The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Ini semua gara-gara kamu!!



Ketika sedang asyik menikmati mie instan, terdengar suara ketukan pintu. Kenzo segera beranjak dari duduknya dan berjalan untuk membuka pintu. 


Ceklek.


"Apa yang kamu lakukan disini Ken, nyicil?" Tanya mama Tari ketika melihat Kenzo yang membuka pintu kamar kosan Vanya. Mama langsung menatap Kenzo dengan tatapan tajam sambil memperhatikan pakaian yang dikenakan Kenzo.


Kenzo begitu terkejut ketika melihat sang mama sudah ada di depan pintu kamar kosan Vanya. Sebelum Kenzo menjawab, mama Tari sudah menjewer telinga Kenzo dan mendorong Kenzo agar masuk ke dalam kamar.


"Aaauuuwwhhhh Ma, apa-apaan sih ini," kata Kenzo sambil masih meringis memegangi telinganya yang tengah dijewer oleh sang mama. "Sakiitt Ma, aduuhhh," ringisnya lagi.


"Kamu yang apa-apaan, hah" kata mama sambil berkacak pinggang. " Kamu ini baru kemarin mengumumkan rencana pernikahan tapi sekarang sudah berani-beraninya menginap disini. Mau nyicil hah?" Hardik mama.


Kenzo mengusap telinganya yang perih akibat jeweran sang mama. 


"Nyicil apaan sih Ma, jangan ngadi-ngadi deh," ketus Kenzo.


"Apa maksud kamu mama mengada-ngada. Kamu malam-malam berada di kosan Vanya dan hanya menggunakan sarung seperti ini, mau nyicil buat jalan tol agar nanti bebas hambatan jika sudah sah, hah?" ketus mama.


Kenzo melongo mendengar perkataan sang mama. Bisa-bisanya mamanya memikirkan hal itu. Dirinya saja tidak kepikiran dengan hal itu.


"Mama apaan sih, bukan seperti itu. Tadi itu…," Belum sempat Kenzo menyelesaikan perkataannya, terdengar pintu kamar mandi terbuka.


Ceklek.


Seketika Mama dan Kenzo menoleh. Dilihatnya Vanya melangkah keluar dengan memakai babydoll dengan rambut basah terbungkus handuk. Vanya yang terkejut melihat mama Kenzo berada di dalam kamarnya langsung berhenti berjalan. 


"Ma-mama," kata Vanya terbata ketika melihat mama Tari menatapnya dengan tatapan iba. Mama Tari berjalan mendekati Vanya. Digenggamnya kedua tangan Vanya sambil tersenyum.


"Sayang, maafkan Kenzo ya. Mama benar-benar tidak habis pikir jika Kenzo setidak sabaran ini," kata mama Tari. "Mama akan segera menelpon Papanya Ken. Kita harus menemui orang tuamu malam ini juga," lanjut mama Tari.


Vanya yang masih bingung hanya mengerjapkan matanya berulang-ulang. Apa maksudnya ini?, batin Vanya.


Setelahnya, mama Tari segera mengambil ponselnya. Dia menghubungi beberapa orang. Cukup lama mama Tari menelpon, hingga panggilan terakhir sudah berakhir. Mama Tari segera menatap Kenzo dan Vanya bergantian. Kenzo dan Vanya merasa salah tingkah ketika mendapat tatapan dari mama Tari.


Mama Tari menoleh menatap Vanya. "Sayang, kamu siap-siap ya sekarang. Kita akan ke rumah orang tua kamu malam ini. Sebentar lagi papa akan datang menjemput," kata mama Tari lembut kepada Vanya.


Vanya masih belum bisa menerka-nerka maksud perkataan mama Tari. Dia mengernyitkan dahinya bingung. Mama Tari yang melihat Vanya kebingungan, tersenyum lembut sambil mengusap bahunya.


"Kita akan mempercepat pernikahan kalian sayang. Mama tidak mau Kenzo semakin merajalela sebelum kalian sah menikah. Bisa-bisa dia setiap hari akan ngerem disini," kata mama sambil melirik tajam ke arah Kenzo.


"Bukan apanya, kamu mau enak-enak memanggang sosis setiap hari tanpa memikirkan perasaan Vanya. Enak saja," sengit sang mama.


Kenzo yang merasa serba salah pun hanya menghembuskan napas dengan kasar. Berdebat pun tidak ada gunanya. Mamanya pasti akan selalu memenangkan perdebatan itu. Entah apa yang membuat sang papa bisa bertahan dengan mamanya itu, batin Kenzo.


Setelahnya, mama Tari segera meminta Vanya untuk bersiap-siap. Karena merasa sudah tidak mempunyai kesempatan untuk menolak, akhirnya Vanya pun mengikuti keinginan mama Tari. 


Sekitar tiga puluh menit kemudian, papa datang bersama dengan Reyhan yang membawa baju ganti untuk Kenzo. Kenzo pun segera mengganti pakaiannya dengan pakaian yang baru saja dibawakan oleh Reyhan. Setelah semuanya siap, mereka segera berangkat menuju rumah orang tua Kenzo. Mereka menggunakan mobil keluarga Kenzo yang lebih besar. Reyhan pun terpaksa ikut karena ada pekerjaan yang harus dibahas bersama dengan Kenzo.


Selama perjalanan, Vanya yang berada di barisan paling belakang bersama Kenzo hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Kenzo yang melihatnya pun segera menggeser tubuhnya mendekat ke arah Vanya.


"Kenapa?" Tanya Kenzo setengah berbisik karena tidak ingin didengar oleh orang tuanya yang berada di depannya.


Vanya menoleh untuk melihat Kenzo. "Ini semua gara-gara kamu Mas, jika kamu tidak ikut ke kosanku, ini tidak akan terjadi," gerutu Vanya dengan suara tertahan.


Kenzo yang tidak terima tuduhan Vanya pun segera menoleh menatap Vanya dengan tajam. "Enak saja. Tanpa aku ikut ke kosanmu pun pernikahan ini cepat atau lambat akan tetap terjadi. Kamu tidak lihat apa yang bisa di lakukan mama, bahkan papa pun hanya bisa menuruti keinginan mama," gerutu Kenzo.


Vanya hanya bisa menghembuskan napasnya dengan berat. "Iya, benar" jawabnya membenarkan perkataan Kenzo.


Setelahnya, mereka semua larut dalam keheningan. Vanya dan Kenzo berusaha untuk memejamkan matanya. Vanya sempat melirik jam yang ada di ponselnya, pukul 23:40. Karena merasakan badannya yang cukup lelah, beberapa menit kemudian Vanya sudah terlelap dalam tidurnya. Tak berapa lama pun Kenzo juga ikut menyusul.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Adakah yang masih menunggu?


Jangan lupa dukungannya ya, like, komen dan vote


Biar tambah semangat akutuh 🥺🥺