The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 11



Setelah keluar dari rumah, Cello segera menjalankan mobilnya menuju rumah Shanum. Tepatnya, rumah kakek dan neneknya Shanum. Dia sudah mendapat beberapa kali telepon dari nenek Fida, neneknya Shanum.


Sekitar satu jam kemudian, Cello sudah sampai di rumah nenek Fida. Dia segera memarkirkan kendaraannya dan berjalan menuju pintu utama rumah tersebut.


Tok tok tok.


Cello mengetuk pintu tersebut sambil mengucapkan salam. Tak berapa lama kemudian, terlihat Shanum keluar dan sepertinya sudah siap untuk berangkat. Cello mengernyitkan keningnya saat melihat Shanum tidak mempersilahkannya masuk.


"Ayo berangkat sekarang." Kata Shanum.


"Eh, tidak pamit dulu?" Tanya Cello.


"Pamit kepada siapa? Semua orang sudah berangkat ke Bogor. Hanya ada Rean di rumah sedang tidur. Mau pamitan dengannya?"


Cello hanya mencebikkan bibirnya setelah mendengar perkataan Shanum. Setelahnya, dia berjalan meninggalkan Shanum yang masih menggerutu di teras rumahnya. Meskipun begitu, dia segera menutup pintu dan menyusul Cello menuju mobilnya.


Jangan kira ada adegan membukakan pintu mobil ala-ala sinetron ataupun ala-ala novel begitu, sama sekali tidak ada. Cello langsung masuk ke dalam mobil, sedangkan Shanum mengikutinya dan segera mendudukkan diri di samping Cello yang bersiap mengemudikan kendaraannya.


Shanum celingak-celinguk ke dalam mobil yang terlihat sangat mainly tersebut. Dia tidak menemukan siapapun lagi di dalam mobil tersebut. Hanya ada dirinya dan juga Cello. Menyadari tingkah Shanum, Cello langsung menolehkan kepalanya sambil menyalakan kendaraan.


"Ada apa?" Tanya Cello.


"Dimana tante Fara? Bukanya tante Fara akan ikut kita fitting baju?"


"Mommy akan menyusul nanti setelah dari restoran. Kita harus berangkat terlebih dahulu."


Shanum hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tidak bersuara lagi setelahnya. Shanum lebih memilih memainkan ponselnya daripada ngobrol dengan Cello.


Sementara Cello, dia beberapa kali melirik aktivitas Shanum sepanjang perjalanan tersebut. Cello hanya bisa menggerutu dalam hati melihat tingkah Shanum. Karena bosan tidak ada percakapan apapun, Cello berinisiatif untuk menyalakan musik. Namun, hal itu di cegah oleh Shanum.


"Aku tidak suka mendengarkan musik di dalam kendaraan."


"Jadi, sudah memutuskan mau melanjutkan kuliah dimana?" Tanya Cello.


Shanum menolehkan wajahnya menatap Cello yang tengah fokus pada kendaraan yang sedang berhenti di depannya.


"Di kampus yang sama dengan kamu." Jawab Shanum.


"Hhaah? Kok jadi samaan?"


Shanum mencebikkan bibirnya tidak suka setelah mendengar perkataan Cello.


"Memangnya kenapa jika kampusnya sama? Atau jangan-jangan, kamu punya pacar atau gebetan disana?"


"Ccckkk, sembarangan. Jangan suka ngawur." Jawab Cello sambil melayangkan tatapan tajamnya.


"Lalu, apa masalahnya jika aku kuliah di kampus yang sama dengan kamu?"


"Bukan apa-apa, tapi nanti bagaimana jika ada yang tahu jika kita sudah menikah?"


Shanum menolehkan wajahnya sambil mendengus kesal.


"Bukannya kita sudah sepakat sebelumnya, jika kita tidak akan menyembunyikan pernikahan ini dan tidak akan mengumumkannya? Jika ada yang tanya, ya tinggal jawab saja." Jawab Shanum dengan entengnya.


Cello hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Dia melanjutkan mengemudi tanpa mengajak Shanum berbicara lagi. Hingga sekitar dua puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di butik langganan mommy Fara. Cello segera memarkirkan kendaraannya dan segera mengajak Shanum langsung berjalan memasuki butik tersebut.


\=\=\=\=\=


Tebarkan like, komen dan vote buat othor ya. Scroll 👇