
Setelah makan malam, Cello dan sang daddy mengobrol di beranda depan. Matahari yang baru saja tenggelam pada pukul tujuh malam, masih menyisakan semburat jingga di ufuk barat. Rumah Cello yang kebetulan menghadap barat, bisa dengan jelas melihat keindahan alam tersebut.
Cello dan sang daddy menikmati secangkir kopi dan kue yang baru saja dibuat oleh mommy Fara di teras depan.
"Bagaimana pelatihan kamu, Cell?" tanya daddy El sambil menyeruput kopinya.
"Alhamdulillah baik, Dad. Semua berjalan dengan lancar. Kata Mr. John, aku bahkan bisa langsung terjun ke perusahaan rujukan bulan depan."
"Eh, kenapa secepat itu?"
"Nilai evaluasiku lumayan tinggi kemarin, Dad. Aku juga mendapat rekomendasi langsung dari Mr. John."
Daddy El mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Baguslah jika begitu. Setahu Daddy, jika sudah bisa terjun ke perusahaan langsung, kamu tinggal menyelesaikan pelatihan sekitar empat sampai lima bulan lagi."
"Benar. Kemarin Mr. John juga sudah menjelaskan semuanya tentang hal itu. Aku hanya bisa berusaha sebaik mungkin dan berdoa agar bisa menyelesaikan pelatihan ini dengan cepat, Dad. Aku juga tidak mau terlalu lama tinggal di sini."
Kening daddy El berkerut. Dia masih belum mengerti dengan maksud perkataan Cello.
"Eh, memangnya kenapa jika tinggal lama di sini? Anak istri kamu kan juga sudah menyusul di sini."
"Bukan apa-apa sih Dad. Hanya saja, aku tidak mau anak-anakku nanti tidak tumbuh di lingkungan budayanya sendiri. Aku hanya khawatir mereka banyak terpengaruh kebudayaan asing. Apalagi, perkembangan sekarang terbilang sangat cepat."
Daddy El mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Dia sendiri pernah mengalami masa-masa seperti itu saat mengambil gelar S2nya dulu. Padahal, jaman dulu perkembangan teknologi belum sepesat sekarang.
"Kamu benar, Cell. Tapi meskipun begitu, bukan berarti dengan tinggal di negara sendiri anak-anak kamu bisa lepas begitu saja dari pengaruh dunia luar."
"Daddy benar tentang hal itu. Tapi, setidaknya ada daddy, mommy, mama, papa dan keluarga yang lainnya yang bisa membantu kami."
Keduanya larut dalam obrolan ringan malam itu. Hingga udara dingin sudah benar-benar tidak bersahabat. Cello dan daddy El segera masuk dan beranjak untuk beristirahat.
Keesokan paginya, daddy El dan mommy Fara sudah kembali berolahraga pagi. Mereka sangat menyukai udara pagi di sekitar rumah Cello. Benar-benar lingkungan yang sangat bersih dari polusi udara berlebihan.
"Hari ini pulang seperti kemarin, Mas?" tanya Shanum sambil mengambilkan baju untuk sang suami.
Cello yang saat itu masih memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya berjalan kesana kemari sambil menggoda kedua putranya yang sudah bangun tersebut.
"Iya, Yang. Jadwalku seminggu ini tetap kok. Memangnya ada apa?"
"Nggak ada apa-apa, Mas. Aku hanya khawatir jika mommy dan daddy bosan di sini."
Seketika wajah Shanum berbinar bahagia. Dia benar-benar tidak mengetahui jika kedua mertuanya tersebut akan mengadakan bulan madu kembali.
Saat Cello sedang berpakaian, terdengar suara bel dari pintu depan. Shanum dan Cello yang berada di lantai satu mendengar dengan jelas suara bel tersebut.
"Eh, sepertinya ada yang datang. Siapa, Mas?"
"Entahlah. Tapi biasanya jika pagi begini, wanita paruh baya di ujung jalan itu yang sering mengunjungi rumah-rumah warga. Dia biasanya membagikan panenan sayuran dari kebunnya."
Shanum mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum beranjak untuk membukakan pintu. Dia membenahi baju rumahannya yang terlihat terbuka pada kancing bagian atasnya.
Ceklek.
Pintu rumah terbuka. Shanum melihat seorang wanita yang masih sangat muda dengan pakaian formal berdiri tepat di depannya. Keng keduanya berkerut saat kedua bola mata mereka bertemu.
"Who are you?" tanya wanita tersebut.
"Lhah, ini bulek kok malah tanya siapa aku, seharusnya kan aku yang bertanya," kata Shanum sambil menggerutu kesal.
Wanita tersebut yang memang tidak paham bahasa Indonesia langsung kembali bertanya.
"Sorry, who are you?"
"I'm Shanum."
"Shanum? Maid?"
Lagi-lagi Shanum terkejut mendengar pertanyaan wanita tersebut.
Belum sempat Shanum menjawab pertanyaan wanita tersebut, terdengar suara Cello dari belakang tubuhnya.
"Lho, Alicia?!"
Seketika Shanum langsung berbalik dan menoleh ke arah Cello.
"Hhaah? Kamu kenal dia, Mas?"
Glek.
Mohon bantu votenya ya. Terima kasih.