The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 33



Shanum mengikuti langkah kaki Cello menuju kamar tidur mereka. Dia meyakinkan dirinya sendiri untuk berbicara kepada Cello.


"Ehm, Mas. Apa kita bisa bicara sebentar?" Tanya Shanum setelah mereka sudah berada di dalam kamar.


Cello menghentikan langkah kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia menoleh menatap ke arah Shanum sambil mengerutkan keningnya.


"Baiklah. Tapi, bersih-bersih dulu dan lakukan aktivitas yang biasa kamu lakukan sebelum tidur. Setelah itu, kita bisa berbicara." Jawab Cello sambil melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


Shanum segera beranjak untuk menuruti perkataan Cello. Dia juga segera beranjak menuju walk in closet untuk mengganti bajunya. Shanum tidak memakai baju yang dibelinya dengan mommy Fara tadi siang. Dia memakai baju tidurnya sendiri dan segera memulai ritual malamnya.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka berdua sudah duduk di atas tempat tidur dan saling berhadapan. Cello masih menunggu Shanum untuk memulai percakapan. Dia memberikan kesempatan kepada Shanum yang masih terlihat berusaha untuk menenangkan diri.


"Ehm, a-apa kita bisa membicarakan sesuatu?"


"Boleh. Aku juga ingin membicarakan sesuatu. Tapi nanti setelah kamu selesai,"


Shanum terlihat gugup. Dia menggigiti bibir bawahnya sambil meremas kedua tangannya. Kedua kakinya yang duduk bersila membuat lutut hingga setengah pahanya terlihat dengan jelas oleh Cello. Ya, Shanum memang memakai celana pendek di atas lulut saat itu. Namun, karena kegugupannya, Shanum tidak menyadari hal itu.


"Ehm, a-apa mas Cello ingat kejadian beberapa waktu yang lalu yang menimpaku?" Tanya Shanum terlihat ragu-ragu.


Wajah Cello masih terlihat biasa saja. Ya, dia masih mengingatnya dengan jelas. Dia juga tahu jika Shanum masih begitu mengingatnya. Bahkan, Cello yakin jika Shanum tidak akan benar-benar melupakannya.


"Iya, aku mengingatnya. Apa kamu mau membicarakan masalah itu?"


Lagi-lagi Shanum menggigiti bibir bawahnya. Dia terlihat sangat ragu untuk memulainya. Namun, mau tidak mau dia harus melakukannya. Dia tidak ingin hubungannya dengan Cello akan dibayang-bayangi oleh masa lalunya.


"I-iya, Mas. Aku ingin membicarakan apa yang aku rasakan." Jawab Shanum sambil memberanikan diri untuk menatap wajah Cello.


Menyadari jika sang istri tengah berusaha untuk mengutarakan isi hatinya, Cello hanya bisa mengangguk mengiyakan.


"Baiklah jika itu yang kamu inginkan. Aku akan mendengar apapun yang mau kamu sampaikan."


Shanum kembali menatap wajah Cello yang kini juga tengah menatapnya. Dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan.


"Baiklah. Aku akan mendengarkan apapun yang akan kamu ceritakan."


Flashback on.


Langit cerah pagi itu mengantarkan langkah seorang gadis yang baru saja berusia lima belas tahun tersebut menuju sekolahnya. Dua hari setelah acara kelulusan di sekolah menengah pertamanya, gadis tersebut harus kembali ke sekolah untuk mengambil surat keterangan lulus sebagai pengganti ijazah yang memang belum jadi.


Ya, gadis tersebut adalah Shanum. Waktu itu, Shanum mengendarai sepeda motor maticnya memasuki gerbang sekolah dan memarkirkan sepeda motornya di tempat biasa. Setelahnya, dia berjalan menuju sebuah ruangan yang berada di dekat laboratorium untuk mengambil surat keterangan lulus tersebut.


Saat melewati perpustakaan, langkah kaki Shanum terhenti saat mendengar sebuah suara memanggil namanya. Shanum berbalik dan mendapati Megan dan juga Destia, teman sekelasnya berjalan menghampirinya.


"Mau ambil SKL?" Tanya Destia.


"Iya. Kalian juga?" 


"Iya, lah. Setelah ini kan harus mengantarkannya ke SMA Merdeka untuk melengkapi persyaratan pendaftaran." Kali ini Megan yang menjawab pertanyaan Shanum.


"Eh, kalian juga daftar di SMARKA?" Tanya Shanum terkejut. Pasalnya, Shanum mendengar jika Destia dan Megan sudah mendaftar di salah satu SMA internasional. Mengingat mereka berasal dari keluarga pengusaha yang cukup terkenal.


"Iya. Lo mau ke SMARKA juga setelah ini?" Tanya Destia.


"Iya. Langsung saja sih mau kesana. Mumpung sekalian keluar. Suka males jika harus bolak balik," jawab Shanum.


"Eh, gue boleh nebeng nggak? Lo bawa mobil apa motor?" Tanya Destia kembali.


"Bawa motor sih. Memang kalian naik apa ke sekolah tadi?"


"Boncengan naik motor. Tapi, nanti harus jemput teman kita satu lagi. Lo bisa bonceng Megan dulu nggak, gue akan jemput teman." Kata Destia.


Tanpa ragu, Shanum segera mengangguk mengiyakan.


Scroll ya, 👇