The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Pertemuan tak Terduga



"A-apa?!" Teriak Reyhan terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh pak Surya. Dia sama sekali tidak habis pikir. Apa maksudnya mengatakan hal itu. 


"Memangnya kenapa Rey? Apa kamu tidak mau menikahi putri saya?" Tuduh pak Surya.


Secara otomatis Reyhan menggelengkan kepalanya. Entah mengapa dia refleks melakukan hal itu. 


"Bu-bukan begitu maksud saya, Pa." Kata Reyhan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ehm, saya sedang menangani proyek besar, Pa. Tuan Reyhan sedang tidak bisa keluar kota. Istrinya sedang hamil dan tidak bisa ditinggal." Lanjut Reyhan.


Pak Surya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Dia sudah mengenal Kenzo dan Vanya. Pak Surya juga mengetahui ngidam Vanya yang aneh-aneh dari Fida.


"Lalu, kapan kamu siap menikahi putri saya?" Tanya pak Wisnu.


"Secepatnya, Pa." Jawab Reyhan refleks. Setelah mengucapkannya, dia merasa bingung. Entah mengapa mulutnya langsung bereaksi menjawab hal itu.


Pak Surya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Dia juga tidak bisa memaksakan keinginannya kepada Reyhan. Setelah beberapa saat yang lalu pak Surya dan sang istri membatalkan rencana perjodohan untuk Fida, mereka tidak akan melepaskan Reyhan begitu saja. Mereka sudah sangat cocok dengan Reyhan sebagai calon menantu mereka.


*****


Tiga minggu berlalu sejak pertemuan Reyhan dan papa Fida di rumah makan waktu itu. Saat ini, Reyhan tengah berada di Surabaya untuk menggantikan Kenzo menangani proyek yang ada di sana. Kenzo benar-benar tidak bisa meninggalkan Vanya.


Seperti hari ini, Kenzo benar-benar dibuat kewalahan oleh sang istri. Sejak selesai sholat subuh, Kenzo benar-benar mati kutu karena diserang oleh Vanya. Bukannya dia tidak senang dengan hal itu, tapi Kenzo harus benar-benar berhati-hati. Konsentrasinya pecah dengan aktivitas hokya-hokya mereka dan sang calon bayi. Kenzo tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon anaknya. Oleh karena itu, dia tidak bisa all out melakukan hal itu.


"Mas, hari ini mau kemana?" Tanya Vanya sambil merebahkan diri di samping sang suami. Tangannya masih bermain-main di seluruh bagian tubuh sang suami yang bisa dijangkau.


"Ssshhhhh, Sayang jangan memancing lagi. Aku sudah cukup pusing ini." Ucap Kenzo sambil berusaha menggeser tubuhnya.


"Hhhmmm, masih mau nambah nggak, Mas?" Tanya Vanya sambil mengecupi rahang kekar sang suami.


"Sudah cukup dulu, sekarang mandi, lalu sarapan. Aku nggak mau calon anakku kelaparan." Elak Kenzo. Dia berusaha mengalihkan perhatian sang istri. Vanya akan sangat berbahaya jika dibiarkan berada di atas tempat tidur bersamanya seperti ini.


Vanya mencebikkan bibirnya setelah mendengar perkataan sang suami. Dia bisa mengetahui jika sang suami tengah mengalihkan perhatiannya. Namun, mau tidak mau Vanya tetap mengikuti kemauan sang suami. Perutnya juga sudah sangat lapar.


Setelahnya, mereka segera membersihkan diri dan sarapan. Hari itu, Vanya mengajak Kenzo untuk memeriksakan kehamilan dan membeli peralatan bayi. 


Dan, disinilah mereka berada sekarang. Vanya dan Kenzo berada di sebuah mall. Mereka berjalan menuju ke sebuah toko yang menjual peralatan bayi. Saat Kenzo dan Vanya hendak berbelok, tiba-tiba ada seorang perempuan yang tidak sengaja menabrak bahu Kenzo.


Bruukkk.


Barang belanjaan yang dibawa oleh perempuan tersebut terjatuh. Dia juga sedikit limbung hampir terjatuh jika Kenzo tidak segera menarik tangannya.


Kedua pasang netra mata Kenzo bertabrakan dengan perempuan tersebut. Mereka sama-sama terkejut.


"Kenzo?!"


"Celina?!"


Baik Kenzo dan Celina sama-sama terkejut dengan pertemuan mereka yang tidak sengaja tersebut. Celina segera menegakkan diri dan meraih barang belanjaannya yang sempat terjatuh. Dia membenarkan mini dressnya yang sempat berantakan.


Kenzo pun hanya mengangguk mengiyakan tanpa bersuara.


"Waahhh, tidak menyangka kita bertemu lagi. Ehm, kalau tidak salah kita bertemu sekitar dua tahunan yang lalu kan." Kata Celina.


Kenzo pun hanya mencebikkan bibirnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Vanya yang berada di samping Kenzo pun masih mengamati interaksi kedua orang yang ada di depannya tersebut. Dia ingin mengetahui seperti apa hubungan mereka.


"Kamu mau kemana? Bisa kita makan siang bareng? Kita kan sudah lama tidak bertemu. Aku traktir deh." Kata Celina penuh antusias. Dia bahkan mengabaikan Vanya yang tengah berdiri di samping Kenzo.


Kenzo masih tidak merespon permintaan Celina, hingga Celina sadar ada seorang wanita yang berada di sampingnya.


"Eh, ini siapa? Adik kamu?" Tanya Celina beralih menatap Vanya. Tatapan matanya terlihat menilai Vanya. 


Yah, mungkin Celina pikir jika Vanya ini adalah orang biasa. Saat itu Vanya hanya memakai baju hamil biasa berwarna baby blue dengan sandal jepit biasa berwarna hitam. Vanya tidak suka memakai make up berlebihan. Dia juga tidak suka memakai sepatu selama hamil, tidak nyaman. Sementara Kenzo juga hanya memakai celana pendek berwarna hitam dan kaos oblong dengan warna senada dengan sandal jepit couple dengan sang istri. Benar-benar tidak terlihat seperti seorang bos.


Kenzo menatap Celina dengan ekspresi malasnya. Entah mengapa dia merasa tidak suka bertemu dengan perempuan itu.


"Dia bukan adikku. Dia istriku." Jawab Kenzo.


Seketika Celina menoleh menatap wajah Kenzo dengan tatapan tidak percayanya. Dia cukup terkejut saat mendengar Kenzo sudah menikah.


"Kamu sudah menikah?!" Tanya Celina terkejut. "Kamu kasih makan apa istri kamu, Ken?" Lanjut Celina dengan ekspresi wajah gelinya.


Seketika Vanya merasakan tubuh Kenzo menegang. Dia menoleh menatap wajah sang suami yang tengah menahan amarahnya. Dia harus menenangkan suaminya.


"Tentu saja makan nasi, Tante. Masa iya dikasih makan beling."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Konflik terakhir sebelum end ya kak. Tenang, othor nggak suka konflik berat. Nanti juga akan dijelaskan tentang nasib si ngket-ngket Elsa. Untuk bonus chapternya nanti akan diceritakan tentang kehidupan Reyhan dan Fida.


Jangan lupa follow ig othor @keenandra_winda untuk mengetahui karya terbaru othor.


Thank you.