
Setelah El dan Fara pergi, Revina kembali melanjutkan belanjanya. Hari ini, dia dan sahabatnya, Erin, tengah mencari gamis untuk acara buka bersama yang ada di devisi mereka.
"Siapa mereka, Rev?" Tanya Erin.
"Oh, itu kak El dan Fara, istrinya." Jawab Revina sambil masih memilih gamis.
"El, yang kamu ceritakan itu?"
"Iya, Rin."
"Waahh, ternyata dia itu bule. Cakep begitu kenapa tidak kamu embat saja sih, Rev."
Puk. Revina menepuk kening Erin dengan ujung jari-jarinya.
"Sembarangan. Embat-embat, memangnya codot di embat." Gerutu Revina.
"Habisnya, sayang sekali bule seperti itu dilepas. Mubazir, Rev." Kata Erin masih kekeh dengan pendapatnya.
"Hheehh, dengar ya Sherina Kamila. Aku sudah menganggap kak El itu seperti kakakku sendiri. Aku tidak memiliki perasaan apa-apa kepadanya. Lagian, kak El itu juga sudah menikah. Awas saja jika kamu berani menggodanya." Kata Revina sambil menunjukkan jari telunjuknya kepada sang sahabat.
"Ccckkk. Menggoda apanya. Aku sudah punya pacar kali, Rev." Dengus Erin.
"Itu nyadar. Sudah punya Haris juga masih ngelirik yang lainnya."
"Hhhh, ngomong sama kamu mah nggak ada selesainya, Rev." Jawab Erin sambil ngeloyor pergi.
"Eh, tunggu dulu. Ini belanjaan kamu masa iya aku yang bawa." Teriak Revina sambil menyusul Erin.
Setelahnya, mereka langsung berjalan menuju tempat parkir. Jam istirahat siang tersebut mereka gunakan untuk membeli gamis. Berhubung saat itu puasa, mereka memilih untuk berbelanja di mall yang terletak tak jauh dari kantor.
Sekitar lima belas menit kemudian, mereka sudah sampai di kantor. Revina dan Erin segera berjalan menuju ruangannya. Saat menunggu lift, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh dua orang yang juga terlihat ikut mengantri.
Deg.
Revina sedikit melirik orang yang berdiri di sampingnya. Dia masih fokus hingga tidak sadar jika pintu lift terbuka. Kedua orang tersebut sudah masuk dan diikuti oleh Erin. Sementara Revina masih diam sambil menatap salah seorang yang baru saja berpindah tempat dari sampingnya.
"Rev, ngapain masih di sana, ayo cepat naik." Kata Erin.
Revina langsung tersadar. Dengan terburu-buru dia segera masuk ke dalam lift tersebut. Di dalam lift hanya ada mereka berempat. Tidak ada yang bersuara dari keempat orang tersebut. Hingga Revina dan Fara turun di lantai delapan.
"Aduuhh, jantungku seperti mau copot. Rasanya deg-degan sekali saat berada di dekatnya." Kata Revina sambil memegangi dadanya yang masih deg-degan.
"Eh, siapa maksudnya? Pak Kaero?" Tanya Erin.
"Sembarangan. Pak Kaero sudah menikah tahu. Ya kali aku naksir suami orang."
"Lalu? Jangan bilang asisten pak Kaero, pak Bian?" Tanya Erin dengan sedikit berteriak.
"Sssttt. Jangan keras-keras."
"Eh, beneran kamu naksir pak Bian? Dia kan anti perempuan." Kata Erin.
"Eh, serius? Ngapain kamu diantar pulang? Jangan-jangan…" Erin menggantungkan perkataannya.
"Jangan-jangan apa? Itu otak jangan suka aneh-aneh. Waktu itu, aku ikut bu Neni, untuk menghadiri peresmian proyek terbaru. Pas pulangnya, hujan gede banget. Aku nggak bawa mobil, karena berangkat bareng bu Neni, sedangkan bu Neni sudah pulang lebih dulu karena putranya kecelakaan. Nah, waktu itu pak Bian menawari untuk mengantarku pulang." Jawab Revina dengan penuh semangat.
Erin yang sudah sampai di mejanya langsung menarik Revina untuk duduk di sampingnya.
"Kalian nggak ngapa-ngapain kan sepanjang perjalanan? Mana hujan lagi." Tanya Erin.
"Memangnya kami mau ngapain? Saat itu saja pak Bian hanya diam saja. Buka-buka suara jika aku yang bertanya. Itu pun jawabannya hanya iya, hhhmm, oke. Coba bayangkan, bagaimana kamu jadi aku, Rin."
"Lalu, apa yang membuat kamu menyukainya?" Tanya Erin penasaran.
"Biasanya, laki-laki yang kalem di luar itu, akan hot di saat eeehhhmmmmpphhh." Belum juga Revina menyelesaikan perkataannya, mulutnya sudah dibungkam oleh Erin.
"Nggak usah diteruskan. Otak kamu itu sudah tercemar oleh adegan 21+++++." Gerutu Erin.
"Sembarangan." Gerutu Revina.
Saat dia hendak mendebat sang sahabat, terdengar sebuah suara dari bu Neni, atasannya pada devisi perencanaan.
"Rev, besok kamu dan Angga ikut pak Bian ke lokasi proyek, sekaligus mempresentasikan proposal kemarin. Ini data tambahan, kamu masukkan ke dalam draft kemarin dan langsung berikan kepada pak Bian. Beliau sendiri yang menangani proyek ini." Kata bu Neni.
Revina masih melongo sambil menerima map yang diberikan bu Neni. Di otaknya hanya ada nama pak Bian, selebihnya hanya terasa seperti angin lalu. Wuuss wuusss bablas kanginan.
Revina mengangguk-anggukkan kepalanya kepada bu Neni. Setelah kepergian bu Neni, Revina langsung berbalik menghadap Erin. Saat Revina hendak membuka mulut, Erin kembali membekap mulut Revina dengan tangan kanannya. Erin tahu jika Revina pasti akan berteriak.
"Nggak usah teriak. Aku tahu kamu mau teriak apa. Pak Biaaannn." Kata Erin sambil mencebik-cebikkan bibirnya.
"Iisshhh nyebelin."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Kaero? Kok muncul disini. Ada yang tahu siapa Kaero ini?
Masih menerima vote dan hadiah lho. Jangan lupa klik like dan komen. Jika ada yang bertanya, kenapa yang 'horor' belum keluar, sabar dulu. Cerita Revina juga nanti akan ada di sini. Jadi, akan muncul selang-seling.
Semoga masih sabar menunggu. Terima kasih.