
"Eh, ke apotek? Untuk apa?"
"Ccckkk. Untuk beli sarung emprit kamu itu!" Jawab mommy Vanya sambil mendengus kesal karena putranya mendadak lemot.
"Eh, untuk apa? Seharusnya kan nggak pakai sarung Mom. Biar cepet jadi." Lagi-lagi El benar-benar belum bisa connect.
"Hhhh, kamu ini mikirin apa sih El. Dari tadi nggak nyambung-nyambung." Gerutu mommy Vanya. "Segera ke apotek untuk membeli testpack buat Fara. Mommy curiga istri kamu itu sedang hamil." Lanjut mommy Vanya.
"Benarkah, Mom?" Kata El dan Fara bersamaan. Mereka sama sekali belum kepikiran ke arah sana.
"Iya. Cepetan gih berangkat." Kata mommy Vanya sambil mendorong tubuh El.
El yang masih terkejut pun terpaksa menuruti perkataan sang mommy. Dia berjalan menuju garasi untuk mengambil mobilnya. Sementara Fara masih berdiri di dekat mini bar yang ada di dekat dapur tersebut. Wajahnya masih menunjukkan sedikit keterkejutannya.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" Tanya mommy Vanya saat mendekati sang menantu.
"Tidak apa-apa, Mom."
"Lalu, kenapa wajah kamu pucat seperti ini?" Tanya mommy Vanya sambil membenahi anak rambut Fara yang berantakan pada pipinya.
"Aku hanya kepikiran hal yang tadi, Mom. Apa benar aku hamil?" Kata Fara sambil mengusap perutnya yang masih datar.
"Mommy juga tidak tahu, Sayang. Tapi, sebaiknya kita periksa besok pagi ya. Biasanya, saat pagi hari itu paling akurat untuk melakukan tes kehamilan." Kata mommy Vanya.
"Iya, Mom."
"Ya sudah. Sekarang kamu ganti baju lalu istirahat. Mommy akan disini sampai suami kamu pulang."
"Baik, Mom. Aku istirahat dulu." Kata Fara sambil beranjak pergi menuju kamarnya.
Beberapa saat kemudian, daddy Kenzo tampak menghampiri mommy Vanya yang sedang berada di dapur. Mommy ternyata sedang membuat kopi.
"Kenapa masih disini? Anak-anak belum pulang?" Tanya daddy Kenzo sambil memeluk mommy Vanya dari belakang.
"Eh, kenapa turun Mas? Sudah kok. Fara sudah berada di kamarnya. Hanya saja, El harus keluar dulu ke apotek."
"Ke apotek? Ada apa?" Tanya daddy Kenzo sambil melepaskan pelukannya pada tubuh mommy Vanya. "Ada yang sakit?" Lanjutnya.
"Nggak ada, Mas. Hanya saja, aku curiga Fara sedang hamil muda saat ini."
"Benarkah? Aku akan punya cucu?" Tanya daddy Kenzo dengan wajah berbinar bahagia.
Tak berapa lama kemudian, terdengar suara mobil memasuki garasi. Mommy dan daddy yakin itu adalah mobil El. Dan, benar saja. Beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki El berjalan menuju ruang tengah.
"Sudah dapat test packnya, El?" Tanya mommy Vanya sambil menghampiri sang putra.
"Sudah, Mom. Ini." Jawab El sambil menunjukkan barang bawaannya.
Seketika mommy Vanya mengambil barang bawaan El dan membawanya ke meja ruang tengah.
"Kenapa berar sekali. Berapa banyak yang kamu beli, El?" Tanya mommy Vanya.
"Ehm, itu, anu…" Belum selesai El menjawab pertanyaan mommy Vanya, namun sang mommy sudah mendahuluinya.
"Hhaaahh, apa-apaan ini? Satu, dua, tiga, …, sepuluh, lima belas,..... Haahh? Dua puluh empat? Kamu membeli dua lusin test pack, El?" Tanya mommy Vanya sambil menoleh menatap wajah sang putra.
"Ehm, itu, anu, buat cadangan, Mom. Lagipula, aku kan tidak tahu harus membeli yang seperti apa, Mom? Jadi, daripada salah, aku beli saja semuanya yang ada. Hehehe." Jawab El sambil tersenyum nyengir.
"Astaga, Masss. Anak kamu kenapa mewarisi sifat kamu sih." Gerutu mommy Vanya sambil menatap tajam wajah daddy Kenzo.
"Eh, kenapa aku dibawa-bawa?" Tanya daddy Kenzo.
"Kamu dulu juga seperti itu. Bukan test pack yang kamu borong. Tapi kacamata wanita."
"Hhhhhh,"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon maaf slow up. 🙏