The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Mencari Informasi



Siang itu setelah makan siang, Fida memutuskan untuk segera pulang. Vanya yang sudah sendirian lagi langsung merebahkan diri diatas sofa ruang tengah. Ya, libur seperti inilah yang tidak disukainya. Dia merasa sendirian dirumah tidak melakukan apa-apa, sementara pekerjaan rumahnya sudah selesai dikerjakannya dengan bantuan Fida tadi.


Vanya melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 14.18. Berarti masih lama Kenzo akan sampai di rumah. Vanya segera meraih ponselnya dan mencari nomor sang suami. Setelah mendapatkannya, Vanya segera mengetikkan pesan kepada Kenzo.


14.21


Mas, sedang dimana? Di kantor atau di luar? ~ Vanya


Tak berapa lama kemudian terdapat balasan dari Kenzo.


14.25


Ini baru sampai di kantor. Tadi ada janji makan siang dengan pak Vanno. Ada apa?" ~ Kenzo.


Vanya mengerutkan keningnya. Dia kemudian segera membalas pesan sang suami.


14.26


Aku bosan sendirian di rumah Mas. Mama dan papa juga ada di Bali bersama Kezia. 😥 ~ Vanya


14.28


Tunggulah sebentar lagi, aku akan segera pulang. Kamu masak makan malam saja untukku dan Reyhan. Ada yang harus kami bahas nanti malam. ~ Kenzo


14.30


Baiklah. Cepat pulang ya Mas. ~ Vanya


Setelah membalas pesan Kenzo, Vanya segera beranjak ke dapur. Dia segera mulai untuk membuat makan malam. Bahan-bahan yang ada di dapur segera di siapkannya. Vanya terlihat mulai menikmati apa yang dikerjakannya saat itu.


Hingga menjelang petang semua makan malam yang di masaknya sudah selesai. Vanya segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, Vanya segera kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


Tak berapa lama kemudian, terdengar suara mobil berhenti. Vanya yakin itu suara mobil Kenzo. Dan benar saja. Tak lama kemudian, Kenzo dan Reyhan terlihat memasuki rumah dan berjalan menuju ruang makan. Vanya segera menyambut sang suami dan meraih tangannya. 


"Masak apa untuk makan malam?" Tanya Kenzo sambil melirik meja makan.


"Macam-macam, Mas. Tuh lihat sendiri." Jawab Vanya.


Kenzo memperhatikan sebentar sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian, dia berbalik menghadap Reyhan yang masih berdiri di belakangnya.


"Bersih-bersih dulu Rey, setelah itu makan malam. Setelah itu, kita bahas pekerjaan tadi." Kata Kenzo.


"Baik, Tuan." Jawab Reyhan sambil beranjak pergi ke kamarnya.


Kenzo juga segera beranjak ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sementara Vanya segera menyelesaikan pekerjaannya untuk menyiapkan makan malam.


Tak berapa lama kemudian, mereka bertiga sudah berada di ruang makan. Mereka mulai untuk menyantap makan malamnya. Sesekali Reyhan mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. Hal itu tak luput dari perhatian Vanya.


"Ada apa Rey?" Tanya Vanya setelah menenggak minumannya.


"Eh, ada apa bagaimana maksudnya, Nona?" Tanya Reyhan pura-pura tidak mengerti.


"Itu, kamu celingak celinguk cari apa?" Tanya Vanya. "Atau, kamu mencari Fida?" Lanjut Vanya.


Seketika Reyhan tersentak. Dia terkejut kenapa Vanya bisa membaca gerak geriknya.


Kenzo yang mendengar perkataan Vanya pun langsung menatap wajah Reyhan. Dia penasaran dengan apa yang dikatakan sang istri.


"Beneran kamu mencari Fida, Rey?" Tanya Kenzo.


"Tentu saja tidak, Tuan. Untuk apa saya mencari anak itu." Jawab Reyhan sambil mengambil air minum.


"Kamu tidak bertanya kemana Fida, Rey?" Goda Vanya.


Reyhan menatap Vanya sekilas sebelum menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Untuk apa saya menanyakan keberadaan anak itu, Nona? Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan anak itu." Jawab Reyhan.


"Yakin?" Goda Vanya.


Reyhan semakin mencebikkan bibirnya.


"Iya." Jawab Reyhan dengan ketus.


"Bukannya…" belum sempat Vanya meneruskan perkataannya, Kenzo sudah menginterupsinya.


"Sudah-sudah. Kalian ini selalu saja. Lanjutkan makannya dulu. Setelah itu, baru kalian bisa bicara." Kata Kenzo.


Setelah selesai membereskan meja makan, Vanya menyusul Kenzo di ruang tengah sambil membawa kopi dan makanan ringan. Dia benar-benar ingin menanyakan sesuatu kepada Reyhan.


"Rey, boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Vanya sambil memberikan kue kering kepada Kenzo.


Baik Kenzo dan Reyhan saling mengernyitkan keningnya. Mereka terlihat penasaran dengan apa yang akan ditanyakan oleh Vanya.


"Boleh. Silahkan, Nona." Jawab Reyhan.


"Apa benar kamu sudah mempunyai kekasih atau pacar?" Tanya Vanya.


Sontak Reyhan dan Kenzo terkejut mendengar perkataan Vanya.


"Tidak, Nona. Saya sama sekali tidak mempunyai pacar." Jawab Reyhan.


"Benarkah? Lalu, siapa yang waktu itu jalan dengan kamu?" Tanya Vanya.


"Hhhaaahh?! Jalan dengan saya? Kapan?" Bukannya menjawab pertanyaan Vanya, Reyhan malah balik bertanya.


Reyhan masih belum mengetahui kemana arah pertanyaan Vanya. Dia masih bingung menjawabnya.


"Itu, yang waktu kamu dan seorang perempuan sedang belanja." Jawab Vanya.


Reyhan kembali mengerutkan keningnya. Dia kembali mengingat-ingat kapan dia berbelanja dengan seorang perempuan. Namun, dirinya sama sekali tidak merasa sedang jalan bersama perempuan manapun.


"Beneran kamu jalan dengan perempuan, Rey? Kamu menyembunyikannya kepada kami?" Kali ini Kenzo yang berbicara.


Reyhan menggelengkan kepalanya dan menggoyang-goyangkan kedua tangannya.


"Tentu saja tidak, Tuan. Mana ada saja jalan dengan perempuan." Jawab Kenzo. Netra matanya kemudian beralih menatap wajah Vanya. "Memangnya kapan Nona melihat saya sedang jalan dengan perempuan? Dan dimana tempatnya?" Reyhan bertanya kepada Vanya.


"Ehm, aku tidak tahu tepatnya kapan, tapi yang jelas kamu sedang berbelanja dengan seorang perempuan. Untuk tempatnya sih, mungkin di minimarket dekat kampusku." Jawab Vanya.


Kali ini Kenzo yang menatap wajah sang istri.


"Kamu ini aneh, Van. Bagaimana kamu bisa tidak yakin tempat dan lokasinya. Bukannya kamu melihat sendiri Reyhan?" Tanya Kenzo.


Vanya mengerucutkan bibirnya. Dia menatap wajah Kenzo sambil mendengus kesal.


"Bukan aku yang lihat Reyhan jalan dengan seorang perempuan, Mas. Tapi Fida yang melihatnya. Fida melihat Reyhan jalan dengan seorang perempuan. Dia pikir itu adalah pacar Reyhan." Kata Vanya.


Sontak Reyhan terkejut mendengar perkataan Vanya. Kali ini, dia bisa mulai mengerti arah pembicaraan Vanya. Dia ingat waktu dimana dia bertemu dengan Fida saat berbelanja di minimarket waktu itu.


"Ah, saya ingat sekarang. Saya mengerti apa yang anda maksudkan, Nona." Kata Reyhan sambil tersenyum geli.


Baik Vanya maupun Kenzo langsung menoleh menatap wajah Reyhan. Mereka bisa melihat wajah Reyhan yang berusaha menutupi senyum gelinya.


"Kenapa kamu tersenyum seperti itu, Rey? Geli tau." Kenzo memprotes tingkah Reyhan.


"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bisa menghentikan senyuman saya." Jawab Reyhan sambil masih tersenyum.


"Lalu, bisa kamu jelaskan apa maksud kamu sekarang, Rey?" Tanya Vanya.


Dia sudah sangat tidak sabar menunggu penjelasan Reyhan.


"Baiklah, baiklah. Saya akan menjelaskan siapa perempuan yang bersama saya waktu saya bertemu dengan sahabat Nona. Dia adalah sepupu anda, Tuan. Nona Anggita." Jawab Kenzo sambil tersenyum geli.


"Hhaahh?! Anggita? Apa maksud kamu Rey? Kamu jalan dengan Anggita? Jangan macam-macam kamu Rey, dia sudah menikah!" Kali ini Kenzo yang terkejut.


Kenzo sudah berpikir yang tidak-tidak dengan Reyhan. Sementara Reyhan langsung mendengus kesal.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Mohon maaf kerjaan othor di RL benar-benar menumpuk, kemarin tidak bs up 🙏