The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 35



Mendadak Shanum seperti kehilangan kesadaran. Namun, dia masih bisa sedikit menyadari apa yang terjadi dengannya. Shanum juga sayup-sayup mendengar percakapan beberapa orang yang ada di dekatnya.


"Bawa masuk sekarang sebelum ada yang melihat." Kata seorang laki-laki dengan suara beratnya.


"Kerja bagus, Meg. Sesuai apa yang kami inginkan. Bayaran kalian akn langsung ditransfer ke rekening kalian." Kata sebuah suara lagi.


"Gue mau bonusnya dua kali lipat." Kata Megan.


"Tentu saja. Gue akan langsung kirim setelah puas dengan anak ini. Kalian pergilah dari sini." Kata laki-laki itu.


Shanum masih bisa sedikit mendengarkan percakapan tersebut. Namun, dia tidak bisa melakukan apapun. Tubuhnya terasa tak berdaya. Bibirnya juga tak bisa berucap sepatah kata pun. Jangankan berteriak minta tolong, hanya sekedar membuka suara pun dia tidak bisa.


Shanum merasakan dia dibopong memasuki sebuah ruangan. Setelahnya, dia merasakan tubuhnya terasa dilempar pada sebuah kasur. Hanya terdengar tawa yang berasal dari dua orang yang tadi berbicara dengan Megan.


"Gue duluan Yus, lo belakangan." Kata sebuah suara yang lebih serak.


"Enak saja! Gue duluan. Gue yang pesan ini cewek!" Bentak yang satunya. 


Shanum berusaha untuk membuka kedua matanya dan mulutnya. Namun, lagi-lagi dia tidak bisa melakukannya. Dia hanya bisa merasakan ada sentuhan kasar pada betisnya. Shanum juga merasakan ada yang melepaskan sepatu dan kaos kakinya.


Shanum merasakan tidak hanya tangan yang menjamah kakinya, namun juga bibir dari salah satu laki-laki tersebut. Saat itu, Shanum benar-benar ingin berteriak dengan kencang untuk meminta tolong. Namun, beberapa saat kemudian, Shanum mendengar pintu didobrak dengan sangat keras dan diiringi suara sesuatu yang dilempar.


Setelahnya, yang Shaum dengar hanya ucapan sumpah serapah dan perkelahian. Umpatan dan makian tak berhenti dari kedua orang yang membawa Shanum tadi. Shanum benar-benar ingin berteriak minta tolong. Hingga telinganya mendengar suara sirine polisi datang mendekat. Tak berapa lama kemudian, terdengar suara gaduh dari beberapa polisi yang mengamankan kedua orang laki-laki tersebut. 


Shanum merasakan ada yang menyentuh pipinya dan menepuk-nepuknya dengan pelan.


Shanum merasa sangat lega dan bersyukur dan lega mendengar suara Cello. Namun, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Cello. Kedua mata dan mulutnya tidak bisa terbuka sama sekali.


Menyadari jika Shanum terpengaruh obat, Cello langsung membopong Shanum dan membawanya ke rumah sakit. Sejak saat itu, Shanum mengalami sedikit trauma. Bahkan, orang tuanya saja kesulitan untuk mengajaknya berkomunikasi. Hanya Cello yang berhasil membuatnya sedikit bersuara. 


Hingga hampir enam bulan Shanum mengalami hal tersebut. Segala macam usaha dilakukan oleh orang tuanya untuk mengatasi trauma Shanum. Dengan permintaan keluarga Shanum, Cello masih ikut membantu proses penyembuhan trauma Shanum.


Shanum hanya bisa ceria dan banyak bicara hanya jika ada Cello di sana. Hal itu yang membuat kakek dan nenek Cello dan juga Shanum menjodohkan mereka. Dengan segala macam usaha dan permohonan, Cello menyetujui permintaan keluarga besarnya tersebut.


Selama dalam proses penyembuhan, Shanum hanya bisa merespon apapun jika ada Cello bersamanya. Selama hampir enam bulan tersebut, Shanum juga menjalani homeschooling. Dan hal itu pun tak lepas dari keberadaan Cello.


Memasuki semester dua, Shanum sudah bisa berinteraksi tanpa Cello meski dia harus tetap melakukan pendidikannya dengan cara homeschooling. Saat kelas sebelas, Shanum sudah kembali ke sekolah seperti biasanya. Dia sedikit demi sedikit sudah bisa melupakan peristiwa yang membuatnya trauma. 


Satu hal yang membuat Shanum berubah adalah tangisan sang mama dalam doanya setelah melakukan sholat malam. Mama Revina menangis memohon kesembuhan kepada Shanum agar bisa kembali seperti semula. Shanum juga melihat sang mama menyalahkan dirinya sendiri dengan apa yang terjadi kepadanya.


Sejak saat itu, Shanum benar-benar melawan segala ketakutan yang ada dalam dirinya. Dia benar-benar melawan traumanya. Dia tidak membiarkan dirinya menjadi lemah dan cengeng. Sedikit demi sedikit, Shanum berubah menjadi gadis yang ceria. Shanun berharap, dengan cara seperti itu, dia bisa menunjukkan kepada semua orang jika dia sudah baik-baik saja.


Dan, usahanya saat itu berhasil. Shanum benar-benar bisa lepas dari rasa takut dan traumanya. Dia bisa menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Keluarganya pun juga berusaha untuk tidak membicarakan hal-hal tersebut setelahnya. Mereka seolah sepakat untuk mengubur masalah itu dalam-dalam.


Flashback off.


Maafkan othor masih belum bisa ngetik banyak. Efek vaksin kemarin masih terasa sampai sekarang.


Kasih dukungan dengan klik like, vote dan komen untuk othor ya. Kirim hadiah juga boleh. Terima kasih.