The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 71



Keesokan pagi, papi Hendra dan Rean sarapan bersama. Hari itu, papi memang sengaja pulang ke rumahnya yang ada di Jakarta, karena siang ini dia ada rapat dengan pengurus rumah sakit.


Selama sarapan, papi Hendra dan Rean sesekali mengobrol tentang hal-hal ringan. Saat itu, adalah kali pertama keduanya mengobrol lama setelah biasanya mereka hanya mengobrol singkat saja.


"Jadi, bagaimana keadaan distro kamu, Re?" tanya papi Hendra sambil mengunyah sarapannya.


"Alhamdulillah baik, Pi. Proses pengerjaannya juga tinggal finishing."


"Ada yang mengawasi?"


"Ada, Pi. Aku memang mempercayakan distro yang di Surabaya kepada teman sekaligus tetangga kami dulu."


Papi Dena mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, mereka kembali melanjutkan sarapan dengan obrolan ringan.


Setelah selesai sarapan, papi Hendra mengajak Rean ke teras samping. Saat itu, masih pukul delapan pagi. Papi Hendra harus berangkat ke rumah sakit pukul sepuluh pagi.


"Duduklah, Re. Papi akan menceritakan sesuatu," ucap papi Hendra sambil menepuk-nepuk kursi yang ada di sampingnya.


Rean menurut dan segera mendudukkan diri di samping papi Hendra. Keheningan masih menjeda sesaat sebelum papi Hendra membuka suara.


"Apa ada yang ingin kamu tanyakan, Re?" Papi Hendra menoleh sebentar ke arah Rean.


Rean memberanikan diri menatap ke arah papi Hendra. Dia mengangguk mengiyakan.


"Iya, Pi. Ehm, a-aku ingin tahu apa alasan papi menjodohkanku dengan Dena. Ehm apa ini terkait dengan peristiwa kecelakaan yang melibatkan mami dan mama dulu?" Rean memberanikan diri bertanya. 


Papi Hendra mengangguk-anggukkan kepala sekilas. "Rupanya, papa kamu sudah menceritakan bagian itu, ya?"


"Iya, Pi."


"Kamu mau dengar cerita keluarga papi dan mami?" Papi Hendra menatap wajah Rean lekat-lekat.


Rean menganggukkan kepala. Setelah itu, papi Hendra mulai menceritakan kisah keluarganya.


"Usia mereka terpaut empat tahun, lebih tua mbak Mela. Awalnya, mbak Mela dan mami mendapatkan kasih sayang yang sama. Namun, hal itu berubah sejak mbak Mela keguguran. Naasnya, mami dituduh mencelakai kakaknya tersebut."


"Sejak saat itu, perlakuan keluarga Sudrajad kepada mami berubah. Mereka sangat kasar dan selalu memaksakan kehendak kepada mami. Dan, lebih parahnya lagi, mbak Mela tidak mempunyai anak setelah peristiwa tersebut."


"Nenek Ningrum sudah membuat rencana perjodohan cucunya yang bahkan belum lahir, dengan seorang cucu dari keluarga ningrat di Solo. Mereka tidak menyangka kejadiannya akan berakhir seperti itu."


"Awalnya, mami tidak mengetahui apa-apa dengan rencana perjodohan tersebut. Namun, begitu mengetahui mami mengandung bayi perempuan, nenek langsung menyampaikan keinginannya untuk menjodohkan Mayang sebagai ganti dari anaknya mbak Mela yang tidak sempat lahir."


"Sejak saat itu, kami selalu dihantui kekhawatiran. Bukan karena apa-apa, Re. Kami hanya tidak mau putri kami satu-satunya harus hidup terkekang. Kami selalu berusaha untuk mengerti dan mendukung cita-cita Mayang. Kami ingin melihat Mayang bisa hidup mandiri tanpa adanya tekanan dari keluarga neneknya."


"Kamu mungkin sudah tahu jika kami juga awalnya menolak rencana perjodohan yang ditawarkan papa kamu, bahkan waktu itu usia kamu masih sekitar delapan atau sembilan tahun. Namun, sekitar satu tahun ini, nenek Ningrum benar-benar menekan mami. Kami memutuskan satu-satunya cara adalah segera menikahkan Mayang."


"Kendala yang kami hadapi adalah, Mayang tidak pernah mengenalkan seorang laki-laki pun kepada kami. Kami pun bingung harus melakukan apa. Hingga, kami teringat dengan papa kamu. Dan, selanjutnya, kamu sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi."


Papi Hendra menatap ke arah Rean yang masih terlihat mencerna ceritanya. Papi mengusap-usap bahu Rean dengan lembut.


"Papi minta maaf jika mengecewakan kamu, Re. Papi hanya berusaha membuat agar hidup putri papi tidak menderita kedepannya. Papi benar-benar sangat mempercayaimu. Sekali lagi, maafkan papi, Re."


Papi Hendra terlihat menundukkan kepala. Dia khawatir membuat menantunya kecewa karena telah membuatnya menikah dengan Dena. 


Rean yang melihat reaksi papi Hendra, langsung memeluk tubuh laki-laki paruh baya tersebut.


"Papi ini ngomong apa? Aku sama sekali tidak menyesal sudah menikah dengan Dena. Bahkan, aku sangat bersyukur bisa menikah dengannya," ucap Rean sambil masih memeluk sang mertua.


Mendengar jawaban Rean, papi Hendra merasa sangat lega. "Terima kasih, Re. Terima kasih banyak."


Keduanya larut dalam haru. Rean berusaha menerima apapun alasan perjodohannya tersebut. Hingga keduanya dikejutkan oleh sebuah suara.


"Ternyata benar kamu sudah kembali ke Jakarta, Re?"


"Eh?"