
"Aku merasa mual dengan semua make up itu Fid. Entah mengapa aku tidak suka memakainya akhir-akhir ini." Jawab Vanya.
"Hhhaaah?!"
Fida langsung membulatkan mata dan mulutnya mendengar penuturan Vanya. Seketika otaknya langsung bekerja untuk memprediksi berbagai kemungkinan yang terjadi kepada Vanya.
"Sejak kapan kamu merasa mual dengan semua make up itu Van?" Tanya Fida dengan wajah antusiasnya.
Dia langsung menarik lengan Vanya hingga terduduk di kursi ruang makan tersebut. Sementara Vanya mengerutkan keningnya bingung. Dia merasa aneh mengapa Fida sampai menanyakan hal tidak penting seperti itu.
"Memangnya ada apa sih, Fid? Aku yang merasa mual, kenapa kamu yang aneh begini sih." Kata Vanya.
"Sudah, jawab saja. Sejak kapan kamu merasa mual dengan semua make up itu?" Tanya Fida dengan tidak sabarnya.
Vanya mencoba mengingat-ingat. Dia sudah jarang menyentuh make up itu sekitar seminggu yg lalu. Paling banter dia hanya memakai lipbalm dan bedak bayi jika keluar.
"Ehm, sepertinya sekitar seminggu yang lalu. Memangnya ada apa sih Fid?" Tanya Vanya. Dia masih belum mengerti maksud Fida.
"Hhmm, seminggu." Gumam Fida sambil mengetuk-ngetukkan jarinya pada dagunya. "Lalu, kapan terakhir kamu datang bulan Van?" Tanya Fida lagi.
Vanya semakin bingung. Dia merasa sedikit aneh dengan Fida. Mengapa sahabatnya ini menjadi sangat cerewet sekali, gerutu Vanya dalam hati. Fida yang merasa tidak sabar mendengar jawaban Vanya pun langsung menggoyang-goyangkan lengannya.
"Cepet Van, cepet ingat-ingat kapan terakhir kamu datang bulan." Desak Fida.
"Iya, iya. Aku ingat-ingat deh." Jawab Vanya sambil mulai menghitung. "Eehmm, aku datang bulan saat berada di Bali setelah menikah waktu itu, tanggal 16 berarti. Lalu, bulan depannya maju satu hari tanggal 15. Dan, bulan ini, empphh.." Vanya langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia menoleh menatap wajah Fida dengan mata membulat.
"Ada apa Van?" Tanya Fida tidak sabar.
"I-ini sudah akhir bulan Fid, dan aku belum datang bulan. Ap-apa jangan-jangan a-aku ha-hamil?" Kata Vanya terbata-bata.
"Bisa jadi Van. Sekarang, ayo kita periksa ke dokter kandungan. Kita harus memastikan kamu benar-benar hamil atau tidak. Jika kamu benar-benar hamil, kamu bisa memberikan kejutan untuk suami kamu." Kata Fida antusias.
Vanya yang mendengar perkataan Fida pun langsung mengangguk mengiyakan. Tangan kanannya tanpa sadar mengusap perutnya yang masih sangat datar. Dia berharap ada kehidupan yang hadir di dalam perutnya itu.
Fida segera memesan taksi online. Fida sedang malas menyetir dan dia tidak akan membiarkan Vanya menyetir saat ini. Vanya harus benar-benar menjaga kandungannya jika dirinya benar-benar tengah hamil.
Setelah taksi yang mereka pesan datang, mereka langsung berangkat menuju klinik ibu dan anak tak jauh dari komplek perumahan Vanya. Mereka hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai di klinik tersebut.
Vanya dan Fida segera turun dan bergegas masuk ke dalam klinik tersebut. Namun, langkah kaki Vanya terhenti saat dirinya melihat sosok perempuan yang lumayan dikenalnya. Perempuan itu terlihat sedang mengantri di depan apotek yang ada di sebelah kiri klinik tersebut.
Fida yang melihat Vanya masih diam tak bergerak, segera meraih tangannya. Dia mengikuti arah pandangan mata Vanya.
"Ada apa Van? Kamu lihat siapa?" Tanya Fida sambil celingak-celinguk mencari tahu apa yang sedang diperhatikan oleh Vanya.
"Oh, itu. Aku melihat tetangga depan rumah. Sedang apa dia di sini ya." Jawab Vanya sambil melangkahkan kakinya.
"Tetangga depan rumah suamimu?" Tanya Fida.
"Iya, memang rumah yang mana lagi." Jawab Vanya.
"Perempuan kutilang itu? Siapa itu namanya, …" Fida mencoba mengingat-ingat.
"Elsa." Ucap Vanya.
"Ah, iya itu, Elsa. Yang mana sih orangnya? Aku jadi penasaran Van." Kata Fida sambil melongokkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Vanya langsung menarik lengan Fida agar segera menuju tempat pemeriksaan.
Vanya melakukan pendaftaran dulu sebelum melakukan pemeriksaan. Beruntung saat itu tidak terlalu banyak pasien, Vanya segera mendapatkan panggilan.
Dia bersama Fida langsung masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Vanya melihat ada seorang dokter perempuan yang seusia mama mertuanya. Dokter Vivi, nama yang tertera pada name tag itu.
Dokter Vivi menjabat tangan Vanya dan Fida bergantian. Setelahnya, beliau menyuruh Vanya dan Fida untuk segera duduk.
"Jadi, ibu Vanya kapan terakhir anda datang bulan?" Tanya dokter Vivi.
"Tanggal lima belas bulan kemarin, Dok." Jawab Vanya dengan yakin. Fida sudah menanyakan hal itu sejak di rumah tadi.
Dokter Vivi mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menuliskan sesuatu. Selanjutnya, Vanya di minta untuk berbaring pada tempat yang disediakan untuk melakukan pemeriksaan. Dengan bantuan seorang perawat yang mengoleskan gel pada bagian perut Vanya, dokter Vivi segera melakukan pemeriksaan setelahnya.
"Selamat, bu Vanya. Anda sedang mengandung." Kata dokter Vivi sambil menunjuk ke arah monitor.
Vanya seketika menoleh menatap monitor yang ditunjukkan oleh dokter Vivi. Hatinya terasa menghangat. Perasaan bahagia langsung melingkupinya. Tak terasa matanya berkaca-kaca melihat calon anaknya pada monitor tersebut.
Fida yang menyaksikan hal itu pun merasa sangat takjub. Dia juga sangat bahagia mendengar sahabatnya tengah mengandung.
Setelah selesai pemeriksaan, Vanya segera turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kursi yang tadi di tempatinya. Dokter Vivi memberikan beberapa nasihat dan meresepkan beberapa vitamin agar dikonsumsi Vanya. Karena ini kehamilan pertama bagi Vanya, dia juga menanyakan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Cukup lama Vanya berkonsultasi dengan dokter Vivi. Setelah dirasa sudah cukup, Vanya dan Fida segera undur diri. Fida segera memesan taksi online agar mengantarkan mereka pulang. Namun, saat dalam perjalanan, Vanya teringat janjinya makan siang bersama dengan Kenzo dan Reyhan. Dia juga ingin langsung memberitahukan berita kehamilannya itu kepada sang suami.
"Kita makan siang dulu, Fid." Kata Vanya setelah memberitahukan tujuan baru mereka kepada supir taksi online tersebut.
"Kenapa tidak pesan saja sih, Van. Kita makan siang di rumah saja. Aku nggak mau kamu kecapekan." Kata Fida.
"Aku nggak capek, Fid. Aku sudah janji makan siang dengan mas Kenzo. Aku nggak mau membatalkannya. Lagi pula, aku juga ingin segera menyampaikan berita bahagia ini kepadanya." Jawab Vanya sambil tersenyum dan memandangi foto hasil USG nya tadi.
Fida yang melihat tingkah Vanya hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Dia ikut bahagia melihat sang sahabat bahagia.
Tak berapa lama kemudian, Vanya dan Fida sudah sampai di restoran yang dijanjikan. Mereka segera masuk dan mencari tempat yang nyaman. Vanya memilih bagian samping restoran tersebut yang menghadap taman. Dia ingin suasana yang segar dengan melihat banyak jenis bunga yang tumbuh di sana. Vanya dan Fida segera memesan minuman sambil menunggu kedatangan Kenzo dan Reyhan dari lapangan golf.
Sementara di lapangan golf, Kenzo dan Reyhan sedang berbincang-bincang dengan beberapa relasi bisnis mereka. Hingga tatapan mata keduanya menangkap sesosok laki-laki yang beberapa hari yang lalu sempat membuat mereka penasaran.
Reyhan mendekat ke arah Kenzo. Tatapan mata keduanya sama-sama mengarah kepada sesosok laki-laki yang berjalan mendekat ke arah mereka.
"It's show time!"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon dukungannya ya, klik like, vote dan komen. Gratis semua lho, bentuk dukungan untuk othor, agar othor nggak merasa sendiri.
Untuk informasi kapan up dan karya terbaru, bisa follow ig othor @keenandra_winda
Thank you