
Setelah membersihkan semua sisa makan malamnya, Vanya segera beranjak menuju ruang kerja Kenzo. Dia membawakan secangkir kopi untuk suaminya. Vanya langsung masuk ke dalam ruang kerja sang suami karena pintu ruang kerja tersebut tidak ditutup.
Vanya meletakkan cangkir kopi tersebut pada meja kerja Kenzo. Setelahnya, dia masih berdiri di depan meja kerja sang suami. Kenzo menoleh dan menatap wajah Vanya.
"Terima kasih." Kata Kenzo sambil tersenyum.
"Sama-sama. Ehm, lagi sibuk banget ya Mas?" Tanya Vanya.
Kenzo menghentikan aktivitasnya dan menatap wajah Vanya lekat-lekat.
"Enggak juga sih. Ini hanya tinggal memeriksa materi untuk meeting besok. Ada apa?" Tanya Kenzo.
Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia berjalan menuju single sofa yang ada di samping meja kerja Kenzo. Kenzo masih mengamati sang istri hingga Vanya sudah benar-benar duduk di sofa tersebut.
"Ehm, kita belum membahas masalah ini sejak sebelum menikah Mas." Kata Vanya memulai pembicaraan.
Kenzo mengerutkan keningnya bingung. Dia masih belum mencerna maksud perkataan Vanya.
"Maksudnya pembahasan dalam hal apa?" Tanya Kenzo.
Vanya menatap wajah Kenzo lekat-lekat sebelum menjawabnya.
"Ehm, maksudku tentang pekerjaan Mas. Aku sudah berjanji akan berhenti mengajar les prifat, tapi untuk berhenti total dari eSTe aku juga belum bisa. Aku nggak enak dengan mbak Erika. Apalagi ada beberapa karyawan yang juga sibuk mengerjakan skripsi, jadi banyak yang kosong nanti." Kata Vanya.
Untuk masalah itu, Kenzo sudah tahu dan bisa memahaminya. Dia mengangguk setuju.
"Oke, untuk masalah itu aku sudah setuju kan," kata Kenzo. "Apa ada masalah yang lain?" Kenzo masih menatap wajah Vanya lekat-lekat.
Vanya yang merasa diperhatikan oleh Kenzo menjadi salah tingkah. Dia menggigiti bibir bawahnya untuk menutupi kegugupannya.
"Eehmm, bisa nggak mas Kenzo tidak membawa pekerjaan ke rumah jika tidak terlalu penting. Kita kan sudah berencana untuk memulai pernikahan ini dengan serius Mas, apa tidak bisa jika di rumah kita bisa …." Vanya belum menyelesaikan perkataannya namun langsung di potong oleh Kenzo.
"Oke, aku setuju. Kita bisa mulai saling mengenal luar dalam di rumah. Baiklah, aku akan menyelesaikan pekerjaanku di kantor besok. Sekarang aku bisa menyelesaikanmu." Kata Kenzo sambil beranjak berdiri untuk menghampiri Vanya.
"Mas, ingat aku masih halangan ya." Kata Vanya memperingatkan Kenzo.
Seketika Kenzo menghentikan niatnya. Entah mengapa dia selalu lupa dengan hal itu. Kenzo merutuki dirinya sendiri yang selalu melupakan hal itu. Entah mengapa bawaannya selalu khilaf saat melihat melon yang siap di olah itu. Kenzo menghembuskan nafas beratnya sambil berdiri di depan Vanya.
"Lalu, apa yang dapat kita lakukan sekarang?" Tanya Kenzo sambil bersedekap dan bersandar pada meja kerjanya. Wajahnya terlihat kesal saat itu.
Vanya tersenyum sambil beranjak berdiri dan mendekat ke arah Kenzo. Dia memberanikan diri memeluk tubuh Kenzo yang masih bersandar pada meja kerjanya itu. Vanya mendekatkan bibirnya pada telinga Kenzo dan berbisik.
"Kita bisa melakukan hal yang lain Mas." Bisik Vanya.
Kenzo yang mendapat perlakuan seperti itu dari Vanya langsung menegang. Dia segera menarik tubuh Vanya hingga benar-benar menempel pada tubuhnya. Tanpa basa-basi lagi, Kenzo segera menyambar bibir ranum Vanya. Dia benar-benar sudah tidak bisa menahan godaan yang ada di depannya itu.
Suara pertemuan dua benda kenyal tersebut mengisi ruang kerja Kenzo. Se*sa*pan dan lu*ma*tan tidak dapat mereka hindari lagi. Bahkan tangan Kenzo sudah sangat ahli bergerilya pada daerah-daerah yang disukainya.
"Euuuhhhh Masshh, aku capek berdiri."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon maaf slow up untuk yang ini, masih fokus tamatin yang sebelah 🙏