiri kok," tolak Vanya.
"Aku tidak menerima penolakan," kata Kenzo dengan tegas. "Rey, kamu antar Vanya pulang sekarang," kata Kenzo kepada Reyhan. Reyhan hanya bisa mengangguk mengiyakan.
Vanya masih mengerucutkan bibirnya mendengar perkataan Kenzo. Dia benar-benar diktator, semua hal harus dituruti. Awas saja nanti jika dia memaksa hal yang aneh-aneh, akan aku adukan pada mama Tari. Batin Vanya.
"Ada apa?" tanya Kenzo. "Tidak mau ditinggal?" Lanjutnya.
Vanya mendengus kesal. "Enak saja, siapa juga yang tidak mau ditinggal. Sana-sana cepat pergi gih," jawab Vanya sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
Kenzo tersenyum tipis melihat tingkah Vanya. Dia mendekat dan mengacak-acak rambut Vanya sebentar.
"Langsung pulang, jangan keluyuran. Aku tidak mau acara beberapa hari lagi berantakan," katanya.
Vanya yang kesal segera melepaskan tangan Kenzo dari kepalanya. "Iihhh, apaan sih. Rambutku jadi berantakan ini," gerutu Vanya. "Iya-iya, ini juga langsung pulang. Sudah sana pergi," lanjut Vanya mengusir Kenzo.
Kenzo segera melangkahkan kakinya menuju kendaraannya. Sedangkan Vanya segera masuk kedalam mobil Reyhan mengikuti si empunya. Kedua mobil mereka bergerak berlawanan arah, karena memang tujuan mereka berbeda arah.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=\=
Masih mau up lagi kah?
Aku bakal up lagi nih
Jgn lupa dukungannya ya, like, comment dan vote. Biar authornya tidak merasa sendiri
Thank you 🤗🤗