
"Hhhaaahh? Lalu, bagaimana kalian bisa menikah, Mom?" Tanya Cello penasaran.
"Tidak sengaja." Jawab mommy Fara sambil tersenyum ke arah sang putra.
Cello mengerutkan keningnya bingung setelah mendengar jawaban sang mommy. Entah apa maksudnya mommy dan daddynya menikah karena ketidaksengajaan. Mommy Fara yang menyadari jika sang putra tengah bingung pun langsung tersenyum dan mengusap bahunya.
"Jangan bingung begitu, ih. Mommy akan ceritakan perjalanan hidup mommy sampai bisa menikah dengan daddy kamu."
Cello hanya bisa mengangguk mengiyakan perkataan sang mommy. Setelahnya, mommy Fara mulai menceritakan kehidupannya. Awal mula dia mengenal keluarga daddy El hingga ketidaksengajaan lamaran El.
Awalnya, Cello benar-benar terkejut mendengar cerita sang mommy. Dia masih belum bisa berpikir bagaimana bisa dua orang yang sama sekali tidak memiliki perasaan apapun bisa menjadi sebucin orang tuanya. Cello benar-benar tidak mengerti. Melihat sang putra tengah bingung, mommy Fara kembali menjelaskan.
"Sayang, awalnya mommy dan daddy juga tidak menyangka jika kami bisa sampai menikah dan bisa saling mengisi. Kami awalnya juga sempat ragu bagaimana caranya membuat kami saling menerima, saling mengisi dan saling mencintai."
"Kami sadar jika pernikahan kami tidak seperti pernikahan-pernikahan pada umumnya yang diawali dengan pacaran, pendekatan, atau hal-hal lain yang sejenis. Namun, satu hal yang kami yakini saat itu adalah, kami harus benar-benar berdamai dengan hati kami masing-masing dulu. Kami harus belajar menerima kehadiran masing-masing dan belajar menerima pernikahan ini."
"Sayang, pernikahan itu bukan sesuatu yang bisa kita jadian mainan. Pernikahan juga bukan ajang lomba siapa yang cepat atau siapa yang paling lama usia pernikahannya adalah pemenangnya, buka seperti itu. Pernikahan adalah sebuah janji seumur hidup. Janji kepada diri sendiri, kepada pasangan, kepada keluarga, bahkan janji kepada agama. Pernikahan adalah sebuah kesungguhan yang memerlukan tanggung jawab besar di kemudian hari."
"Kami sadar, jika usia kalian masih sangat muda. Sebenarnya, kami berat melakukan ini disaat usia kalian masih sangat muda. Namun, kamu tahu sendiri alasannya mengapa kami melakukan ini, kan?"
Cello mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan sang mommy. Dia juga bisa memahami hal itu dan juga menerimanya.
Ternyata, obrolan yang dilakukan mommy Fara dan juga Cello tersebut didengar oleh daddy El yang tengah berdiri di dekat pintu kamar Cello yang tidak ditutup dengan sempurna. Dia menunggu beberapa saat kemudian sebelum masuk ke dalam kamar sang putra.
Setelah yakin jika obrolan istri dan putranya masuk ke hal-hal ringan, daddy El memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.
Hal selanjutnya yang dilakukan daddy El adalah menarik tubuh mommy Fara hingga kini berada di dalam dekapannya. Dia memeluk sang istri dengan sangat posesif. Bahkan, seolah ingin bersaing dengan sang putra untuk mendapatkan perhatian mommy Fara.
Cello yang melihat hal itu hanya bisa mendengus kesal. Dia menatap tajam ke arah sang daddy.
"Daddy apaan sih. Jika mau ngebucin sana di dalam kamar. Jangan disini, buat mataku ternodai saja." Gerutu Cello.
"Biarin. Biar kamu iri. Kamu iri kan jika setiap hari daddy ada yang nemenin tidur dan kasih vitamin komplit." Kata daddy El. Sementara Cello hanya bisa mendengus kesal.
Mommy Fara yang merasa risih pun berusaha melepaskan capitan kedua lengan sang suami.
"Mas, lepasin ih. Ini ngapain peluk-peluk disini. Gerah ini, Mas. Mana kamu belum bersih-bersih lagi." Gerutu mommy Fara.
"Mandiin, Yang." Kata daddy El sambil melepaskan pelukannya.
Seketika mommy Fara menoleh dan menatap tajam ke arah sang suami.
"Idiihhhh, ogah."
\=\=\=\=\=
Jangan lupa klik like, komen dan vote ya. Biar semangat crazy up nya.