
Kinan sempat menghentikan gerakan tangannya dan menatap ke arah Adrian. Namun, kembali dia melanjutkan aktivitasnya.
"Aku hanya ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi," ucap Kinan sambil masih berusaha membuka kancing baju Adrian.
Merasa tubuh mereka terlalu dekat, Adrian menghentikan gerakan tangan Kinan. "Biar aku buka sendiri."
Mau tidak mau, Kinan menghentikan aktivitasnya membuka kancing baju suaminya tersebut. Dia mundur dua langkah untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Beberapa saat kemudian, Adrian sudah berhasil membuka semua kancing bajunya. Dia bisa melihat Kinan masih memperhatikannya. Meskipun malu, Adrian tetap membuka baju tersebut. Setelah itu, dia berbalik. Kinan bisa melihat ada perban yang menempel pada bawah bahu kiri Adrian.
"Eh, a-apa ini, Mas?" Kinan mendekat dan menyentuh perban tersebut dengan hati-hati.
Adrian menghela napas berat sebelum menjawab pertanyaan Kinan.
"Aku terjatuh saat menemani klien saat hari terakhir di Lombok kemarin. Punggungku mengenai ranting kayu yang baru saja dipotong."
"Hhaa? Kok bisa sampai di jahit begini?" Kinan tampak bingung saat melihat ada tiga jahitan di punggung Adrian.
"Aku terjatuh dari teras yang agak tinggi. Kakiku tergelincir karena licin bekas air hujan. Saat itu, di bawah ada pohon mangga dengan ranting yang baru dipotong. Punggungku langsung mengenai ranting itu sebelum aku terjatuh ke tanah hingga membentuk robekan."
"Astaga! Pasti sakit sekali ini saat dijahit." Kinan masih mengusap-usap punggung Adrian dengan ujung jarinya dengan gerakan ke atas, bawah, bahkan memutari luka Adrian yang di perban.
Dan, hal itu adalah kesalahan besar. Adrian adalah orang yang sangat sensitif terhadap sentuhan pada leher dan punggungnya. Sedikit saja mendapat sentuhan, dia pasti akan langsung, greeenggg.
"Sshhhhh," refleks Adrian mendeesah. Tubuhnya langsung meremang hebat dan berpusat pada bagian bawah tubuhnya. Saat itu, 'kail jumbo' Adrian tidak hanya baper, tapi langsung bersorak kegirangan karena digoda oleh pawangnya.
Kinan yang mendengar suara Adrian langsung mengernyitkan kening. Dia mengira jika Adrian kesakitan.
"Ada apa, Mas? Apa ada yang sakit?"
"Ti-tidak. Bantu aku melepas perbannya."
Kinan bisa melihat wajah Adrian yang memerah. Dia benar-benar tidak mengetahui alasan itu. Selanjutnya, Kinan hanya bisa menganggukkan kepala. Dia membantu Adrian melepas perban yang masih menempel pada punggungnya.
"Bisa mandi sendiri?" tanya Kinan. Entah mengapa pertanyaan itu refleks keluar dari bibir Kinan.
Adrian yang saat itu berdiri membelakangi Kinan, langsung mengernyitkan kening.
"Tentu saja bisa. Kamu pikir aku anak kecil yang harus membutuhkan bantuan untuk mandi?"
"Cckkk. Aku hanya khawatir luka kamu akan terkena air, Mas. Nanti nggak kering-kering."
Adrian terdiam. Memang benar apa yang ucapkan Kinan. Kemarin, mama Adrian yang membantunya membersihkan bagian punggung. Lalu untuk saat ini, apakah dia harus meminta bantuan sang mama ketika dia sudah memiliki istri? Adrian benar-benar dilema.
"Ehm, memang belum kering lukanya?" tanya Adrian. Sebenarnya, dia sudah tahu jika lukanya belum kering. Mamanya sudah mengomel saat tadi pagi membantunya mengelap punggung disekitar luka Adrian.
"Belum. Ini bahkan jahitannya belum dilepas."
"Ehm, baiklah kalau begitu." Adrian akhirnya hanya bisa pasrah saat mendengar jawaban Kinan.
"Eh, baiklah bagaimana maksudnya? Baiklah untuk dibantu mandi?"
\=\=\=
Hayo, kira-kira Si Om Duper mau jawab apa nih?
Kasih like dan komen banyak-banyak ya. Sudah ada jatah vote nih. Sisakan satu dong buat mereka.