
Duuaaarrrr.
Kenzo seperti tersambar petir di pagi yang cerah itu. Dia masih berusaha mencerna perkataan Vanya yang tengah berdiri di depannya.
"Kok bisa?" Tanya Kenzo dengan wajah cengonya.
Vanya hanya menghembuskan napas beratnya. Dia kembali menggigiti bibirnya saat menyadari sesuatu.
"Tentu saja bisa Mas. Ini memang sudah waktunya." Jawab Vanya. "Eehhmm boleh minta tolong Mas?" Tanya Vanya takut-takut.
Kenzo hanya bisa mendengus kesal saat menyadari jika sesuatu di bagian bawah tubuhnya sudah mulai aktif. Dia mendongak menatap wajah Vanya.
"Minta tolong apa?"
"Eehhmm, aku tidak membawa roti tawar Mas. Bisa minta tolong belikan?" Tanya Vanya ragu-ragu.
Kenzo yang masih belum mengerti maksud perkataan Vanya hanya mengernyitkan dahinya bingung.
"Kamu tadi kan sudah sarapan, sekarang sudah lapar lagi?" Tanya Kenzo.
Vanya mendengus kesal mendengar perkataan Kenzo. "Bukan roti itu Mas. Roti tawar yang aku maksud itu pembalut. Aku tidak membawa pembalut. Mas Ken juga tahu sendiri kan kita tidak boleh packing baju kita sendiri." Jawab Vanya.
Seketika mata Kenzo membulat mendengar jawaban istrinya. Dia benar-benar tidak habis pikir. Seorang Kenzo harus membeli pembalut? Apa aku sudah gila. Batin Kenzo. Belum sempat Kenzo menjawab, Vanya sudah memotongnya.
"Nanti, sekalian minta tolong belikan b*a juga ya Mas, yang ada di dalam koper kekecilan. Sesak ini Mas." Kata Vanya.
Kenzo tambah semakin shock saat mendengarnya. Apa lagi ini? Bagaimana mungkin aku akan membeli hal semacam itu? Batin Kenzo.
Vanya yang melihat suaminya masih diam tidak merespon hanya bisa menghembuskan napas berat. Dia berpikir jika suaminya tidak akan membantunya. Vanya berjalan pelan-pelan untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas di samping tempat tidur. Kenzo yang tersadar segera mengikuti Vanya.
"Kamu mau apa?" Tanya Kenzo yang tengah berdiri di belakang Vanya.
Vanya menoleh menatap wajah suaminya. "Aku mau pesan online saja Mas." Jawab Vanya sambil melanjutkan membuka aplikasi online.
Rahang Kenzo mengeras saat mendengar Vanya akan memesan online. Pikirannya sudah travelling membayangkan jika Vanya akan menjelaskan detail barang yang akan dibelinya kepada orang lain. Dia tidak mau ada orang yang membayangkan tubuh istrinya itu. Seketika Kenzo menghentikan tangan Vanya yang masih mengetikkan sesuatu pada ponselnya. Vanya pun menoleh menatap wajah Kenzo.
"Ada apa Mas?" Tanya Vanya.
"Biar aku saja yang beli. Tinggal sebutkan ciri-ciri benda yang kamu butuhkan." Kata Kenzo kemudian.
Vanya menyunggingkan bibirnya. Dia sangat senang jika suaminya mau membantunya kali ini.
"Baiklah. Carikan aku roti tawar yang bungkusnya berwarna hitam dengan panjang 42 cm dan bersayap, lalu yang berwarna pink berukuran 35 cm dan bersayap juga. Masing-masing 1 bungkus saja." Kata Vanya penuh semangat.
Sementara Kenzo masih diam mematung mendengarkan penjelasan sang istri. Apa itu bersayap? Dikira dia mau terbang gitu saat datang bulan seperti ini? Batin Kenzo.
Vanya masih memperhatikan Kenzo. Dia khawatir Kenzo tidak akan mengingat pesanannya nanti.
"Aku chat kamu deh Mas, biar tidak lupa. Sekalian juga ukuran b*a nya juga." Kata Vanya.
"Kenapa Mas?" Tanya Vanya.
"Ciiuuummm." Kata Kenzo sambil memanyun-manyunkan bibirnya.
Seketika Vanya terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa suaminya yang jutek berubah jadi ajaib begini setelah mengenal melon? Vanya hanya menggelengkan kepalanya saat memikirkan hal itu. Vanya mendekatkan wajahnya dan memberikan satu buah kecupan pada bibir Kenzo. Cup. Setelahnya, Vanya segera menjauhkan bibirnya.
Kenzo terkejut saat mendapati kecupan singkat dari Vanya. Dia menggerutu kesal setelahnya. Vanya yang mendengar gerutuan Kenzo hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Nanti setelah pulang, aku kasih lebih daripada itu." Kata Vanya yang langsung membuat Kenzo bersemangat.
Kenzo segera pergi untuk membeli pesanan Vanya. Dia menuju minimarket yang ada di dekat hotel tempat dia menginap. Kenzo terlihat mengedarkan pandangannya saat memasuki minimarket tersebut. Dia kebingungan mencari bagian kebutuhan wanita. Mau bertanya pun dia merasa malu. Akhirnya, dia segera mengambil trolley dan menelusuri minimarket tersebut hingga berhasil menemukan bagian kebutuhan wanita.
Kenzo terlihat ragu untuk mendekat ke bagian itu. Pasalnya, ada lima orang perempuan yang juga berada disana untuk membeli peralatan yang sama. Untuk menutupi rasa malunya, Kenzo mengambil beberapa makanan ringan yang ada di sebelahnya sambil sesekali melirik para perempuan itu.
Beberapa saat kemudian, para perempuan tersebut sudah terlihat beranjak dari sana. Kenzo buru-buru mendekat ke bagian kebutuhan wanita dan segera mengambil ponselnya untuk memastikan pesanan Vanya. Dia terlihat kebingungan memperhatikan banyaknya merk roti tawar yang ada di depannya.
Yang mana yang ada sayapnya dan tidak ada sayapnya? Semuanya hampir sama. Gumam Kenzo sambil masih mengamati benda-benda di depannya itu.
"Mau cari yang merk apa dan ukuran berapa?" Tanya seseorang yang tiba-tiba berada di belakangnya.
Kenzo yang masih belum menyadari ada orang yang berdiri di belakangnya langsung menjawab dengan polosnya.
"Yang warna hitam panjangnya 42 cm dan warna pink 35 cm." Jawab Kenzo cepat sambil masih mengamati benda-benda yang ada di depannya.
"Baiklah. Akan saya bantu." Kata sebuah suara.
Seketika Kenzo tersadar bahwa dirinya tidak sendirian di sana. Ada seseorang yang sejak tadi mengajaknya berbicara. Kenzo langsung memutar tubuhnya dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui orang yang berada di hadapannya saat ini.
"Kamu?!"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Lhah, siapa sih ini 🤔
Maaf slow up ya, masih fokus di "mendadak istri"
Tapi masih boleh dong minta dukungannya untuk Kenzo dan Vanya 🤗🤗