
Dena buru-buru menghampiri sang suami yang berada di dalam kamar mandi. Drew dan Dryn juga ikut mengekori sang aunty untuk menemui uncle kesayangan mereka tersebut.
"Mas, kamu kenapa? Sakit? Kenapa muntah-muntah begini?" Dena mengusap-usap punggung Rean yang sedang membungkuk di atas kloset tersebut.
Rean menggelengkan kepala sambil mengusap air matanya yang berada di sudut mata.
"Enggak, Yang. Perutku mual. Rasanya mulutku juga nggak enak ini." Rean menegakkan tubuhnya. Dilihatnya kedua keponakannya sedang berdiri di depan pintu kamar mandi dan menatapnya takut-takut.
"Eh, ada Drew dan Dryn juga?" Rean melangkahkan kaki keluar kamar mandi dengan bantuan Dena. Dia berjalan menghampiri kedua keponakannya yang melihatnya dengan ekspresi khawatir.
"Unce, tenapa? Acit?" Drew menyentuh tangan Rean dan mengusapnya pelan-pelan.
"Enggak, Sayang. Uncle nggak apa-apa. Tadi kesini sama siapa?" Rean menuntun kedua keponakannya melangkah keluar kamar. Sedangkan Dena, dia berjalan mengekori Rean.
"Sama Mommy." Kali ini Dryn yang menjawab.
Rean merasakan perutnya kembali mual. Namun, dia menahan gejolak perutnya agar tidak muntah. Mereka berjalan menuju ruang tengah, dimana Shanum sudah menunggu.
Saat sudah berada di dekat Shanum, lagi-lagi perut Rean terasa seperti di aduk-aduk. Secepat kilat dia segera berlari menuju kamar mandi yang berada di dekat tangga.
Hoeekkk. Hooooeekkk.
Dena juga langsung berlari mengejak Rean dan membantunya di dalam kamar mandi.
Drew dan Dryn yang melihat hal itu menjadi sedikit takut. Mereka berjalan mendekati sang mommy.
"Unce tenapa, Mom?" Drew tampak khawatir. "Acit?"
Shanum mengusap kening sang putra sambil mengecupinya dengan penuh kasih sayang.
"Enggak, Sayang. Uncle nggak sakit, kok. Paling uncle hanya nggak mau maem jadi sakit perut. Drew dan Dryn jangan suka menolak jika diminta maem sama Oma, ya. Kalian mau seperti uncle Re?"
Kedua balita tersebut menggelengkan kepala dengan cepat. Setelah itu, perhatian mereka teralihkan pada acara televisi yang sedang menayangkan serial kartun kucing menggemaskan dengan kantong ajaibnya. Drew dan Dryn buru-buru melangkahkan kaki menuju depan televisi.
Setelah memastikan kedua buah hatinya duduk nyaman di depan televisi, Shanum melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk mengetahui keadaan Rean. Begitu sampai di depan pintu, Shanum melihat sang adik tengah membungkuk di atas kloset dengan Shanum berdiri di belakangnya untuk mengusap-usap punggung.
"Kenapa, Re? Apa kamu masuk angin?" tanya Shanum.
Rean menggeleng-gelengkan kepala. Dia menoleh sekilas ke arah sang kakak.
"Enggak, Kak. Hanya mual saja."
Kali ini Dena yang menjawab pertanyaan Shanum. "Yang parah sih hari ini, Sis. Tapi, kemarin-kemarin nggak sampai begini."
"Sudah lama begini?"
"Ehm, kalau nggak salah, sudah sejak minggu lalu. Tapi, dulu hanya saat mencium air saat pagi saja sih mualnya. Tidak separah ini."
"Apa jika siang, juga sering mual begini?"
"Enggak. Paling nanti jam sembilan juga sudah biasa lagi. Bahkan, selera makannya juga semakin banyak."
Shanum mengangguk-anggukkan kepala. Dia sudah mulai berpikir tentang kehamilan Dena.
"Den, sebaiknya kamu segera periksa, deh."
Dena menolehkan kepala ke arah Shanum dengan kening berkerut. "Periksa? Kenapa harus aku yang periksa?"
Shanum masih menatap ke arah Dena. Rupanya, sang adik ipar belum menyadari kemungkinan kehamilannya.
"Aku hanya berpikir, siapa tau kamu hamil, Den. Jika dilihat dari gejala Rean, sepertinya dia mengalami kehamilan simpatik."
Seketika Dena dan Rean mendongakkan kepala ke arah Shanum. Mereka cukup terkejut dengan perkataan ibu muda tersebut.
"Hamil?"
"Iya. Kemungkinan, Dena hamil."
Siang itu juga, Rean dan Dena langsung mengunjungi dokter kandungan. Kali ini, Rean dan Dena memilih rumah sakit lain selain rumah sakit tempat papi Hendra bekerja. Mereka tidak ingin membuat kehebohan sebelum semuanya terbukti.
"Mas, apa benar aku hamil? Kenapa nggak terasa, ya?" Dena terlihat khawatir. Dia harap-harap cemas menunggu panggilan pemeriksaan.
"Sabar, Yang. Kita berdoa saja yang terbaik."
Dena menganggukkan kepala. Dia meraba perutnya yang sebenarnya, sedikit membesar. Namun, Dena berpikir itu karena hobi nyemil malam yang akhir-akhir ini selalu dilakukannya.
Hingga beberapa saat kemudian, nama Dena sudah dipanggil.
"Ibu Dena?"