The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 138



Cello mendadak panik saat mendapat tatapan tajam dari sang istri. Dia menoleh menatap wajah Shanum dan Alicia bergantian.


"Ehm, dia ini teman satu kelompokku di pelatihan, Yang." Jawab Cello sambil berusaha tersenyum.


Shanum menoleh kembali ke arah Alicia. Dia mengerutkan keningnya saat melihat ekspresi bingung dari Alicia.


"Yakin hanya teman satu kelompok, Mas? Dia tadi menganggapku pembantu kamu," jawab Shanum sambil menatap tajam ke arah Cello.


"Apa?!"


Cello langsung menoleh dan menatap wajah Alicia dengan tatapan tidak suka. Dia terlihat sangat geram saat mendengar jika Shanum dianggap seorang pembantu.


Hal berbeda justru ditampilkan oleh Alicia. Ekspresi wajahnya terlihat bingung saat melihat interaksi Cello dan juga Shanum yang ada di depannya.


"Cell?" tanya Alicia.


Entah mereka bertiga sadar apa tidak jika ketiganya kini masih berada di depan pintu rumah.


"Ada apa kamu kesini pagi-pagi, Lice?" tanya Cello dengan ekspresi tidak bersahabatnya. "Oh iya satu lagi, perkenalkan, wanita ini adalah Shanum. Dia bukan maid di rumah ini. Dia istriku, ibu dari anak-anakku."


Seketika wajah alicia tampak terkejut. Dia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang didengarnya.


"I-istri? Ka-kamu sudah menikah, Cell?" tanya Alicia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengar dan dilihatnya.


"Iya. Aku sudah menikah kurang lebih dua tahun yang lalu. Sekarang, bahkan aku sudah mempunyai dua orang putra."


"Du-dua?" 


Lagi-lagi sebuah kenyataan menghantam Alicia. Dia sama sekali tidak menyangka jika laki-laki muda di depannya tersebut sudah berkeluarga. Cello yang berusia dua puluh dua tahun dan lebih muda tiga tahun darinya tersebut, ternyata sudah menikah dan bahkan mempunyai dua orang anak.


"Iya. Aku memang sudah menikah dan mempunyai dua orang anak."


Wajah pias masih ditunjukkan oleh Alicia. Namun, dia berusaha untuk tersenyum ke arah Cello dan Shanum. Dia buru-buru mengulurkan tangannya ke arah Shanum.


"Hai, maafkan perkataanku tadi. Perkenalkan, namaku Alicia. Aku teman satu kelompok Cello."


"Shanum yang melihat hal itu berpikir sebentar sebelum membalas uluran tangan wanita muda tersebut.


"Shanum.


"Ehm, maaf kedatanganku sepagi ini mengganggu kalian. Aku hanya bermaksud menjemput Cello ke tempat pelatihan," kata Alicia ragu-ragu.


Shanum yang mendengar hal itu langsung tersentak kaget. Dia menoleh menatap ke arah Cello dengan tatapan menusuknya. Cello yang bisa mengartikan tatapan tersebut langsung menggeleng dengan cepat.


"Lalu, kenapa dia datang ke rumah pagi ini dan mengatakan akan menjemputmu?"


"Eh, aku tidak tahu, Yang."


"Alasan."


"Benar, kok Yang. Suer." Kata Cello sambil mengangkat kedua jarinya dan memasang wajah paniknya. Dia punya firasat jika dia harus berpuasa lama setelah ini.


Saat Shanum dan Cello tengah berdebat dengan menggunakan bahasa Indonesia, Alicia menginterupsi perdebatan mereka.


"Eh, maaf sebelumnya. Aku tidak mengetahui apa yang kalian bicarakan. Tapi, biar aku jelaskan sesuatu. Maaf sebelumnya aku tidak mengetahui jika Cello sudah menikah. Hari ini, aku datang kesini hanya untuk memberi tumpangan ke tempat pelatihan, karena yang aku lihat, selama ini Cello datang ke tempat pelatihan dengan menggunakan transportasi umum."


Setelah mendengar perkataan Alicia, sontak Cello langsung merasa kesal. Ditatapnya wajah Alicia dengan tatapan tajamnya.


"Aku datang ke tempat pelatihan dengan menggunakan transportasi umum karena memang aku menginginkannya. Aku ingin banyak menikmati perjalananku dari pada harus berkonsentrasi dengan jalanan di depanku. Lagipula, aku menggunakan transportasi umum bukan berarti aku tidak punya kendaraan. Kamu lihat, aku juga punya kendaraan sendiri," kata Cello sambil menunjukkan kendaraannya yang terparkir di garasi di samping rumahnya.


Tentu saja Alicia terkejut melihat hal itu. Apa yang selama ini dipikirkannya tidak sesuai dengan kenyataan.


"Sorry."


"Sekarang, berangkatlah ke tempat pelatihan. Aku tidak akan berangkat dengan kamu."


Meskipun Alicia terkejut mendengar perkataan Cello, namun dia bisa mengerti jika Cello sedang menjaga perasaan sang istri. Alicia menganggukkan kepalanya dan segera pamit.


Setelah kepergian Alicia, Shanum menoleh menatap Cello yang masih melingkarkan tangan pada pinggangnya. Mendadak Cello diserang rasa panik saat menyadari tatapan sang istri.


"Ya-yang?"


"Yang, yang, kayang?! Kamu bahkan tidak menyadari jika selama ini dikintilin wanita model begituan, Mas?!"


"Eh, bukan begitu, aku memang tidak menganggapnya berlebihan."


"Yakin?"


"Tentu saja, Yang?"


"Lalu, selama ini siapa saja yang sudah mengetahui jika kamu sudah menikah?"


"Eh, tidak ada, Yang. Aku tidak suka mengumbar kehidupan pribadiku."


"Apa?!"