
"Lalu, kamu mau dipanggil apa?" Tanya Shanum.
"Itu jadi PR kamu." Jawab Cello.
Shanum hanya bisa mencebikkan bibirnya. Setelahnya, panggilan telepon tersebut terputus. Shanum segera mengembalikan ponsel Rean dan mengambil ponselnya sendiri. Dia langsung mengirim pesan kepada mommy Fara untuk memberitahukan ukuran bajunya.
Dan, bukan mommy Fara jika tidak jahil. Dia justru langsung menelepon Shanum dan menanyakan seluruh ukurannya. Mulai dari ukuran sepatu, ukuran celana hingga ukuran kacamata dan segitiga bermuda, hingga membuat Shanum benar-benar merasa malu.
••
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sejak pagi, Shanum bahkan sudah mendapat mendapatkan perlakuan khusus dari para mua pengantin yang bertugas untuk meriasnya. Sementara di rumah Cello, dia terlihat sangat tegang saat hendak bersiap-siap berangkat.
"Dad, bagaimana ini? Kok rasanya jadi gugup sekali." Kata Cello saat sang daddy membantunya memakai dasi.
"Coba tarik napas dalam-dalam, hembuskan. Tarik lagi, hembuskan. Coba lagi, hembuskan. Cob…," belum sempat daddy El meneruskan perkataannya, mommy Fara sudah menepuk bahunya.
"Kamu mau membantu putramu melahirkan atau mau membantu menenangkannya, Mas?!" Kata mommy Fara.
Dua orang laki-laki tersebut hanya bisa mencebikkan bibirnya saat mendengar perkataan mommy Fara.
"Bukan begitu, Yang. Aku hanya membantu Cello agar sedikit rileks." Jawab daddy El.
"Bukannya membantu agar rileks tapi kamu malah membuat putramu kesusahan bernafas, Mas! Lihat itu lehernya sudah hampir kecekik dasi." Gerutu mommy Fara sambil membetulkan dasi Cello.
"Hehehe maaf, Yang. Aku kan memang nggak biasa pakai dasi sendiri. Apalagi membantu memakaikan dasi orang lain."
"Halah, alasan saja kamu, Mas. Sudah, sana kamu nemenin daddy dan mommy. Mereka sudah menunggu di bawah." Kata mommy Fara.
"Iya, iya aku turun."
Setelahnya, daddy El segera menemui orang tuanya. Sementara mommy Fara membantu Cello bersiap-siap.
Menjelang pukul delapan, semua rombongan keluarga besar Cello sudah bersiap. Mereka akan segera berangkat menuju rumah kakek dan nenek Shanum. Hingga sekitar satu jam kemudian, rombongan mereka sudah sampai di tempat acara.
Beberapa saat kemudian, acara segera dimulai. Cello segera bersiap-siap untuk prosesi ijab qobul. Sambil menunggu Shanum yang juga tengah bersiap-siap, Cello sempat melirik ke arah sampingnya dimana kedua orang tuanya berada.
Terlihat mommy Fara sedang tersenyum bahagia memberikan semangat kepadanya. Disamping mommy Fara, ada daddy El yang juga melakukan hal yang sama. Melihat wajah bahagia kedua orang tuanya, Cello seolah mendapat tambahan semangat. Dia berusaha mengatur detak jantungnya yang terasa sangat cepat.
Hingga Cello tidak sadar jika Shanum sudah berada di sampingnya. Cello sempat melirik ke arah samping kirinya dimana Shanum sudah berada di sana. Cello hanya bisa berdoa dalam hati agar prosesi ijab qobul tersebut berjalan dengan lancar.
Setelah beberapa nasehat yang diberikan oleh bapak penghulu, kini tibalah saatnya Cello melakukan tugasnya. Papa Bian sendiri yang saat itu menikahkan putrinya. Dengan suara lantang Cello berhasil melafalkan kalimat sakral tersebut dalam satu tarikan nafas. Hingga terdengar suara sah menggema di sekitarnya.
Mendengar suara tersebut, rasa yang mengganjal di dada seolah terangkat. Baik Cello dan Shanum seolah merasa ringan sekarang. Setelahnya, mereka segera menandatangani dokumen pernikahan.
Cello dan Shanum juga saling memasangkan cincin pernikahan dijari masing-masing. Baru setelahnya, Shanum segera meraih tangan Cello untuk dikecupnya pertama kali setelah menjadi seorang istri. Sementara Cello mengecup kening Shanum sambil membacakan doa yang sudah dihafalnya.
Acara setelahnya, dilakukan resepsi pernikahan. Cello dan Shanum yang memang memiliki darah Jawa dari kedua orang tuanya, tentu saja mengikuti adat Jawa. Semua prosesi acara tersebut diserahkan kepada event organizer milik Kiara, istri Zee.
Acara resepsi pernikahan yang diadakan di halaman rumah kakek Shanum tersebut berakhir menjelang sore. Semua kerabat dan tamu undangan juga sudah mulai berpamitan. Bahkan, keluarga besar dari kedua mempelai pun juga sudah mulai pulang. Tak terkecuali orang tua Cello.
"Mommy dan Daddy mau pulang sekarang?" Tanya Cello saat mereka sudah berada di dalam rumah kakek Shanum.
"Iya lah. Masa iya kami mau disini nungguin kalian mainan mur dan baut." Kata daddy El.
Cello yang mendengar perkataan sang daddy pun tidak terima.
"Apaan sih, Dad. Enak saja dibilang mur dan baut. Yang ada juga alu dan lesung."
"Memang kalian mau ngulek sambel?!"
\=\=\=\=\=
Satu part dulu ya.