
Sudah hampir satu jam Kenzo dan Vanya berada di dalam kamar dan tidak keluar-keluar. Entah apa yang mereka lakukan di dalam sana. Othor juga bingung. 🤔
Selama itu pula, Reyhan sudah beberapa kali bolak-balik kamar dan ruang tengah. Namun, dia tidak bertemu dengan Kenzo, Vanya maupun Fida.Â
Reyhan sudah selesai membersihkan diri. Dia juga sudah mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian rumahan miliknya yang ada di rumah Kenzo. Kaos rumahan dan celana hitam dipakainya malam itu. Reyhan sudah terbiasa memakai pakaian santai seperti itu saat di rumah.
Reyhan menatap nanar meja makan yang masih tertata beberapa perlengkapan makan. Belum ada makanan apapun yang disajikan di atasnya. Reyhan mengusap-usap perutnya yang sudah mulai keroncongan.
Reyhan memutuskan untuk keluar rumah menuju teras depan. Dia ingin melihat hujan yang masih lumayan deras. Reyhan berdiri di samping tanaman hias Vanya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya untuk menghalau dingin. Cukup lama dia berada di teras rumah Kenzo, sekitar lima belas menit. Setelahnya, dia memutuskan untuk masuk kembali ke dalam rumah.
Ceklek
Reyhan membuka pintu utama. Netra matanya langsung tertuju pada seorang perempuan yang tengah berjalan dari kamar tamu menuju ruang makan. Ya, dia adalah Fida. Fida tidak mengetahui jika Reyhan ikut pulang bersama Kenzo.
"Eh, ada pak Reyhan. Anda baru datang?" Tanya Fida. Dia cukup senang melihat Reyhan ada di sana.Â
"Eheemm, saya sudah sejak tadi di sini. Saya pulang bersama tuan Kenzo." Jawab Reyhan sambil berjalan mendekat.
"Waahh, sudah lama dong. Kok aku nggak tahu, ya." Jawab Fida. "Ah, mungkin aku sedang bersih-bersih tadi." Lanjutnya.
Setelahnya, Fida langsung beranjak menuju ruang makan untuk menyiapkan makan malam. Dia mulai menata makan malam di atas meja makan. Fida terlihat cekatan dalam menyiapkan semuanya. Reyhan yang melihat Fida tengah sibuk berinisiatif untuk membantunya.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Reyhan.
Fida yang tengah menyusun piring pada meja makan tersebut menoleh menatap Reyhan yang sudah berdiri di dekat meja makan. Tatapannya masih tertuju pada Fida. Melihat hal itu, Fida seolah lumpuh. Jiwa bapernya sudah mulai meronta-ronta hanya dengan melihat wajah cool Reyhan Aditama.
Reyhan yang melihat Fida masih terdiam langsung berdehem untuk membuyarkan lamunannya.
Eheemmm
Dan, benar saja. Fida langsung tersadar dan terlihat berusaha untuk menguasai diri.
"Ehm, tidak usah Pak. Ini sudah hampir selesai. Bapak silahkan duduk saja." Kata Fida sambil kembali menyiapkan makan malam.
Reyhan yang menyadari Fida memanggilnya dengan sebutan bapak merasa tidak suka. Dia merasa seperti orang tua atau om-om yang tengah berbicara kepada anaknya atau keponakannya.
"Ehm, Fid..." Reyhan terlihat bingung memulai pembicaraan tersebut.
Fida yang menyadari Reyhan hendak berbicara sesuatu langsung menghentikan aktivitasnya. Dia mendongak menatap wajah Reyhan.
"Iya Pak? Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Fida.
"Eh, bi-bisa tidak jangan memanggilku bapak. Kesannya saya seperti orang tua kamu." Kata Reyhan sambil masih menatap wajah Fida.
Fida cukup terkejut mendengar perkataan Reyhan. Namun, dia segera berusaha untuk mengubah ekspresi terkejutnya.Â
"Lhah, memang bapak sudah tua kan. Berapa usia bapak? Tiga puluh lima, atau tiga puluh enam?" Tanya Fida sambil masih mengulas senyum. Sebenarnya Fida tahu usia Reyhan adalah tiga puluh satu tahun. Beberapa bulan lagi akan menginjak usia tiga puluh dua tahun.
Reyhan menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia terlihat tidak suka mendengar perkataan Fida.
Fida tersenyum melihat Reyhan terlihat gusar. Dia merasa senang sekali bisa menggoda laki-laki itu. Fida, yang biasanya hanya melihat Reyhan mematuhi semua perintah Kenzo, saat ini dia bisa membuatnya sedikit berekspresi.
"Baiklah, baiklah. Aku minta maaf." Kata Fida sambil meletakkan olahan cumi pedas di atas meja makan tersebut. "Lalu, aku harus memanggil anda bagaimana?" Lanjut Fida sambil berdiri menatap wajah Reyhan.Â
Jarak mereka sekarang hanya dibatasi oleh sebuah kursi yang berada di tengah-tengah mereka berdiri. Reyhan terlihat berpikir setelah mendengar pertanyaan Fida.
 "Terserah kamu. Asalkan jangan memanggil saya bapak atau pak. Saya terkesan tua sekali dengan panggilan seperti itu." Jawab Reyhan.
Fida terlihat sedang memikirkan sesuatu sebelum menjawab Reyhan.
"Jika anda tidak mau dipanggil dengan sebutan bapak, bagaimana jika dipanggil dengan sebutan kakak?" Tanya Fida.
Reyhan mengerutkan dahinya. Dia terlihat tidak suka dengan panggilan tersebut.
"Saya tidak suka. Panggilan itu terdengar seperti panggilan adik-kakak." Kata Reyhan.
Fida mencebikkan bibirnya setelah mendengar jawaban Reyhan. Namun, dia masih mencoba lagi.
"Bagaimana dengan Mas?" Lanjut Fida.
Lagi-lagi Reyhan menggeleng. Dia merasa jika panggilan itu untuk orang yang sudah menikah. Fida kembali mencebikkan bibirnya.
Fida kembali mencoba, kali ini dia menawarkan panggilan nama langsung, abang, aa, kang, amang, adik, bahkan panggilan om kepada Reyhan. Namun, semua ditolak oleh Reyhan dengan berbagai macam alasan.
Fida kembali mendengus kesal setelah mendengar jawaban Reyhan. Dirinya sudah semakin lelah meladeni laki-laki yang ada di depannya itu.
"Lalu, anda mau dipanggil apa jika semua ditolak? Atau anda mau dipanggil sayang saja?" Kata Fida yang sudah mulai kesal.
"Saya setuju."
Gubraakkk
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon dukungannya ya, like komen dan vote.
Untuk mengetahui kapan up dan karya terbaru, silahkan follow ig othor @keenandra_winda
Thank you