
Setelah perdebatan di depan kasir, akhirnya Dena menuruti kemauan Rean. Dia merasa malu kepada petugas kasir jika terus berdebat dengan Rean.
Beberapa saat kemudian, Dena dan Rean sudah tiba di basement gedung apartemen Dena. Mereka berdua segera beranjak untuk mengeluarkan barang belanjaan mereka. Dengan menenteng dua kantong belanjaan di kedua tangan, Rean berjalan mengekori Dena. Rean juga membawa tas yang berisi perlengkapannya.
Rean yang sudah tahu letak apartemen Dena pun tidak begitu terkejut. Begitu masuk, Rean mengedarkan pandangan dan tidak menemukan perbedaan sejak terakhir kali dia ke sana.
"Ini diletakkan dimana, Miss?" tanya Rean sambil menoleh ke arah Dena yang sedang menata beberapa berkas dan dimasukkan ke dalam map.
"Di atas meja makan saja."
Rean segera mengangguk dan berjalan menuju meja makan untuk meletakkan barang belanjaan mereka. Setelah itu, Rean kembali berjalan menuju ruang depan, tempat Dena berada.
"Aku tidur dimana, Miss?" tanya Rean. Dia tidak yakin jika mereka akan tidur bersama.
"Di sana." Dena menunjuk kamar depan.
Rean menghembuskan napas berat. Dia sudah menduga jika hal itu akan terjadi.
"Baiklah. Aku akan meletakkan baju dulu," ucap Rean sambil beranjak menuju kamar depan. Namun, langkah kaki Rean terhenti saat mendengar panggilan Dena.
"Tunggu, Re!"
Rean menoleh ke arah Dena. "Ada apa, Miss?"
"Ikut aku sebentar. Kita harus ke kantor pengurus apartemen untuk melaporkan pernikahan kita. Aku tidak mau ada kejadian tidak mengenakkan nanti."
Rean paham dengan maksud perkataan Dena. Dia segera mengangguk. "Baiklah."
Setelah itu, Rean dan Dena segera beranjak menuju kantor pengurus apartemen. Tak butuh waktu lama, mereka sudah selesai melaporkan pernikahan mereka kepada pengurus apartemen.
"Selamat Miss Dena. Saya tidak menyangka jika Anda menikah secepat ini. Ternyata, diam-diam Anda tertarik dan bisa menikah dengan laki-laki yang usianya lebih muda dari Anda. Biasanya, yang lebih muda itu lebih semangat goyangannya, Miss."
Dena dan Rean terlihat salah tingkah. Wanita paruh baya yang menjadi pengurus apartemen tersebut sudah berhasil membuat keduanya salah tingkah. Setelah berbasa basi, Rean dan Dena segera berpamitan. Mereka harus segera membereskan apartemen.
Rean menatap ke arah jendela yang ada di dalam kamarnya. Dia bisa melihat pemandangan kota Jakarta dari dalam kamarnya. Rean masih melamun di depan jendela tersebut, saat suara Dena membuyarkan lamunannya. Rean langsung beranjak menuju dapur tempat Dena berada.
"Ada apa, Miss?"
"Ini barang-barang belanjaan kamu. Oh iya, nanti malam mau dimasakin apa?"
Rean menerima barang belanjaannya yang berupa sabun, sikat gigi, dan pembersih wajah tersebut. Dia menoleh ke arah kulkas yang masih terbuka tersebut.
"Terserah saja, Miss. Aku pasti akan memakan apapun yang dibuatkan istri tercinta," ucap Rean sambil tersenyum lebar.
Sontak saja Dena menoleh ke arah Rean. Dia mendengus kesal dengan jawaban Rean tersebut. "Aku serius, Re."
"Eh, sama Miss. Aku juga serius, kok. Aku akan memakan apapun makanan yang sudah dimasak. Tenang saja, Miss. Aku bukan tipe orang yang suka pilih-pilih makanan."
Dena masih mencebikkan bibir sambil menoleh ke arah Rean. "Baiklah, aku akan memasak untuk makan malam. Awas saja jika nanti kamu sampai protes."
"Nggak akan, Miss."
Setelah itu, Dena mulai mengeluarkan bahan-bahan untuk membuat makan malam. Hari ini, Dena memutuskan untuk membuat brokoli tumis ayam. Dia juga membuat bakwan jagung. Mama Revina sudah memberi tahu Dena jika Rean sangat suka bakwan jagung.
Ketika sedang memasak, terdengar suara bel dari arah depan. Dena hendak melangkahkan kaki ke depan, saat Rean tiba-tiba melarangnya.
"Biar aku saja, Miss."
Dena menghentikan langkah kakinya dan mengangguk.
Ceklek.
"Iya?"
"Lho?"