The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 55



Netra Rean menangkap sebuah parfum yang ada di atas rak buku. Segera saja dia menyambar parfum tersebut dan menyemprotkannya pada tubuh banyak-banyak sebelum menyambungkan panggilan video tersebut.


Namun, gerakan tangannya mendadak berhenti saat menyadari tingkah konyolnya. "Cckkk, ngapain harus pakai parfum segala, sih? Dia kan tidak akan bisa mencium baunya. Haiisshhh, kamu ini, Re." Gumam Rean di sambil melemparkan botol parfum di tempat semula. 


Setelah itu, dia buru-buru menyambar ponselnya kembali. Rean mengatur napasnya yang terasa memburu dan jantung yang melompat-lompat bak bermain di atas trampolin. Entah mengapa dia menjadi segugup itu.


Setelah menghirup napas dalam-dalam dan mengeluarkannya pelan-pelan, Rean menggeser ikon berwarna hijau tersebut. Kini, di masing-masing layar ponsel, tampak wajah Rean dan juga Dena yang memenuhi layar masing-masing ponselnya.


Awalnya, wajah Rean tampak sumringah. Namun, setelah menatap wajah sang istri, dia langsung terkesiap. Wajah Dena benar-benar berantakan. Kedua matanya terlihat sembab dengan wajah yang juga masih penuh dengan air mata.


"Mas." Dena mengucapkannya dengan sangat lirih. Terdengar di telinga Rean istrinya tersebut sedang menahan isakan.


"Eh, ada apa? Kenapa menangis, Miss?" Rean tampak panik. Dia bingung kenapa wajah sang istri tampak sembab.


Dena tampak tidak bisa bersuara. Tenggorokannya terasa tercekat. Hanya isak tangis yang keluar dari bibirnya. Kedua matanya sudah benar-benar sembab. Bahkan, wajahnya juga terlihat benar-benar kusut.


Rean semakin panik saat melihat sang istri. Dia bingung harus melakukan apa.


"Miss? Ada apa? Kenapa menangis?"


Dena hanya menggelengkan kepala sambil masih berusaha mengusap air matanya yang tak berhenti mengalir. 


"A-aku, hiks. Aku…,"


Rean tahu jika sang istri tengah kesulitan berbicara. Dia masih setia menunggu hingga Dena tenang. 


Setelah sekitar lima menit kemudian, tampak Dena sudah mulai bisa mengendalikan emosinya. Dia berusaha mengerjap-ngerjapkan kedua matanya agar air matanya tak lagi luruh.


"Ma-maaf. Maafkan semua tingkah laku dan perkataanku, Mas. Hiks, maaf untuk semuanya." Lagi-lagi Dena tergugu. Dia terlihat benar-benar menyesal. Rean yang melihat hal itu menjadi tidak tega. 


"Ssttt, jangan menangis, Miss. Aku sudah memaafkan semuanya. Tidak ada lagi yang perlu dimaafkan. Sudah jangan menangis lagi."


Dena menggelengkan kepala. Dia merasa tidak puas dengan jawaban Rean. Setelah menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan, Dena kembali bersuara.


"Aku minta maaf, Mas. Jangan marah lagi. Aku tidak bisa di diamkan seperti ini aku benar-benar menyesal," ucap Dena sambil menundukkan kepala.


Kening Rean berkerut. Dia sama sekali tidak melakukan seperti apa yang dia katakan tadi. "Aku tidak marah, Miss. Aku juga tidak mendiamkanmu. Jujur, semalam memang aku sempat kesal, tapi aku sama sekali tidak marah."


Dena mengangkat kepalanya dan menatap wajah Rean lekat-lekat.


Rean menggelengkan kepala. "Tidak, Miss. Aku tidak marah. Aku hanya kesal semalam. Tapi, setelah bangun tidur, aku tidak merasa kesal lagi."


Kening Dena berkerut. Dia masih belum merasa puas dengan apa yang dikatakan oleh Rean. "Jika kamu tidak marah padaku, kenapa tadi pagi tidak membangunkanku? Kenapa juga ponselmu tidak bisa dihubungi?"


Rean menarik napas dan menghembuskannya pelan-pelan. "Begini Miss, maaf aku tidak membangunkan tadi pagi, karena aku tidak mau mengganggu. Aku tahu jika miss Dena pasti sangat kelelahan. Tidak enak rasanya jika harus membangunkan tidur hanya untuk berpamitan."


"Untuk alasan ponselku tidak bisa dihubungi, itu karena ponselku kehabisan daya, Miss. Aku tidak menyadari jika ponselku sudah mati sejak siang. Semalam aku juga lupa tidak mengisi daya baterainya."


Dena mengerucutkan bibirnya. "Lalu, apa yang kamu lakukan dari siang sampai malam begini? Mengapa tidak segera mengisi daya baterai ponselmu?"


Lagi-lagi Rean hanya bisa menarik napas dalam-dalam. "Aku ada musibah, Miss. Maaf aku kemarin-kemarin belum bisa jujur. Aku punya usaha distro di Surabaya. Dan, semalam salah satu distro milikku mengalami kebakaran. Aku tidak bisa berpikir jernih saat itu. Yang ada di pikiranku adalah bagaimana aku bisa segera sampai ke Surabaya secepatnya. Maaf jika tindakanku ini membuat cemas."


Kedua bola mata Dena langsung membulat dengan sempurna. "Ke-kebakaran?"


"Iya, Miss."


"La-lalu bagaimana keadaannya sekarang?"


"Alhamdulillah semua sudah membaik, Miss. Kebakarannya juga tidak menyebar terlalu besar."


"Tapi kamu tidak apa-apa, kan?" Dena terlihat khawatir.


Kening Rean berkerut. "Eh, aku baik-baik saja, Miss. Jangan khawatir. Miss Dena yang sepertinya kurang beristirahat."


"Ehm, enggak, kok. Aku baik-baik saja, Mas."


Rean berusaha mengatur jantungnya yang berjumpalitan saat Dena memanggilnya dengan sebutan 'mas'. 


"Jangan telat makan, Miss. Istirahat yang cukup."


"Ehm, mulai sekarang, bisa tidak jika jangan memanggilku dengan panggilan 'miss Dena' jika di rumah." Kali ini, Dena benar-benar tidak berani untuk mengangkat kepala. Dia cukup malu setelah mengatakan permintaannya tersebut.


Rean cukup terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya. Namun, dia berusaha menenangkan diri. "Lalu, aku harus memanggil apa? Apa aku harus memanggil 'Sayang'?"


\=\=\=


Mau nggak kira-kira?