
Rean masih menatap ke arah pemilik suara yang memanggilnya tersebut. Perempuan tersebut sedang lari-lari kecil ke arahnya.
"Ah Rean, tidak menyangka ketemu di sini. Ada janji?"
"Hhmmm."
"Irit sekali bicaranya," perempuan tersebut tampak mencebikkan bibirnya.
"Ada apa, Sa?" tanya Rean dengan ekspresi jengahnya. Ya, perempuan yang memanggilnya tadi adalah Ersa.
"Nggak ada apa-apa, sih." Ersa tampak tersenyum malu-malu dan mendekat ke arah Rean. "Mumpung kita ketemu disini, kita bisa nongkrong bareng. Ngobrol tentang rencana kerja sama juga bisa." Ersa masih tersenyum penuh harap kepada Rean.
"Sorry, gue nggak bisa. Gue ada janji dengan seseorang di dalam. Dan satu lagi, gue juga kerja samanya sama kakak lo, bukan sama lo." Tanpa menunggu jawaban dari Ersa, Rean langsung beranjak meninggalkannya dan segera memasuki kafe tersebut.
Ersa yang ditolak oleh Rean langsung mengumpat kesal. Dia merasa terhina sekali. Karena selama ini, dia merasa belum pernah ada yang berani menolak pesona seorang Ersa Angelina.
"Si*alan. Awas saja kamu, Re. Setelah ini, aku pastikan kamu tidak akan bisa menolakku lagi." Ersa masih menatap punggung Rean yang sedang berjalan menuju pintu kafe.
Setelah tubuh Rean tak terlihat lagi, Ersa segera beranjak menuju mobilnya. Dia melanjutkan niatnya untuk pergi dari kafe tersebut yang sempat tertunda karena melihat Rean tadi.
Begitu memasuki kafe, Rean langsung mencari keberadaan Dandi. Dia melihat Dandi berada di bagian ujung selatan kafe tersebut. Rean segera berjalan menghampirinya.
"Sorry gue lama." Rean langsung menggeser kursi tepat di depan Dandi. Laki-laki tersebut mendongakkan kepalanya menatap Rean yang sudah mulai membuka-buka buku menu.
"Dari mana saja lo? Lama banget."
"Biasalah."
"Kakak lo?"
"Hhhmmm."
Dandi hanya bisa mencebikkan bibirnya saat mendapati respon singkat Rean. Dia menunggu Rean memesan minuman sebelum mulai berbicara.
"Ada apa lo minta gue datang kemari?" tanya Rean.
"Gue butuh bantuan lo, Re."
"Untuk?"
"Eh, maksudnya bagaimana?"
"Lo kan tahu, gue hanya dua bersaudara. Kakak gue adalah saudara gue satu-satunya. Ya, meskipun kami sering berantem, tapi gue sayang banget sama dia. Dan, gue nggak ingin dia sampai sakit hati ataupun terluka nantinya."
Rean mengangguk-anggukkan kepala. "Iya, gue juga tau. Lalu, masalahnya dimana?"
"Whm, gue melihat calon kakak ipar gue masuk ke sebuah hotel remang-remang."
"Eh, ngapain masuk ke tempat remang-remang. Nggak seru, ih. Ngga bakal kelihatan," ucap Rean.
Bukk.
Dandi memukul kepala Rean dengan topi miliknya. "Gue lagi nggak bercanda, Re!" Dandi terlihat kesal dengan Rean.
"Hehehe, sorry bro. Bercanda," Rean tersenyum nyengir sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya hingga membentuk huruf V. Dandi mencebikkan bibir sambil menatap ke arah Rean. "Lalu, apa yang mau lo lakuin?" tanya Rean.
"Gue mau mereka memutuskan pertunangan itu dan membatalkan rencana pernikahan."
"Eh, harus begitu?"
"Haruslah! Mana ada orang yang mau melihat keluarganya menderita dan disakiti nantinya."
"Tapi, lo beneran yakin dengan apa yang lo lihat? Dia beneran calon suami kakak lo?"
"Iya. Gue yakin banget. Sudah dua kali gue memergokinya masuk ke tempat seperti itu. Dan, dengan perempuan yang sama."
Rean tampak mengangguk-anggukkan kepala. "Lalu, apa rencana lo?"
"Gue mau lo bantu gue untuk membongkar kebusukan calon suami kakak gue."
"Caranya?"
"Nanti gue kasih tahu. Tapi, lebih baik kita urus si perempuan itu dulu. Dan, untuk itu gue butuh bantuan lo. Lebih tepatnya, gue minta bantuan ke kakak ipar lo. Gue minta tolong lo bantu ngomong ke kakak ipar lo."
"Eh, kak Cello?"