The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 54



Please, jika kurang berkenan, di skip saja ya.


Shanum langsung merangkak di atas tempat tidurnya. Dia sudah bersiap untuk merebahkan diri di sana. Namun, seketika dia teringat jika tadi sang suami tidak membawa baju ganti. Shanum segera beranjak turun dari tempat tidur dan berjalan menuju walk in closet.


"Hhhmmm, sebenarnya sih nggak usah pakai apa-apa lagi kan. Sebentar lagi pasti juga dilepas." Gumam Shanum sambil berdiri di depan lemari baju Cello.


Namun, dia merasa tidak enak jika tidak menyiapkan baju ganti untuk Cello. Shanum akhirnya mengambil boxer dan kaos tipis untuk sang suami. Setelahnya, dia berniat untuk mengantarkannya ke kamar mandi.


Saat Shanum hendak mengetuk pintu kamar mandi, ternyata Cello sudah keluar dari dalam sana dengan menggunakan handuk yang dililit pada pinggangnya. Keduanya kaget karena kedatangan dan langsung saling mematung.


"Eh, sudah selesai? Mau pakai kaos dulu atau langsungan, Mas?" Tanya Shanum sambil berjalan mendekat ke arah Cello. Bahkan, tubuh Cello langsung menegang dengan mata mengawasi tubuh Shanum yang tampak menonjol di beberapa tempat di balik jubah tidurnya tersebut.


Glek


Glek


Glek


Cello benar-benar berusaha untuk menelan salivanya yang susah payah. Hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras terdengar di telinga Shanum.


Hal tersebut ternyata tidak luput dari perhatian Shanum. Bahkan, gerakan jakun Cello yang naik turun pun menarik perhatian Shanum. Dengan tatapan mata yang masih mengarah pada leher Cello, Shanum berjalan mendekat ke arah Cello. Semakin dekat, dan semakin dekat.


Cello benar-benar harus berkonsentrasi melihat pergerakan Shanum. Bukannya apa-apa, hanya saja dia takut tidak bisa menahan keinginan untuk langsung menyerang Shanum. Padahal, ini kali pertama bagi Shanum. Cello sudah berjanji dengan dirinya sendiri akan memberikan pengalaman yang tidak akan dilupakan oleh Shanum. Dia akan melakukannya dengan pelan-pelan.


Namun sepertinya, bukan hanya Cello yang terlihat sangat menginginkan hal ini. Shanum pun terlihat sudah sangat bersemangat.


Cello semakin menegang. Tubuh atasnya yang masih polos dan sedikit basah, bahkan tidak terasa dingin. Namun, justru terasa sangat panas dan gerah.


"Mas, kamu kok nelen ludah terus sih, kenapa? Tenggorokannya kering?" Tanya Shanum sambil masih melanjutkan aksinya. Namun kali ini, ujung jari telunjuknya justru turun ke bagian da*da Cello. Semakin kebawah, dan semakin ke bawah. 


Hingga tangan tersebut, sampai pada ujung lilitan handuk yang berada pada pinggang Cello. Lagi-lagi Cello merasakan seluruh tubuhnya meremang tak karuan hanya karena ujung jari Shanum. Dia benar-benar sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi. 


Cello langsung menangkap gerakan tangan Shanum yang hendak berjalan turun tersebut.


Grep


"Kamu sudah berani menggodaku, ya. Jangan salahkan aku jika aku benar-benar tidak bisa menahan diri lagi," kata Cello sambil menatap dalam pada kedua manik mata sang istri.


Sebuah senyum terulas pada bibir Shanum. Dia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Cello. Setelah berhasil lepas, Shanum langsung mengalungkan kedua tangannya pada leher Cello. Dia bahkan berjinjit untuk memberikan sebuah kecupan pada bibir Cello.


Cup


"Aku justru ingin kamu tidak menahan diri lagi, Mas."


Tinggalkan klik like dan komen untuk othor ya.


Scroll 👇