
"Tenang Rey, aku akan membantumu." Kata Vanya yang dihadiahi oleh tatapan tajam dari Kenzo.
Reyhan langsung menoleh menatap wajah Kenzo dan Vanya bergantian. Dia hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Dia bingung menghadapi bos dan istrinya kali ini.
Setelah selesai makan malam, Kenzo mengajak Reyhan ke ruang kerjanya. Ada beberapa hal yang harus dibicarakan untuk besok. Sementara Vanya, dia langsung membereskan meja makan. Tak lama setelah semua beres, Vanya datang ke ruang kerja Kenzo sambil membawa dua cangkir kopi untuk Kenzo dan Reyhan.
Vanya langsung pergi ke kamarnya, setelah mengantarkan kopi untuk Kenzo dan Reyhan. Dia segera mengambil ponselnya dan berniat untuk menghubungi Fida. Dia ingin mulai menjalankan rencananya malam itu.
Tut tut tuuuttt
Suara panggilan telepon Vanya masih belum diangkat oleh Fida. Namun, setelah dering ke tiga, panggilan telepon tersebut langsung diangkat oleh Fida.
"Halo Van, ada apa kamu menelepon malam-malam begini?" Tanya Fida setelah panggilannya telepon tersebut tersambung.
"Eh, ada yang mau aku omongin nih. Kamu dimana? Kenapa berisik sekali sih." Tanya Vanya.
"Ini aku ada di Prayit cari makan, perutku lapar." Jawab Fida.
"Hhhaaa?! Malam-malam begini, sama siapa?" Tanya Vanya sedikit khawatir. Pasalnya, daerah itu banyak sekali para pemuda yang nongkrong di sana. Vanya khawatir jika Fida sampai kenapa-napa.
"Sendiri lah. Tadi naik ojek online." Jawab Fida.
"Kok sendirian sih cari makan sampai sana. Memangnya tante tidak masak?"
"Lha, mama dan papa kan ke Palembang sejak kemarin, gimana sih." Gerutu Fida.
Ah iya, Vanya lupa. Kemarin Fida sudah memberitahu jika orang tuanya akan ada di Palembang selama kurang lebih satu minggu. Ada hajatan di rumah keluarganya. Fida terpaksa tidak ikut, karena dia mengulang mata kuliah yang harus ujian minggu-minggu ini.
"Ah iya, maaf aku lupa." Kata Vanya. "Lalu, setelah ini kamu mau kemana?" Tanya Vanya.
"Ya pulanglah. Nggak mungkin ke rumah kamu, bisa-bisa digorok oleh suami kamu, hiiiyy." Jawab Fida sambil membayangkan wajah Kenzo dengan ngeri.
Seketika Vanya tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Fida. Memang betul apa yang dikatakan sang sahabat. Kenzo bisa berubah sangat dingin dan menakutkan jika dirinya merasa tidak nyaman atau terganggu. Begitupun saat Fida bertandang ke rumah mereka. Fida pasti akan sangat rame sehingga membuat Kenzo harus mendelik tajam menatapnya.
"Nggak apa-apa kok, mas Kenzo sudah jinak sekarang." Kata Vanya.
"Iidiiihhh, jinak apaan. Terakhir ketemu masih saja merinding kalau lihat mukanya. Lagian ya Van, emang kamu bisa ngerasain enak apa saat iya-iya sama suami kamu terus lihat mukanya yang judes, kaku plus tatapan mata tajam begitu. Nggak mungkin kamu bisa sampai meracau aaahhh uuhhhhh aaahhhh uuuhhh yang ada pasti bilang hhiiiyy takuut, hhiiiyyy syereeemm." Kata Fida.
Seketika Vanya langsung malu mendengar perkataan sang sahabat jika sudah membicarakan hal-hal 'horor' seperti itu.
"Apaan sih Fid. Ya nggak gitu juga kok." Kata Vanya. "Yasudah hati-hati jika pulang. Besok, aku mau ketemu. Ada yang mau aku obrolin sama kamu." Lanjut Vanya.
"Hhhmm, oke. Besok kabarin aku mau ketemu dimana." Jawab Fida.
"Baiklah, ya sudah aku tutup dulu teleponnya." Pamit Vanya
"Hhhmmm."
Tut.
Keduanya pun saling menutup panggilan telepon tersebut. Vanya segera meletakkan teleponnya di atas nakas dan segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat masih berada di dalam kamar mandi, Kenzo sudah masuk ke dalam kamar. Rupanya dia sudah selesai membicarakan masalah pekerjaan bersama Reyhan, dan Reyhan pun juga sudah pulang.
Ceklek
Vanya keluar dari dalam kamar mandi setelah membersihkan diri. Dia melihat Kenzo yang sudah duduk di pinggir tempat tidur sambil bertelanjang dada dan memainkan ponselnya. Seketika Kenzo mengangkat kepalanya melihat ke arah Vanya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Sudah selesai?" Tanya Kenzo sambil meletakkan ponselnya di atas nakas di samping ponsel Vanya.
"Hhhmmm, bersih-bersih dulu gih Mas. Aku ambil air minum dulu." Kata Vanya yang selanjutnya melangkahkan kakinya ke luar kamar.
Grep
Kenzo yang mendapat perlakuan tiba-tiba dari Vanya sedikit terkejut.
"Eh, ada apa ini. Sudah nggak sabar mau hokya-hokya ya, hhmmm." Kata Kenzo sambil membalik tubuhnya hingga menghadap ke arah Vanya.
"Iihh, apaan sih. Itu yang ada di dalam otak mas Kenzo hokya-hokya terus ih." Kata Vanya sambil mengerucutkan bibirnya.
Kenzo terkekeh geli mendengar sang istri tengah merajuk. Dia segera duduk di tepi tempat tidur dan menarik tubuh Vanya agar duduk di pangkuannya.
"Katakan, ada apa? Ada yang ingin kamu sampaikan?" Tanya Kenzo.
Vanya mengalungkan kedua lengannya pada leher Kenzo. Dia masih menggigiti bibirnya dan menundukkan kepalanya. Vanya masih terlihat khawatir menyampaikan hal itu kepada Kenzo. Dia tidak ingin suaminya marah. Namun, dia juga tidak ingin menyembunyikan sesuatu yang nanti bisa berakibat buruk pada pernikahannya.
"Ehm, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi, mas Kenzo janji dulu jangan marah ya." Kata Vanya.
Kenzo mengerutkan keningnya bingung. Dia masih belum bisa menangkap maksud dari Vanya. Namun, dia segera mengangguk menyetujui permintaan sang istri.
"Baiklah, aku janji tidak akan marah. Sekarang, katakan ada apa." Kata Kenzo.
Vanya segera mengubah posisinya. Sekarang dia tengah duduk di atas pangkuan Kenzo secara berhadap-hadapan. Dia tidak peduli baju tidur berbentuk terusan dengan penyangga tali kecil pada kedua bahu yang dipakainya itu, tersingkap di bagian bawahnya. Kenzo terlihat membulatkan mata dan mulutnya saat menyadari melon Vanya tepat berada di depan wajahnya.
Kenzo benar-benar tidak bisa fokus kali ini. Dia mendekatkan hidungnya pada pucuk melon yang terekspos sempurna karena tidak dipakaikan kacamata itu. Kenzo menggesek-gesekkan hidungnya pada pucuk melon Vanya berkali-kali hingga membuat si empunya mendesis tidak karuan. Namun, Vanya berusaha untuk fokus.
"Massshhh, berhenti dulu. Aku mau ngomong sesuatu." Kata Vanya.
"Katakan saja. Aku akan mendengarkanmu." Jawab Kenzo sambil masih terus melakukan aktivitasnya.
"Iihhh, aku nggak bisa konsentrasi Mas. Pikiranku ambyar nanti." Kata Vanya sambil menjauhkan kepala Kenzo.
Namun, bukan Kenzo namanya jika tidak bandel. Dia kembali lagi melakukan aksinya. Bahkan, sekarang ditambah dengan aksi gigit menggigit kecil benda yang selalu membuat gemas Kenzo tersebut. Vanya yang sudah ikut terbawa suasana bukannya menjauhkan kepala sang suami malah menekan kepala Kenzo hingga terbenam pada kedua melonnya.
"Maasshhh, aku mau ngomong. Ada yang suka sama aku." Kata Vanya sambil menahan bibirnya mengeluarkan suara.
Deg
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Kira-kira bagaimana reaksi babang Kenzo ya? 🤔
Jangan lupa dukungannya ya, like, komen dan vote.
Untuk informasi up dan karya terbaru silahkan follow ig othor @keenandra_winda
Terima kasih