The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 19



Braakkkk.


Suara gebrakan meja yang dilakukan oleh mamanya Adrian benar-benar membuat Adrian dan Kinan terlonjak kaget. Refleks, Kinan langsung merapatkan tubuhnya pada tubuh Adrian. Tangan Kinan langsung melingkar otomatis pada lengan Adrian.


"Jangan main-main, Yan! Mama sudah capek!" Tatapan tajam mamanya Adrian langsung mengarah kepada dua orang yang sedang duduk di depannya tersebut.


Adrian yang sudah sangat mengenal sang mama, berusaha menenangkan diri. Dia harus bisa menunjukkan kepada mamanya bahwa apa yang dikatakannya adalah benar.


"Apa yang ingin Mama ketahui? Ian akan menjawab semuanya. Tapi, Ian minta Mama jangan menatap Kinan seperti itu. Kasihan dia, Ma. Lihat, Kinan sangat takut. Apa Mama mau dianggap sebagai mertua yang jahat kepada menantu?" ucap Adrian sambil mengusap-usap bahu Kinan.


Entah sejak kapan posisi Kinan dan Adrian sudah berubah. Kini, Kinan sudah berada dalam dekapan Adrian. Dia dengan mudahnya menempel pada tubuh Asrian seperti itu. Dan yang lebih parah lagi, Kinan sama sekali tidak menyadari perubahan posisi tubuhnya tersebut. Dia menurut saja saat Adrian membawanya dalam dekapan.


Mama Adrian yang mendengar ucapan putranya tersebut langsung mengubah ekspresi wajahnya. Dia juga membenahi dress dan rambut yang sempat berantakan karena tindakannya menjajal ketebalan meja tadi.


Setelah berdehem, dan menenangkan diri, mama Adrian kembali menatap wajah Kinan dan Adrian bergantian. Tampak sekali dari ekspresi wanita berusia lima puluh tujuh tahun tersebut tengah penasaran.


"Baiklah. Sekarang, bisa kalian jelaskan semuanya?" pinta mama Adrian sambil menatap Adrian dan Kinan bergantian.


Terdengar helaan napas berat dari Adrian. Dia mengubah posisi duduknya. Perubahan posisi itu langsung menyadarkan Kinan hingga kini dia duduk seperti semula.


"Seperti yang aku bilang tadi, kami sudah mengenal lama, Ma. Tapi, kami baru mulai dekat akhir-akhir ini," ucap Adrian dengan ekspresi yang sudah kembali seperti setelan pabrik alias datar dan lempeng.


"Apa kamu selingkuh dengan dia sehingga menyebabkan perceraian kamu, Yan?" tuduh mama Adrian.


Kinan cukup terkejut mendengar ucapan mama Adrian. Jelas dia tidak terima. Namun, saat dia hendak protes, Adrian menghentikan niatnya dengan kembali menggenggam tangan Kinan.


"Jangan suka ngomong sembarangan, Ma. Kata-kata Mama bisa saja menyakiti hati Kinan."


Mama Adrian hanya bisa mencebikkan bibir. "Lalu, bagaimana cerita sebenarnya?"


"Mama tau sendiri aku menikahi Bara bukan karena keinginanku. Semua itu karena paksaan dari Kakek. Mama juga tau aku sama sekali tidak mencintai Bara. Begitu juga dengannya. Kami sama sekali tidak saling mencintai."


"Seharusnya, Mama tau jika Bara sudah punya kekasih. Lagipula, dia itu pelaku seni, Ma. Mana mau dia harus meluangkan banyak waktu untuk menemaniku menghadiri beberapa acara kantor. Dia sudah punya kontrak kerja sendiri, Ma."


Kening mama Adrian berkerut. Tatapan matanya masih berkilat-kilat saat menatap putranya tersebut.


"Apa itu alasan kalian melakukan kontrak pernikahan?"


Adrian tidak terkejut saat sang mama mengetahui kontrak perjanjian yang sudah dibuatnya dulu.


"Mama tau jika aku dan Bara membuat perjanjian?" Bukannya menjawab pertanyaan sang mama, Adrian justru bertanya.


"Hhhmmm."


"Sejak kapan?" 


"Cckkk. Tentu saja sejak awal Mama dan Papa tau jika kamu dan Bara membuat kontrak perjanjian itu. Apa kamu lupa jika Alex itu juga pengacara Mama dan Papa?!"


Adrian hanya meringis mendengar ucapan sang mama. Entah mengapa dia tidak berpikir sampai sana. Satu hal yang mengusik pikiran Adrian.


"Jika Mama dan Papa tau sejak awal aku dan Bara membuat kontrak perjanjian, mengapa Mama dan Papa tidak mencegah kami?"


\=\=\=


Hayo kenapa hayo?


Temani othor sampai end ya. 🤧