The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 100



Hari terakhir pelaksanaan ujian akhir semester baru saja selesai. Cello yang sudah menyelesaikan jam ujiannya sejak satu jam yang lalu masih menunggu sang istri menyelesaikan ujiannya. Dia menunggu di tempat parkir fakultas Shanum.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya. Cello segera memeriksanya dan ternyata pesan tersebut berasal dari Shanum. Shanum memberitahukan jika dia sudah selesai dan sedang menunggu Cello di dekat gedung tiga. Cello segera menyalakan kendaraannya untuk menjemput sang istri.


Tak berapa lama kemudian, Cello sudah berada di depan Shanum. Shanum pun langsung memasuki mobil Cello dengan membawa dua buah paper bag. Kening Cello berkerut saat menatap paper bag tersebut.


"Apa itu?" Tanya Cello sambil menyalakan kendaraannya.


"Oh, ini bakpia, oleh-oleh dari Andin. Suaminya baru pulang dari Yogyakarta. Jadi, semua anak-anak tadi juga dapat ini."


"Kok kamu dapat dua, Yang?"


"Andin tahu jika aku hamil anak kembar, jadi dia kasih dua agar salah satunya tidak iri. Hehehe."


"Mana ada begitu?"


"Ada lah, Mas. Makanya, jika punya anak kembar itu semuanya harus adil. Apa-apa juga harus sama rata. Jika satunya di beri sesuatu, yang lainnya juga harus diberi. Jangan pilih kasih."


Setelah mendengar jawaban Shanum, Cello hanya bisa melirik ke arah sang istri.


"Apa itu berlaku juga saat menjenguk mereka?" Tanya Cello.


"Tentu saja. Kalau itu harus, Mas. Coba kamu bayangkan, jika kamu hanya menjenguk salah satunya saja, apa kamu nggak takut jika nanti saat mereka sudah lahir, hanya satu anak yang mengenali kamu, sedangkan yang satunya tidak?"


"Mana ada yang seperti itu? Itu hanya akal-akalan kamu saja." Jawab Cello sambil mendengus kesal. 


Mana ada anak tidak mengenali bapaknya hanya karena nggak dijenguk saat di dalam kandungan. Memangnya bentuk wajahku dan bentuk yang sering jenguk itu sama apa, sembarangan! Batin Cello.


Shanum yang melihat tingkah kesal sang suami hanya bisa terkekeh geli. Entah mengapa akhir-akhir ini Shanum begitu suka menjahili sang suami.


Setelah dari kampus, Cello langsung mengarahkan kendaraannya menuju rumah sakit. Siang itu, Shanum memang sudah ada janji dengan dokter Risma untuk memeriksakan kandungannya. Cello selalu terlihat antusias untuk menemani sang istri memeriksakan kehamilannya.


"Sudah dikonfirmasi lagi kan tadi jadwalnya, Mas?" Tanya Shanum sambil beranjak keluar dari kendaraan.


"Sudah, kok. Kita juga sudah mendapatkan nomor antrian. Mungkin tidak akan lama ngantrinya."


Shanum hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dia dan Cello langsung berjalan menuju ke tempat praktek dokter Risma. Namun, langkah kaki Shanum sempat terhenti saat melihat ada empat pasangan yang sudah menunggu giliran di sana. Sepertinya, mereka juga sama-sama mengantri untuk memeriksakan kandungannya kepada dokter Risma.


"Mas, kok masih banyak sih? Aku keburu lapar, nih." Protes Shanum.


"Nggak apa-apa, nanti coba aku tanyakan dulu sudah sampai nomor berapa. Duduk dulu deh."


Shanum menurut dengan apa yang dikatakan oleh sang suami. Dia segera mendudukkan diri di kursi tunggu, sementara Cello sedang mengkonfirmasi nomor antriannya. Shanum masih memandang sekeliling dan mendapati dirinya menjadi pusat perhatian dari beberapa orang yang ada di sana.


"Sudah berapa bulan, Dek?" Tanya seorang laki-laki yang berada tak jauh dari tempat duduknya.


"Jalan lima bulan, Om."


"Waahhh, sudah besar sekali ya untuk usia lima bulan,"


"Saya hamil kembar, Om. Jadi itu mungkin yang membuat berat badanku semakin bertambah dan perutku juga terlihat semakin besar."


"Kembar?! Wah, selamat. Bisa dapat anak kembar begitu bagaimana cara buatnya?" Tanya laki-laki tersebut penasaran.


"Eh, aku juga nggak tahu, Om. Nanti bisa tanya suami saya dan minta di ajarin sekalian." Jawab Shanum sambil mengulas senyumannya.


"Apa?! Iihhh, ogah! Gini-gini aku juga masih normal, nggak suka batangan mas-mas. Tapi jika ada mas batangan mau, sih."


"Hhaah?"


Jangan lupa kasih dukungan buat othor ya.