The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 53



Hingga menjelang pukul empat sore, Rean baru menyadari jika ponselnya kehabisan daya. Dia dan Refan sama-sama tidak membawa charger.


"Ikut ke rumahku dulu atau bagaimana?" tanya Refan saat menyadari jika Rean tidak membawa charger.


Rean berpikir sebentar sebelum kemudian menggelengkan kepala. 


"Aku ke distro saja pusat saja. Disana banyak charger, kok."


"Malam ini tidur disana?" 


Rean menganggukkan kepala. "Iya. Aku tidur di sana saja. Sudah lama juga aku tidak tidur di distro."


Refan mengangguk. "Baiklah. Aku akan mengantarmu ke sana. Tapi maaf, malam ini aku tidak bisa menemani. Aku harus ke mengantar orang tua ke rumah kakakku."


"Iya, tidak apa-apa."


Setelah itu, mereka segera beranjak menuju distro pusat milik Rean yang berada di pusat kota. Letaknya lumayan strategis, sehingga distro tersebut memiliki banyak pelanggan.


Tak butuh waktu lama, Rean sudah sampai di distro. Setelah mengucapkan terima kasih, Rean segera memasuki distro tersebut. Saat itu, distro memang masih buka. Setiap hari, distro Rean akan tutup pada pukul sembilan malam.


Setelah menyapa para karyawannya, Rean segera beranjak menuju ruangannya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan. Selama sekitar tujuh bulan Rean baru menginjakkan kaki lagi di sana. 


Tidak ada yang berubah pada ruangan tersebut. Tidak ada tempat tidur sana. Hanya ada meja kerja, satu set sofa, sofa bed yang biasa dipakai untuk istirahat karyawannya. 


Rean segera membersihkan diri dan mencari charger untuk ponselnya. Selama menunggu ponselnya terisi daya, Rean keluar ruangan untuk menghampiri para karyawannya. Mereka mengobrol santai sambil tertawa-tawa. Rean juga memesan makan malam untuk mereka semua. 


Tak terasa obrolan mereka sudah berlangsung lama. Kini, sudah waktunya menutup distro. Rean meminta para karyawannya untuk segera pulang. Meskipun mereka mau menemani Rean, tapi Rean tidak tega jika mereka harus bermalam di sana. Akhirnya, para karyawan Rean langsung berpamitan pulang.


Rean segera beranjak menuju ruangannya. Dia menghampiri ponselnya dan mulai menyalakan ponsel tersebut.


Rean cukup terkejut saat mendapati banyak sekali pesan. Namun, yang membuat kening Rean berkerut adalah rentetan pesan dari Dena. Dia juga mendapati banyak sekali panggilan tak terjawab dari istrinya tersebut.


Rean segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut untuk menyambungkan panggilan.


"Hallo, assalamualaikum, Pa." 


"Waalaikumsalam. Re, apa benar informasi yang Papa terima jika distro kamu di Surabaya kebakaran?" Papa Bian langsung menodong Rean dengan pertanyaan. Dia sudah sangat khawatir saat mendengar berita tadi sepulang dari kantor.


"Eh, iya, Pa. Papa tahu dari mana? Maaf tadi masih ribet banget, jadi lupa kasih kabar."


"Dari teman Papa. Kamu sudah di Surabaya?"


"Iya, Pa. Tadi pagi Rean langsung ke Surabaya setelah mendengar kabar."


"Lalu, bagaimana kondisinya sekarang?"


"Sudah ditangani kok, Pa. Tidak parah, hanya bagian belakang yang kebakaran. Papa dan Mama jangan khawatir."


"Syukur alhamdulillah kalau begitu. Ini istri kamu ikut?"


"Eh, tidak, Pa. Dia di Jakarta."


"Tapi kamu sudah memberitahunya, kan?"


"Eh, memberitahu tentang apa?"


"Ya tentang musibah yang menimpa distro kamu ini, memangnya apa lagi?" Papa Bian terdengar kesal dari seberang sana.


Rean sedikit kaget. Dia memang tidak kepikiran untuk memberitahu sang istri tentang kebakaran yang menimpa distronya. Jangankan tentang kebakaran, tentang dia punya usaha saja belum sempat diberitahu. Apalagi, semalam mereka sempat berdebat.


"Eh, iya Pa. Tadi sudah diberitahu." Rean terpaksa berbohong. Dia tidak mau orang tuanya tahu jika mereka sedang tidak baik-baik saja.